KISAH KYAI MA'SHOEM LASEM
Kyai Kholil (Bangkalan, Madura) mengatakan pada santrinya : “Tolong buatkan saya kurungan Ayam Jago, sebab besok akan ada Jagoan dari tanah Jawa yang datang kesini. ” Lalu esoknya, datanglah seorang pemuda bernama Muhammadun (nama almarhum Mbah Ma’shoem di kala muda) dari tanah Jawa. Oleh Kyai Kholil, pemuda itu disuruh masuk kedalam kurungan Ayam Jago itu. Dengan penuh pasrah dan ketundukan terhadap gurunya, pemuda itu pun masuk dan duduk berjongkok kedalam kurungan Ayam Jago tadi. Kyai Kholil lalu berkata pada seluruh santri beliau : “Inilah yang kumaksudkan sebagai Ayam Jago dari tanah Jawa, yang kelak akan menjadi Jagoan Tanah Jawa. ” Itulah secuil cerita nyata yang penulis kutip dari sinopsis buku Manaqib Mbah Ma’shoem Lasem. Mbah Ma’shoem diperkirakan lahir pada th. 1868. Beliau yaitu anak bungsu pasangan Ahmad dan Qosimah. Oleh orangtuanya ia lalu diserahkan pada Kiai Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama, karena sejak kecil dia sudah ditinggal wafat oleh ibunya. Dari Kiai Nawawi dia memperoleh pelajaran dasar ilmu alat (nahwu) yang diambil dari kitab Jurumiyyah dan Imrithi. Suatu saat, di Semarang, dia tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Saat di Bojonegoro, dia tidak hanya bermimpi, tetapi, pada tertidur serta terjaga, dia bertemu dengan Nabi, yang memberikan ungkapan La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, yang berarti “Tidak ada kebaikan (yang lebih utama) daripada menyebarkan ilmu”. Bahkan, ketika ada di rumahnya sendiri, dia bermimpi kembali. Dalam mimpinya, ia bersalaman dengan Nabi Muhammad SAW, yang berpesan : “Mengajarlah, segala kebutuhanmu insyaAllah akan dipenuhi semuanya oleh Allah. ” Di kemudian hari, Mbah Ma’shoem jadi ulama besar yang dikenal memiliki banyak karamah. Ini salah satu kisah karomahnya : Satu hari, datang sembilan orang tamu ke Lasem. Mereka ingin berjumpa dengan Mbah Ma’shum. Tetapi, karena tuan rumah sedang tidur, Ahmad, seorang santrinya, menawarkan apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan. Ternyata mereka menolak. Lalu mereka semua, yang tadinya sudah duduk melingkar di ruang tamu, berdiri sambil membaca shalawat, kemudian berpamitan. “Apa perlu Mbah Ma’shoem dibangunkan?, ” tanya Ahmad sekali lagi. “Tidak usah, ” tutur mereka serempak lalu pergi. Rupanya saat itu Mbah Ma’shoem mendusin dan bertanya pada Ahmad perihal apa yang baru saja terjadi. Setelah mendapat penjelasan, Mbah Ma’shoem lekas meminta kepada Ahmad supaya mengejar tamu-tamunya. Tapi apa daya, mereka sudah menghilang, padahal mereka diperkirakan baru sekitar 50 mtr. dari rumah Mbah Ma’shoem. Saat Ahmad akan melaporkan hal tersebut, Mbah Ma’shoem, yang sudah bangun tapi masih dalam posisi tiduran, mengatakan bahwa tamu-tamunya itu adalah Walisanga dan yang berbicara tadi adalah Sunan Ampel. Setelah mengucapkan kalimat itu, Mbah Ma’shum tertidur pulas lagi. Subhanallah… Inilah bagian dari kisah karomah betapa kyai Ma’shoem mempunyai ketinggian kedudukan spiritualnya. Selain ini, masih terdapat banyak karomah yang terjadi dalam hidup beliau. Akhirnya, pembaca Media Ikhram, semoga dengan kisah ini dapat bermanfaat dan mengambil pelajaran dari karomah almarhum Kyai Ma’shoem. Wallahu a’lam bisshawab… Sumber : Sayyid Chaidar, Manaqib Mbah Ma’shoem Lasem, (Yogyakarta : Menara Kudus, 1013) serta Majalah Al-Kisah No. 26/Th. VII
TUNTUNAN
Sabtu, 05 November 2016
RASA CINTA DALAM DIRI
RASA CINTA DALAM DIRI
Rasa cinta di dalam diri adalah sebuah anugerah yang di berikan sang kholiq kepada hambanya. Cinta kepada anak,istri,harta benda dan pangkat adalah sebuah keindahan yang ada di dunia ini, apabila manusia bisa meletakkan perhiasan-perhiasan [dunia seisinya] tepat pada porsinya maka semua perhiasan itu akan memberi cahaya bagi kehidupan. Sebaliknya bila penempatannya bukan pada porsinya, maka semua perhiasan itu sewaktu-waktu membawa bencana dan kehancuran.
Fiman-NYA : “ Dijadikan indah pada [pandangan] manusia KECINTAAN kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,perak,kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah semua PERHIASAN DUNIA, dan di sisi Allah-lah tempat kembali terbaik.” [ QS.Ali imran [3] : 14 ].
Dalam meletakkan cinta diperlukan kecerdasan ruhani, mereka yang memiliki kecerdasan ruhani memiliki prinsip yang menampilkan sosok dirinya sebagai insan yang berakhlaq, mereka tahu bagaimana meletakkan cinta. Para ahli TASAWUF yaitu ahli sufi [Arif-Billah] berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah dengan lugas mengatakan, “ Mencintai pemilik dan pemberi hiasan jauh lebih mulia dan jauh lebih berharga dibanding mencintai sekedar hiasan saja “. Ungkapan tersebut berlandaskan Firman Allah Swt :
“ Katakanlah olehmu [Hai Muhammad] : Hiasan dunia ini hanya sebentar [terlalu sedikit] dan [perhiasan Akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa “. [qs.An-Nisa’ [4] : 77 ]
Alkisah,seorang sufi dari PERSIA yang bernama Abu bakar bin Dulaf ibnu juhdar Asy-Syibly. Nama asy-syibli di nisbatkan kepadanya karena ia dibesarkan di kota Syibli di wilayah Khurasan, Persia. Beliau di lahirkan pada Tahun 247 H. Di Baghdad atau Samarra dari keluarga yang cukup terhormat. karena kepandaian dan kedalaman ilmunya membuat karirnya menanjak pesat, ia menduduki beberapa jabatan
Penting selama bertahun – tahun. Antara lain : menjabat sebagai Gubernur di Provinsi Dermaven. Bersama dengan seorang pejabat baru, Abu bakar Asy-Syibly di lantik oleh Kholifah dan secara resmi dikenakan seperangkat jubah pada dirinya. Setelah pulang, ditengah jalan pejabat baru itu bersin dan batuk –batuk seraya mengusapkan jubah baru itu kehidung dan mulutnya. Perbuatan pejabat tersebut dilaporkan kepada Kholifah. Dan Kholifahpun memecat langsung dan menghukumnya. Asy-Syibly pun terheran-heran, mengapa hanya karena jubah seseorang bisa di berhentikan dari jabatannya dan dihukum. Tak ayal, peristiwa ini membuatnya merenung selama berhari-hari. Ia kemudian menghadap Kholifah dan berkata :
“ Wahai Kholifah, Engkau sebagai manusia tidak suka bila jubah jabatan di perlakukan secara tidak wajar. Semua orang mengetahui betapa tinggi nilai jubah itu. Sang MahaRaja alam semesta telah menganugerahkan jubah kepadaku di samping CINTA dan PENGETAHUAN. Bagaimana DIA akan suka kepadaku jika aku menggunakannya sebagai sapu tangan dalam pengabdianku pada manusia ? “.
Sejak saat itu Abu bakar asy syibly meninggalkan karir dan jabatannya, dan ia ingin bertaubat. Dalam perjalan membersihkan hatinya ia bertemu dengan seorang ulama sufi yang bernama Junaid Al Baghdadi,
asy syibly berkata : “ ENGKAU DIKATAKAN SEBAGAI PENJUAL MUTIARA, MAKA BERILAH AKU SATU ATAU JUALLAH KEPADAKU SEBUTIR “.
Maka Junaid Al Baghdadi pun menjawab, “ JIKA KUJUAL KEPADAMU, ENGKAU TIDAK SANGGUP MEMBELINYA. JIKA KUBERIKAN KEPADAMU SECARA CUMA-CUMA, KARENA BEGITU MUDAH MENDAPATKANNYA ENGKAU TIDAK MENYADARI BETAPA TINGGI NILAINYA. LAKUKANLAH APA YANG AKU LAKUKAN, BENAMKANLAH DULU KEPALAMU DI LAUTAN, APABILA ENGKAU DAPAT MENUNGGU DENGAN SABAR, NISCAYA KAMU AKAN MENDAPAT MUTIARAMU SENDIRI. “
Lalu Asy-syibli berkata, “ lalu apa yang harus kulakukan sekarang ? ” ,
Imam Junaid Berkata : hendaklah engkau berjualan belerang selama setahun [ untuk mengetahui nilai diri ] dan Mengemislah lalu sedekahkan uangnya selama setahun [ untuk membersihkan keangkuhan diri ] .“
Beberapa tahun telah berlalu dalam menjalani perintah sang Guru meskipun penuh dengan beribu-ribu kesulitan tapi ia jalani dengan penuh cinta [ikhlash] . akhirnya abu bakar asy-syibli menemukan mutiara di dalam dirinya. sehingga ia mengalami RASA CINTA yang teramat dalam di lubuk hatinya [ rindu kepada Allah ]. Suatu ketika disaksikan banyak orang, beliau berlari sambil membawa obor. Hendak kemana engkau wahai asy-syibli? , aku hendak membakar ka’bah, sehingga orang-orang dapat mengabdi kepada yang memiliki ka’bah dan akan aku BAKAR SURGA DAN NERAKA,sehingga manusia benar-benar ibadah hanya kepada Allah Swt [bukan yang lain-NYA]. Dalam keadaan MABUK CINTA yang dalam kepada Allah, ia selalu menyebut asma Alaah dan disetiap tempat yang ia temui, ia menuliskan lafadz Allah. Tiba-tiba sebuah suara berkata kepadanya,” Sampai kapan engkau akan terus berkutat dengan nama itu? Jika engkau merupakan pencari sejati, carilah pemiliknya! “
Kata-kata itu begitu menyentak Asy-sybly, sehingga tak ada lagi ketenangan dan kedamaian yang ia rasakan. Betapa kuatnya RASA CINTA yang menguasainya hingga ia menceburkan dirinya ke sungai Tigris dan akhirnya gelombang sungai membawanya kembali ketepi. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya kedalam api, namun api tersebut kehilangan daya untuk membakar. Sehingga tubuhnya utuh tak terbakar sedikitpun. Lalu ia mencari tempat dimana sekelompok singa berkumpul lalu ia berdiam diri supaya dimangsa oleh singa tersebut, tapi singa-singa itu malah berlari tunggang langgang menjahui dirinya. Kemudian tanpa ada rasa takut sedikitpun ia terjun bebas dari puncak gunung, namun angin mencengkeram dan menurunkannya ketanah dengan selamat. Kegelisahannya semakain memuncak beribu-ribu kali lipat, sehingga ia berteriak,” terkutuklahia, yang tidak di terima oleh air maupun api, yang ditolak oleh binatang buas dan pegunungan! “ lalu terdengar sebuah suara. “ Ia yang diterima oleh Allah, tidak di terima oleh yang lain [makhluk-NYA].
Syeikh Al-ghozali menuliskan dalam kitabnya “ Raudhah al-Tholibin wa Umdah al-Salikin “ bahwa Al – Wushul adalh tersibaknya keindahan Al Haq kepada hamba,sehingga membuatnya luruh di dalamNYA. Jika dia melihat pengetahuan yang di milikinya, yang tampak hanyalah Allah swt, dan dia melihat ‘Himmah’ [keinginan kuat]nya,tidak ada Himmah selainNYA. Maka secara totalitas dia sibuk dengan kesaksian [ al-Musyahadah] dan keinginan kuat [Himmah]. Dan sama sekali tidak pernah berpaling dari keduanya, sampai-sampai dia tidak memiliki kesempatan untuk membenahi lahiriyahnya dalam bentuk-bentuk ibadah atau tidak sempat melihat batinnya. Baginya segala sesuatu yang di kerjakannya tampak suci. Sebagian kaum sufi mengatakan :
“ Sesungguhnya batas akhirku adalah dengan melihatNYA,sekalipun aksis [posisi]-NYA kian lama kian jauh dari aksis-ku.
Dalam hal ini Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an, firmanNYA :
“ Katakanlah: “ jika kamu[benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku. niscayaAllah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” [ qs.Ali imran [3] : 31 ].
Imam Qusyairi mengatakan bahwa Mahabbah [cinta] adalah nikmat yang berupa kecintaan Allah kepada hambaNYA yang DIA kehendaki secara khusus. Apabila nikmat tersebut untuk semua hambaNYA secara umum maka di namakan rahmat.
GAMBARAN CINTA AHLI MAHABBAH
Raja Andalusia, Al-Hikam bin Hisyam bin Abdurrahman Ad-Dakhil, bersyair : karena cinta……. Ia menjadi hamba, padahal sebelumnya ia adalah raja. Kegirangan istana tiada lagi menyertai. Ia dipuncak gunung menyendiri sendiri pipi tertempel di tanah berdebu. Seakan bantal-bantal sutra untuk bertumpu. Begitulah kehinaan menimpa orang merdeka. Jika cinta melanda, ia laksana hamba sahaya.
Junaid al-baghdadi, mengartikan kata yang bernilai sufistik ini dengan masuknya sifat-sifat Zat yang di cintai mengganti apa yang ada di dalam jiwa sang pencinta, mendorong seorang pencinta untuk tidak mengingat selain Zat tersebut serta melupakan dan mencampakkan secara total sifat-sifat yang dulunya melekat pada dirinya.
Ibnu Arabi dalam puisi-puisi pemandu rindu mengisahkan manakala jiwa berpisah dengan raga, ia selalu bernostalgia dan rindu pada perpaduan itu, meskipun pada hakekatnya mereka berdua, namun tampak sebagai satu pribadi. Kerinduan itu tidak lain karena jiwa memperoleh pengetahuan dan apa saja yang ada dalam kehidupan melalui raga. Namun,karena sifat jiwa yang halus,lembut dan bersifat cahaya, maka tidak dapat di lihat oleh mata. Bila tidak karena rintihan raga, maka takkan pernah terasa kesaksian jiwa. Inilah gambaran jiwa ataupun keadaan hati.
Syeikh Ibnu Atho’illah bermunajat, “ Ya illahi, alam benda ini telah mendorong aku untuk pergi kepada-MU dan pengetahuanku terhadap kemurahan-MU itulah yang memberhentikan aku untuk berdiri di depan pintu-MU.
Rabi’ah al-adawiyah seorang sufi dari Bashrah ketika berziarah kemakam Rosulullah saw pernah mengatakan Maafkan aku ya Rosul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang
Lain,karena telah penuh cintaku hanya kepada Allah swt .“ tentang cinta itu sendiri Rabi’ah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal yang di cintainya [ bukan berarti Rabi’ah tidak cinta kepada Rosul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalh bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasulullah ].
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Saiyidina Husain [cucu Rosulullah saw] bertanya kepada ayahnya [saiyidina Ali], “ apakah engkau mencintai Allah ? Ali menjawab, “ ya”. Lalu Husain bertanya lagi, “apakah engkau mencintai kakek dari ibu?” Ali menjawab kembali,”ya”. Husain bertanya lagi, “ apakah engakau mencintai aku dan ibuku? Ali menjawab “ya”. Terakhir, Husain yang polos itu bertanya,” Ayahku,bagaimana Engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” kemudian saiyidina Ali menjelaskan,”Anakku, pertanyaanmu hebat sekali! Cintaku pada kakek dari ibumu, ibumu dan kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya Husain jadi tersenyum ngerti.
Rumusan cinta Rabi’ah termaktub dalam do’anya, “ Ya Allah, jika aku menyembah-MU karena takut neraka maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu berharap surga, maka campakkanlah aku dari sana, tapi jika aku menyembah- MU karena Engkau semata, maka janganlah Engkau sembunyikan keindahan-MU yang abadi. “ dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman :
“ Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah swt.[ hatinya tertutup untuk mencintai selain-NYA].” [qs. Al baqarah [2] : 165 ]
Demikianlah sekelumit sejarah para pecinta Allah swt yang perjalanannya begitu menyayat jiwa, penuh onak dan duri dalam setiap langkahnya tapi tidak menyurutkan keinginan besarnya untuk bertemu dengan-NYA. para KEKASIH ALLAH SWT jiwanya terjaga dari hal-hal yang dapat menyeret keimanannya, dengan ilmu pengetahuannya yang merasuk di dalam dada mengkristal bagaikan batu karang. Para KEKASIH Allah musuhnya tak terkira banyaknya dan sahabatnya hanya sedikit. Itulah SUNNATULLAH.
Cepat susul barisan mereka mumpung masih ada kesempatan, renungkanlah firman Allah swt di bawah ini :
“ katakanlah : jika bapak –bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan RosulNYA dari jihad di jalan NYA [ mencari keridhoan-NYA]. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNYA. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. “ [ qs. At-Taubah [9] : 24 ].
“ katakanlah : “ jika bapak-bapakmu, anak-anakmu,saudara-saudaramu ,istri-istri kaum keluargamu , harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rosul-NYA dari jihad di jalan-NYA [mencari keridhoan-NYA]. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-NYA. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. “ [qs. At-Taubah [9] : 24].
Rasa cinta di dalam diri adalah sebuah anugerah yang di berikan sang kholiq kepada hambanya. Cinta kepada anak,istri,harta benda dan pangkat adalah sebuah keindahan yang ada di dunia ini, apabila manusia bisa meletakkan perhiasan-perhiasan [dunia seisinya] tepat pada porsinya maka semua perhiasan itu akan memberi cahaya bagi kehidupan. Sebaliknya bila penempatannya bukan pada porsinya, maka semua perhiasan itu sewaktu-waktu membawa bencana dan kehancuran.
Fiman-NYA : “ Dijadikan indah pada [pandangan] manusia KECINTAAN kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,perak,kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah semua PERHIASAN DUNIA, dan di sisi Allah-lah tempat kembali terbaik.” [ QS.Ali imran [3] : 14 ].
Dalam meletakkan cinta diperlukan kecerdasan ruhani, mereka yang memiliki kecerdasan ruhani memiliki prinsip yang menampilkan sosok dirinya sebagai insan yang berakhlaq, mereka tahu bagaimana meletakkan cinta. Para ahli TASAWUF yaitu ahli sufi [Arif-Billah] berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah dengan lugas mengatakan, “ Mencintai pemilik dan pemberi hiasan jauh lebih mulia dan jauh lebih berharga dibanding mencintai sekedar hiasan saja “. Ungkapan tersebut berlandaskan Firman Allah Swt :
قل متا ع الد نيا قليل والا خرة خير لمن اتقى ولا تظممو ن فتيلا انساء
“ Katakanlah olehmu [Hai Muhammad] : Hiasan dunia ini hanya sebentar [terlalu sedikit] dan [perhiasan Akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa “. [qs.An-Nisa’ [4] : 77 ]
Alkisah,seorang sufi dari PERSIA yang bernama Abu bakar bin Dulaf ibnu juhdar Asy-Syibly. Nama asy-syibli di nisbatkan kepadanya karena ia dibesarkan di kota Syibli di wilayah Khurasan, Persia. Beliau di lahirkan pada Tahun 247 H. Di Baghdad atau Samarra dari keluarga yang cukup terhormat. karena kepandaian dan kedalaman ilmunya membuat karirnya menanjak pesat, ia menduduki beberapa jabatan
Penting selama bertahun – tahun. Antara lain : menjabat sebagai Gubernur di Provinsi Dermaven. Bersama dengan seorang pejabat baru, Abu bakar Asy-Syibly di lantik oleh Kholifah dan secara resmi dikenakan seperangkat jubah pada dirinya. Setelah pulang, ditengah jalan pejabat baru itu bersin dan batuk –batuk seraya mengusapkan jubah baru itu kehidung dan mulutnya. Perbuatan pejabat tersebut dilaporkan kepada Kholifah. Dan Kholifahpun memecat langsung dan menghukumnya. Asy-Syibly pun terheran-heran, mengapa hanya karena jubah seseorang bisa di berhentikan dari jabatannya dan dihukum. Tak ayal, peristiwa ini membuatnya merenung selama berhari-hari. Ia kemudian menghadap Kholifah dan berkata :
“ Wahai Kholifah, Engkau sebagai manusia tidak suka bila jubah jabatan di perlakukan secara tidak wajar. Semua orang mengetahui betapa tinggi nilai jubah itu. Sang MahaRaja alam semesta telah menganugerahkan jubah kepadaku di samping CINTA dan PENGETAHUAN. Bagaimana DIA akan suka kepadaku jika aku menggunakannya sebagai sapu tangan dalam pengabdianku pada manusia ? “.
Sejak saat itu Abu bakar asy syibly meninggalkan karir dan jabatannya, dan ia ingin bertaubat. Dalam perjalan membersihkan hatinya ia bertemu dengan seorang ulama sufi yang bernama Junaid Al Baghdadi,
asy syibly berkata : “ ENGKAU DIKATAKAN SEBAGAI PENJUAL MUTIARA, MAKA BERILAH AKU SATU ATAU JUALLAH KEPADAKU SEBUTIR “.
Maka Junaid Al Baghdadi pun menjawab, “ JIKA KUJUAL KEPADAMU, ENGKAU TIDAK SANGGUP MEMBELINYA. JIKA KUBERIKAN KEPADAMU SECARA CUMA-CUMA, KARENA BEGITU MUDAH MENDAPATKANNYA ENGKAU TIDAK MENYADARI BETAPA TINGGI NILAINYA. LAKUKANLAH APA YANG AKU LAKUKAN, BENAMKANLAH DULU KEPALAMU DI LAUTAN, APABILA ENGKAU DAPAT MENUNGGU DENGAN SABAR, NISCAYA KAMU AKAN MENDAPAT MUTIARAMU SENDIRI. “
Lalu Asy-syibli berkata, “ lalu apa yang harus kulakukan sekarang ? ” ,
Imam Junaid Berkata : hendaklah engkau berjualan belerang selama setahun [ untuk mengetahui nilai diri ] dan Mengemislah lalu sedekahkan uangnya selama setahun [ untuk membersihkan keangkuhan diri ] .“
Beberapa tahun telah berlalu dalam menjalani perintah sang Guru meskipun penuh dengan beribu-ribu kesulitan tapi ia jalani dengan penuh cinta [ikhlash] . akhirnya abu bakar asy-syibli menemukan mutiara di dalam dirinya. sehingga ia mengalami RASA CINTA yang teramat dalam di lubuk hatinya [ rindu kepada Allah ]. Suatu ketika disaksikan banyak orang, beliau berlari sambil membawa obor. Hendak kemana engkau wahai asy-syibli? , aku hendak membakar ka’bah, sehingga orang-orang dapat mengabdi kepada yang memiliki ka’bah dan akan aku BAKAR SURGA DAN NERAKA,sehingga manusia benar-benar ibadah hanya kepada Allah Swt [bukan yang lain-NYA]. Dalam keadaan MABUK CINTA yang dalam kepada Allah, ia selalu menyebut asma Alaah dan disetiap tempat yang ia temui, ia menuliskan lafadz Allah. Tiba-tiba sebuah suara berkata kepadanya,” Sampai kapan engkau akan terus berkutat dengan nama itu? Jika engkau merupakan pencari sejati, carilah pemiliknya! “
Kata-kata itu begitu menyentak Asy-sybly, sehingga tak ada lagi ketenangan dan kedamaian yang ia rasakan. Betapa kuatnya RASA CINTA yang menguasainya hingga ia menceburkan dirinya ke sungai Tigris dan akhirnya gelombang sungai membawanya kembali ketepi. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya kedalam api, namun api tersebut kehilangan daya untuk membakar. Sehingga tubuhnya utuh tak terbakar sedikitpun. Lalu ia mencari tempat dimana sekelompok singa berkumpul lalu ia berdiam diri supaya dimangsa oleh singa tersebut, tapi singa-singa itu malah berlari tunggang langgang menjahui dirinya. Kemudian tanpa ada rasa takut sedikitpun ia terjun bebas dari puncak gunung, namun angin mencengkeram dan menurunkannya ketanah dengan selamat. Kegelisahannya semakain memuncak beribu-ribu kali lipat, sehingga ia berteriak,” terkutuklahia, yang tidak di terima oleh air maupun api, yang ditolak oleh binatang buas dan pegunungan! “ lalu terdengar sebuah suara. “ Ia yang diterima oleh Allah, tidak di terima oleh yang lain [makhluk-NYA].
Syeikh Al-ghozali menuliskan dalam kitabnya “ Raudhah al-Tholibin wa Umdah al-Salikin “ bahwa Al – Wushul adalh tersibaknya keindahan Al Haq kepada hamba,sehingga membuatnya luruh di dalamNYA. Jika dia melihat pengetahuan yang di milikinya, yang tampak hanyalah Allah swt, dan dia melihat ‘Himmah’ [keinginan kuat]nya,tidak ada Himmah selainNYA. Maka secara totalitas dia sibuk dengan kesaksian [ al-Musyahadah] dan keinginan kuat [Himmah]. Dan sama sekali tidak pernah berpaling dari keduanya, sampai-sampai dia tidak memiliki kesempatan untuk membenahi lahiriyahnya dalam bentuk-bentuk ibadah atau tidak sempat melihat batinnya. Baginya segala sesuatu yang di kerjakannya tampak suci. Sebagian kaum sufi mengatakan :
وان طر فى موصول برء يته وان تبا عد عن مثواى مثوا ه
“ Sesungguhnya batas akhirku adalah dengan melihatNYA,sekalipun aksis [posisi]-NYA kian lama kian jauh dari aksis-ku.
Dalam hal ini Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an, firmanNYA :
قل ان كنتم تحبو ن الله فاتبعو نى يحببكم الله ويغفرلكم د نو بكم والله غفو ررحيم العمران
“ Katakanlah: “ jika kamu[benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku. niscayaAllah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” [ qs.Ali imran [3] : 31 ].
Imam Qusyairi mengatakan bahwa Mahabbah [cinta] adalah nikmat yang berupa kecintaan Allah kepada hambaNYA yang DIA kehendaki secara khusus. Apabila nikmat tersebut untuk semua hambaNYA secara umum maka di namakan rahmat.
GAMBARAN CINTA AHLI MAHABBAH
Raja Andalusia, Al-Hikam bin Hisyam bin Abdurrahman Ad-Dakhil, bersyair : karena cinta……. Ia menjadi hamba, padahal sebelumnya ia adalah raja. Kegirangan istana tiada lagi menyertai. Ia dipuncak gunung menyendiri sendiri pipi tertempel di tanah berdebu. Seakan bantal-bantal sutra untuk bertumpu. Begitulah kehinaan menimpa orang merdeka. Jika cinta melanda, ia laksana hamba sahaya.
Junaid al-baghdadi, mengartikan kata yang bernilai sufistik ini dengan masuknya sifat-sifat Zat yang di cintai mengganti apa yang ada di dalam jiwa sang pencinta, mendorong seorang pencinta untuk tidak mengingat selain Zat tersebut serta melupakan dan mencampakkan secara total sifat-sifat yang dulunya melekat pada dirinya.
Ibnu Arabi dalam puisi-puisi pemandu rindu mengisahkan manakala jiwa berpisah dengan raga, ia selalu bernostalgia dan rindu pada perpaduan itu, meskipun pada hakekatnya mereka berdua, namun tampak sebagai satu pribadi. Kerinduan itu tidak lain karena jiwa memperoleh pengetahuan dan apa saja yang ada dalam kehidupan melalui raga. Namun,karena sifat jiwa yang halus,lembut dan bersifat cahaya, maka tidak dapat di lihat oleh mata. Bila tidak karena rintihan raga, maka takkan pernah terasa kesaksian jiwa. Inilah gambaran jiwa ataupun keadaan hati.
Syeikh Ibnu Atho’illah bermunajat, “ Ya illahi, alam benda ini telah mendorong aku untuk pergi kepada-MU dan pengetahuanku terhadap kemurahan-MU itulah yang memberhentikan aku untuk berdiri di depan pintu-MU.
Rabi’ah al-adawiyah seorang sufi dari Bashrah ketika berziarah kemakam Rosulullah saw pernah mengatakan Maafkan aku ya Rosul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang
Lain,karena telah penuh cintaku hanya kepada Allah swt .“ tentang cinta itu sendiri Rabi’ah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal yang di cintainya [ bukan berarti Rabi’ah tidak cinta kepada Rosul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalh bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasulullah ].
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Saiyidina Husain [cucu Rosulullah saw] bertanya kepada ayahnya [saiyidina Ali], “ apakah engkau mencintai Allah ? Ali menjawab, “ ya”. Lalu Husain bertanya lagi, “apakah engkau mencintai kakek dari ibu?” Ali menjawab kembali,”ya”. Husain bertanya lagi, “ apakah engakau mencintai aku dan ibuku? Ali menjawab “ya”. Terakhir, Husain yang polos itu bertanya,” Ayahku,bagaimana Engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” kemudian saiyidina Ali menjelaskan,”Anakku, pertanyaanmu hebat sekali! Cintaku pada kakek dari ibumu, ibumu dan kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya Husain jadi tersenyum ngerti.
Rumusan cinta Rabi’ah termaktub dalam do’anya, “ Ya Allah, jika aku menyembah-MU karena takut neraka maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu berharap surga, maka campakkanlah aku dari sana, tapi jika aku menyembah- MU karena Engkau semata, maka janganlah Engkau sembunyikan keindahan-MU yang abadi. “ dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman :
ومن الناس من يتخد من دو ن الله اندادا تحبو نهم كحب الله والدين امنو اشد حبا الله البقراه
Demikianlah sekelumit sejarah para pecinta Allah swt yang perjalanannya begitu menyayat jiwa, penuh onak dan duri dalam setiap langkahnya tapi tidak menyurutkan keinginan besarnya untuk bertemu dengan-NYA. para KEKASIH ALLAH SWT jiwanya terjaga dari hal-hal yang dapat menyeret keimanannya, dengan ilmu pengetahuannya yang merasuk di dalam dada mengkristal bagaikan batu karang. Para KEKASIH Allah musuhnya tak terkira banyaknya dan sahabatnya hanya sedikit. Itulah SUNNATULLAH.
Cepat susul barisan mereka mumpung masih ada kesempatan, renungkanlah firman Allah swt di bawah ini :
اليكم من الله ورسوله وجها د فى سبيله فتربصوا حتى ياء تي الله بامره والله لا يهدى القوم الفسقل ان كا ن ابااؤ كم وابنا ؤكم واخوا نكم وازوا جكم وعشيرتكم واموال اقتر فتموها وتجا رة تخشون كسا دها ومسكن ترضونها احب قين اتوبه
“ katakanlah : jika bapak –bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan RosulNYA dari jihad di jalan NYA [ mencari keridhoan-NYA]. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNYA. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. “ [ qs. At-Taubah [9] : 24 ].
“ katakanlah : “ jika bapak-bapakmu, anak-anakmu,saudara-saudaramu ,istri-istri kaum keluargamu , harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rosul-NYA dari jihad di jalan-NYA [mencari keridhoan-NYA]. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-NYA. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. “ [qs. At-Taubah [9] : 24].
PERISTIWA PADA HARI KIAMAT
Rangkaian Peristiwa Pada Hari Kiamat
Dari Abu Said al-Khudri bahwasanya pada suatu hari orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah dapatkah kita kelak di hari kiamat melihat Tuhan?' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ya. Apakah kalian terhalang melihat matahari di siang yang cerah, tanpa mendung? Apakah kalian terhalang melihat bulan pada malam purnama yang terang benderang, tanpa awan?" Para sahabat menjawab, "Tidak, ya Rasulullah." Nabi melanjutkan, "Sungguh, tidak terhalang melihat Allah ta'ala kelak di hari kiamat sebagaimana tidak terhalang melihat salah satu di antara keduanya.
Jika terjadi kiamat, ada seseorang yang menyeru, 'Hendaklah setiap umat mengikuti kepada siapa yang disembahnya. Sehingga tidak tersisa seorangpun yang menyembah selain Allah Ta'ala seperti para penyembah patung dan berhala melainkan berjatuhan ke dalam neraka. Sesudah itu, tidak tersisa lagi kecuali para penyembah Allah dari orang-orang baik dan orang-orang durhaka, dan sisa-sisa Ahli Kitab
Kemudian dipanggil orang-orang Yahudi dan ditanyakan, 'Apa yang kalian sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah Uzair anak Allah.' Maka dijawab, 'Kalian berdusta. Tidak pernah Allah menjadikan pendamping dan anak bagiNya. Maka apakah yang kalian inginkan?'
Mereka menjawab, 'Kami haus wahai Tuhan kami, maka berilah kami minum.' Kemudian diberikan isyarat kepada mereka dan dikatakan, 'Mengapa kalian tidak menuju ke sana?' Kemudian mereka digiring ke neraka, seolah-olah ia fatamorgana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka.
Kemudian dipanggil orang-orang Nashrani dan ditanyakan, 'Apa yang kalian sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah al-Masih anak Allah.' Maka dijawab, 'Kalian berdusta. Tidak pernah Allah menjadikan pendamping dan anak bagiNya.' Kemudian ditanyakan, 'Apakah yang kalian inginkan?' Mereka menjawab, 'Wahai Tuhan kami, kami haus, oleh karena itu berilah kami minum.' Kemudian diberikan isyarat kepada mereka dan dikatakan, 'Mengapa kalian tidak menuju ke sana? Kemudian mereka digiring menuju neraka Jahannam, seolah-olah ia fatamorgana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka.
Hingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allah Ta'ala, dari orang yang baik dan durhaka. Allah Rabb semesta alam mendatangi mereka dalam bentuk yang mereka kenal. Kemudian Allah bertanya, 'Apa yang kalian nantikan? Hendaknya setiap umat mengikuti apa yang disembah.'
Mereka menjawab, 'Ya Tuhan kami, kami telah memisahkan diri dari orang-orang ketika di dunia, kami tidak membutuhkan apa yang mereka kejar, kami pun tidak berteman dengan mereka.'
Kemudian Allah berfirman, 'Aku adalah Rabbmu.' Maka mereka berkata, 'Kami berlindung kepada Allah, kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun,' (2 atau 3 kali). Bahkan hampir-hampir di antara mereka ada yang terbalik mengucapkan.
Allah bertanya, 'Apakah antara kalian dan Rabbmu ada tanda yang kalian kenal?' Mereka menjawab, 'Ya.' Maka disingkapkannyalah as-Saaq (betis). Maka tidak ada yang tersisa dari orang-orang yang bersujud kepada Allah (orang mukmin) kecuali dizinkan bersujud kepadaNya. Dan tinggallah orang-orang yang bersujud karena riya’, maka dijadikan punggungnya oleh Allah satu tingkatan. Setiap kali akan bersujud, maka tersungkur. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka.
Dan Allah telah merubah bentuk dari bentuk yang pertama kali mereka lihat. Kemudian berfirman, 'Aku adalah Rabbmu.' Mereka menjawab, 'Engkau lah Tuhan kami.'
Kemudian jembatan dibentangkan di atas Jahannam, dan syafaat diberlakukan. Mereka berkata, 'Ya Allah, selamatkan, selamatkan'."
Ditanyakan kepada Rasulullah, "Apakah yang dimaksud jembatan itu?" Beliau 'alaihi wa sallam menjawab, "Titian licin yang menggelincirkan, padanya terpasang besi pengait yang bengkok, juga besi-besi runcing, seperti duri pohon Sa'dan.
Di antara orang-orang mukmin ada yang melewati titian itu dalam sekejap mata, cepat seperti kilat, atau angin yang bertiup atau burung yang melesat, atau kuda yang berlari kencang, atau secepat kendaraan. Di antara mereka ada yang selamat, ada yang luka dan terlempar, ada yang tertimbun di kedalaman jahannam.
Jika orang-orang mukmin telah melewati neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, tidaklah salah seorang di antara kamu yang benar-benar bersumpah kepada Allah kecuali meminta meneliti kebenaran dari sesama mukmin yang masih di dalam neraka kepada Allah pada hari kiamat. Mereka berkata, 'Wahai Tuhan kami, dulu mereka berpuasa, shalat dan haji bersama-sama kami!'
Kemudian dikatakan kepada mereka, 'Silahkan kalian mengeluarkan orang-orang yang kalian kenal!' Lantas tubuh mereka diharamkan tersentuh api neraka. Mereka dapat membebaskan sejumlah orang.
Ada pula yang tenggelam di dalam neraka sampai pertengahan betisnya, atau sampai lututnya, kemudian mereka berkata, 'Wahai Rabb kami, sudah tidak tersisa walau seorangpun yang engkau perintahkan untuk mengeluarkan darinya.' Allah berfirman, 'Kalau demikian, kembalilah. Dan siapa saja yang kalian dapati dalam hatinya kebaikan seberat dinar, maka keluarkanlah mereka.' Kemudian dikeluarkan sejumlah besar manusia.
Kemudian mereka berkata, 'Ya Rabb, sudah tidak ada lagi orang yang harus dikeluarkan sebagaimana yang Engkau perintahkan.'
Allah berfirman, 'Kalau demikian kembalilah. Dan siapa saja yang kalian dapati dalam hatinya kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah mereka.' Maka dikeluarkanlah sejumlah besar manusia dari neraka.
Kemudian mereka berkata, 'Ya Rabb, sudah tidak ada lagi orang yang harus dikeluarkan sebagaimana yang Engkau perintahkan.'
Allah berfirman, 'Kalau demikian kembalilah. Dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya kebajikan seberat zarrah, keluarkan mereka.'
Maka dikeluarkan dari mereka sejumlah besar manusia.
Mereka berkata, 'Ya Rabb, tidak tersisa lagi kebaikan di neraka."
Berkenaan dengan hal ini, Abu Said al-Khudri berkata, "Jika kalian tidak mempercayai hadits ini, bacalah sekiranya kalian mau ayat,artinya,
'Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar.' (An-Nisa’: 40).
Allah Ta'ala berfirman, 'Para Malaikat, Nabi dan orang-orang mukmin memberikan syafaat, dan yang tinggal adalah orang-orang yang paling dikasihi.' Kemudian Allah menggenggam satu genggaman neraka dan Allah mengeluarkan dari neraka itu orang-orang yang belum pernah berbuat kebaikan sedikitpun, mereka telah kembali menjadi arang, kemudian mereka ini lemparkan ke dalam sungai di tepi surga yang disebut dengan sungai kehidupan.
Mereka ini keluar dari neraka sebagaimana biji-bijian yang terbawa arus banjir. Tidakkah kalian sesekali melihatnya terserempet batu, atau pohon, pohon itu ke arah matahari terkadang menjadi putih atau hijau, dan yang condong ke arah bayangannya berwarna putih.
Mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, Seakan-akan engkau menggembala di wilayah pedusunan.' Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Orang-orang tadi keluar laksana mutiara yang di lehernya terdapat kalung, yang dikenali para penghuni surga. Mereka itulah orang-orang yang dibebaskan, Allah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa amalan yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang selama ini mereka berikan.
Allah berkata kepada mereka, 'Masuklah kalian ke surga, apa yang kalian lihat adalah milik kalian.' Mereka menjawab, 'Ya Rabb, Engkau memberikan kami kenikmatan yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun di alam raya ini.' Allah berfirman, 'Aku memiliki yang lebih afdhal dari pemberianKu itu.' Mereka bertanya, 'Wahai Tuhanku, Apakah yang lebih afdhal dari semua itu?' Allah Ta'ala menjawab, 'RidhaKu, setelah itu Aku tidak murka lagi' [1]
Dari Abu Said al-Khudri bahwasanya pada suatu hari orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah dapatkah kita kelak di hari kiamat melihat Tuhan?' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ya. Apakah kalian terhalang melihat matahari di siang yang cerah, tanpa mendung? Apakah kalian terhalang melihat bulan pada malam purnama yang terang benderang, tanpa awan?" Para sahabat menjawab, "Tidak, ya Rasulullah." Nabi melanjutkan, "Sungguh, tidak terhalang melihat Allah ta'ala kelak di hari kiamat sebagaimana tidak terhalang melihat salah satu di antara keduanya.
Jika terjadi kiamat, ada seseorang yang menyeru, 'Hendaklah setiap umat mengikuti kepada siapa yang disembahnya. Sehingga tidak tersisa seorangpun yang menyembah selain Allah Ta'ala seperti para penyembah patung dan berhala melainkan berjatuhan ke dalam neraka. Sesudah itu, tidak tersisa lagi kecuali para penyembah Allah dari orang-orang baik dan orang-orang durhaka, dan sisa-sisa Ahli Kitab
Kemudian dipanggil orang-orang Yahudi dan ditanyakan, 'Apa yang kalian sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah Uzair anak Allah.' Maka dijawab, 'Kalian berdusta. Tidak pernah Allah menjadikan pendamping dan anak bagiNya. Maka apakah yang kalian inginkan?'
Mereka menjawab, 'Kami haus wahai Tuhan kami, maka berilah kami minum.' Kemudian diberikan isyarat kepada mereka dan dikatakan, 'Mengapa kalian tidak menuju ke sana?' Kemudian mereka digiring ke neraka, seolah-olah ia fatamorgana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka.
Kemudian dipanggil orang-orang Nashrani dan ditanyakan, 'Apa yang kalian sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah al-Masih anak Allah.' Maka dijawab, 'Kalian berdusta. Tidak pernah Allah menjadikan pendamping dan anak bagiNya.' Kemudian ditanyakan, 'Apakah yang kalian inginkan?' Mereka menjawab, 'Wahai Tuhan kami, kami haus, oleh karena itu berilah kami minum.' Kemudian diberikan isyarat kepada mereka dan dikatakan, 'Mengapa kalian tidak menuju ke sana? Kemudian mereka digiring menuju neraka Jahannam, seolah-olah ia fatamorgana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka.
Hingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allah Ta'ala, dari orang yang baik dan durhaka. Allah Rabb semesta alam mendatangi mereka dalam bentuk yang mereka kenal. Kemudian Allah bertanya, 'Apa yang kalian nantikan? Hendaknya setiap umat mengikuti apa yang disembah.'
Mereka menjawab, 'Ya Tuhan kami, kami telah memisahkan diri dari orang-orang ketika di dunia, kami tidak membutuhkan apa yang mereka kejar, kami pun tidak berteman dengan mereka.'
Kemudian Allah berfirman, 'Aku adalah Rabbmu.' Maka mereka berkata, 'Kami berlindung kepada Allah, kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun,' (2 atau 3 kali). Bahkan hampir-hampir di antara mereka ada yang terbalik mengucapkan.
Allah bertanya, 'Apakah antara kalian dan Rabbmu ada tanda yang kalian kenal?' Mereka menjawab, 'Ya.' Maka disingkapkannyalah as-Saaq (betis). Maka tidak ada yang tersisa dari orang-orang yang bersujud kepada Allah (orang mukmin) kecuali dizinkan bersujud kepadaNya. Dan tinggallah orang-orang yang bersujud karena riya’, maka dijadikan punggungnya oleh Allah satu tingkatan. Setiap kali akan bersujud, maka tersungkur. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka.
Dan Allah telah merubah bentuk dari bentuk yang pertama kali mereka lihat. Kemudian berfirman, 'Aku adalah Rabbmu.' Mereka menjawab, 'Engkau lah Tuhan kami.'
Kemudian jembatan dibentangkan di atas Jahannam, dan syafaat diberlakukan. Mereka berkata, 'Ya Allah, selamatkan, selamatkan'."
Ditanyakan kepada Rasulullah, "Apakah yang dimaksud jembatan itu?" Beliau 'alaihi wa sallam menjawab, "Titian licin yang menggelincirkan, padanya terpasang besi pengait yang bengkok, juga besi-besi runcing, seperti duri pohon Sa'dan.
Di antara orang-orang mukmin ada yang melewati titian itu dalam sekejap mata, cepat seperti kilat, atau angin yang bertiup atau burung yang melesat, atau kuda yang berlari kencang, atau secepat kendaraan. Di antara mereka ada yang selamat, ada yang luka dan terlempar, ada yang tertimbun di kedalaman jahannam.
Jika orang-orang mukmin telah melewati neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, tidaklah salah seorang di antara kamu yang benar-benar bersumpah kepada Allah kecuali meminta meneliti kebenaran dari sesama mukmin yang masih di dalam neraka kepada Allah pada hari kiamat. Mereka berkata, 'Wahai Tuhan kami, dulu mereka berpuasa, shalat dan haji bersama-sama kami!'
Kemudian dikatakan kepada mereka, 'Silahkan kalian mengeluarkan orang-orang yang kalian kenal!' Lantas tubuh mereka diharamkan tersentuh api neraka. Mereka dapat membebaskan sejumlah orang.
Ada pula yang tenggelam di dalam neraka sampai pertengahan betisnya, atau sampai lututnya, kemudian mereka berkata, 'Wahai Rabb kami, sudah tidak tersisa walau seorangpun yang engkau perintahkan untuk mengeluarkan darinya.' Allah berfirman, 'Kalau demikian, kembalilah. Dan siapa saja yang kalian dapati dalam hatinya kebaikan seberat dinar, maka keluarkanlah mereka.' Kemudian dikeluarkan sejumlah besar manusia.
Kemudian mereka berkata, 'Ya Rabb, sudah tidak ada lagi orang yang harus dikeluarkan sebagaimana yang Engkau perintahkan.'
Allah berfirman, 'Kalau demikian kembalilah. Dan siapa saja yang kalian dapati dalam hatinya kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah mereka.' Maka dikeluarkanlah sejumlah besar manusia dari neraka.
Kemudian mereka berkata, 'Ya Rabb, sudah tidak ada lagi orang yang harus dikeluarkan sebagaimana yang Engkau perintahkan.'
Allah berfirman, 'Kalau demikian kembalilah. Dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya kebajikan seberat zarrah, keluarkan mereka.'
Maka dikeluarkan dari mereka sejumlah besar manusia.
Mereka berkata, 'Ya Rabb, tidak tersisa lagi kebaikan di neraka."
Berkenaan dengan hal ini, Abu Said al-Khudri berkata, "Jika kalian tidak mempercayai hadits ini, bacalah sekiranya kalian mau ayat,artinya,
'Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar.' (An-Nisa’: 40).
Allah Ta'ala berfirman, 'Para Malaikat, Nabi dan orang-orang mukmin memberikan syafaat, dan yang tinggal adalah orang-orang yang paling dikasihi.' Kemudian Allah menggenggam satu genggaman neraka dan Allah mengeluarkan dari neraka itu orang-orang yang belum pernah berbuat kebaikan sedikitpun, mereka telah kembali menjadi arang, kemudian mereka ini lemparkan ke dalam sungai di tepi surga yang disebut dengan sungai kehidupan.
Mereka ini keluar dari neraka sebagaimana biji-bijian yang terbawa arus banjir. Tidakkah kalian sesekali melihatnya terserempet batu, atau pohon, pohon itu ke arah matahari terkadang menjadi putih atau hijau, dan yang condong ke arah bayangannya berwarna putih.
Mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, Seakan-akan engkau menggembala di wilayah pedusunan.' Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Orang-orang tadi keluar laksana mutiara yang di lehernya terdapat kalung, yang dikenali para penghuni surga. Mereka itulah orang-orang yang dibebaskan, Allah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa amalan yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang selama ini mereka berikan.
Allah berkata kepada mereka, 'Masuklah kalian ke surga, apa yang kalian lihat adalah milik kalian.' Mereka menjawab, 'Ya Rabb, Engkau memberikan kami kenikmatan yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun di alam raya ini.' Allah berfirman, 'Aku memiliki yang lebih afdhal dari pemberianKu itu.' Mereka bertanya, 'Wahai Tuhanku, Apakah yang lebih afdhal dari semua itu?' Allah Ta'ala menjawab, 'RidhaKu, setelah itu Aku tidak murka lagi' [1]
ADAB SEORANG MURID
Adab Seorang Murid Terhadap Syaikh Mursyid
Adab Internal Murid
Seorang murid hendaknya tunduk kepada keinginan Mursidnya (shaikh) dan ta’at kepadanya dalam semua perintah dan nasihatnya, karena Guru Mursid memiliki lebih banyak pengalaman dan lebih banyak pengetahuan dalam haqiqat, dalam tariqat dan dalam shari'ah. Sebagaimana seorang yang sakit menyerahkan dirinya kepada dokternya untuk disembuhkan, begitu pula sang murid, sakit dalam adab dan kelakuannya, berserah diri kepada pengalaman shaikhnya agar supaya disembuhkan.Seorang murid hendaknya tidak menentang cara sang Guru mengarahkan (memberi instruksi) dan mengendalikan sang murid. Setiap shaikh memiliki caranya tersendiri, yang diizinkan untuk digunakan oleh Guru nya (Gurunya Guru atau Kakek Guru). Imam Ibn Hajar al-Haythami mengatakan, "Barangsiapa membuka pintu kritik terhadap guru dan kelakuan (perlakuan) guru terhadap para murid akan dihukum dan akan diisolasi (dikucilkan) dari mendapatkan pengetahuan spiritual. Barangsiapa berkata kepada Gurunya, 'Mengapa?' tidak akan berhasil." [al-Fatawa al-Hadithiyya, halaman 55]Seorang murid hendaknya mengetahui bahwa Guru boleh jadi melakukan beberapa kesalahan, namun hal ini tidak menghalanginya dari mengangkat murid itu kepada Hadhirat Ilahi (Divine Presence). Jadi sang murid harus mema’afkan Guru, karena Guru bukanlah Nabi (s.a.w.) . Hanya Nabi (s.a.w.) bebas dari kesalahan. Meskipun jarang, seperti halnya dokter mungkin melakukan kesalahan dalam menangani seorang penderita (patient), begitu juga Guru membuat kesalahan dalam menangani penyakit spiritual murid, dan itu harus dima’afkan.Seorang murid hendaknya menghormati dan memuliakan Guru baik dalam hadir maupun absennya, jika hanya karena Guru dapat melihat dengan mata hati (qalbu)nya. Dikatakan bahwa bila seseorang tidak gembira dengan perintah-perintah Gurunya, dan tidak mempertahankan kelakuan dan adabnya yang baik, (dia) tidak akan mempertahankan kelakuan baiknya terhadap al Qur’an dan dengan Sunnah Nabi (s.a.w.). Shaikh Abdul Qadir Jilani berkata, "Barangsiapa meng-kritik seorang wali, Allah akan menyebabkan (menjadikan) qalbunya layu."Sang murid hendaknya jujur dan setia dengan kebersamaannya dengan Gurunya.Dia hendaknya mencintai Gurunya dengan cinta luar biasa. Dia hendaknya tahu bahwa Gurunya akan membawanya sampai kepada Hadhirat Allah, Yang Agung (Almighty) dan Tinggi (Exalted), dan kepada hadhirat Nabi (s.a.w.).Dia hendaknya tidak melihat kepada selain Gurunya, meskipun dia tetap harus mempertahankan hormat kepada semua shaikh lainnya.Adab External Murid
Dia hendaknya setuju dengan opini (pendapat) Gurunya secara keseluruhan, sebagaimana seorang penderita (patient) setuju dengan dokternya (physician).Dia hendaknya berkelakuan baik dalam jama’ah Gurunya, dengan mencegah menguap, terbahak-bahak, meninggikan suaranya, berbicara tanpa perkenannya, melonjorkan kakinya, dan selalu duduk dalam sikap sopanDia hendaknya melayani Gurunya dan membuat dirinya se-berguna mungkin.Dia hendaknya tidak menyebutkan dari khutbah Gurunya apa-apa yang tidak dimengerti oleh pendengar (jema’ah)nya. Ini mungkin membahayakan Gurunya dengan cara yang tidak disadari murid itu. Sayyidina cAli berkata, dalam sebuah hadith yang diberitakan dalam Bukhari, "Berkatalah kepada orang pada tingkatan yang mereka mengerti, karena engkau tidak ingin mereka menolak Allah dan Rasul (s.a.w.) Nya."Dia hendaknya hadir dalam jama’ah Gurunya. Meskipun tinggal ditempat yang jauh, dia harus berusaha untuk datang sesering mungkin.
Ibn Hajar al-Haythami berkata, "Banyak orang, apabila mereka melihat petunjuk (Guru)nya keras di dalam hal fardhu dan Sunnah Nabi (s.a.w.), menuduh (Guru)nya terlalu ketat. Mereka mengatakan bahwa dia (Guru) shalat terlalu banyak atau mempertahankan Sunnah terlalu (ber)kukuh. Orang-orang ini tidak menyadari bahwa mereka sedang jatuh kepada kehancuran diri mereka sendiri. Berhati-hatilah dalam percaya kepada gerutuan ego-mu tentang keketatan Guru kepada penegakan shari'ah." [al-Fatawa al-Hadithiyya, halaman 55.]
Abu Hafsa an-Nisaburi dikutip (quoted) dalam buku Shaikh as-Sulami's Tabaqat as-sufiyya, halaman 119, mengatakan: "Sufism terdiri dari adab [kelakuan baik]. Untuk setiap keadaan dan tingkat terdapat adab yang sesuai (dengan tingkat dan keadaan itu). Untuk setiap waktu terdapat kelakuan yang sesuai. Barangsiapa mempertahankan adab akan mencapat Maqam Insan Kamil (the Station of Manhood), dan barangsiapa meninggalkan adab akan dijauhkan dari keterterimaan ke dalam Hadhirat Allah (Allah's Divine Presence)."
Kelakuan Murid dengan sesama Saudara (Murid)
Dia hendaknya mempertahankan hormat untuk mereka baik dalam hadir maupun absennya, tidak mengihianati (ngrasani) nya.Dia hendaknya memberikan nasihat kepada mereka apabila mereka membutuhkannya dengan maksud untuk memperkuat mereka. Nasihatnya kepada mereka hendaknya (diberikan) secara pribadi dan hendaknya penuh dengan kerendahan dan bebas dari kesombongan. Dia yang diberi nasihat hendaknya menerimanya, hendaknya berterima-kasih, dan hendaknya melaksanakan nasihat itu.Dia hendaknya hanya berbaik sangka kepada saudaranya dan tidak mencari-cari kelakuan buruk mereka.Dia hendaknya menerima permintaan ma’af mereka, bila mereka memintanya.Dia hendaknya selalu dalam kedamaian dengan mereka.Dia hendaknya membantu mereka bila sedang diserang.Dia hendaknya tidak meminta menjadi pemimpin mereka, hanya menjadi sesama saudara dengan mereka.Dia hendaknya memperlihatkan kerendahan hati kepada mereka sejauh mungkin. Nabi (s.a.w.) berkata, "Pemimpin suatu kaum adalah mereka yang melayani kaumnya itu."
Kelakuan baik dari murid sesungguhnya tiada batasnya. Dia hendaknya selalu berusaha keras (jihad) dan membuat kemajuan dengan Gurunya, dengan sesama saudaranya, dengan masyarakatnya, dan dengan Bangsanya, karena Allah selalu memperhatikan dia, Nabi (s.a.w.) selalu memperhatikan dia, Guru selalu memperhatikan dia, dan para Guru-Guru yang telah mendahului mereka selalu memperhatikan mereka. Dengan kemajuan yang tetap, hari demi hari, dia akan mencapai Keadaan Kesempurnaan (the State of Perfection) dengan petunjuk dan bantuan Gurunya.
Adab Internal Murid
Seorang murid hendaknya tunduk kepada keinginan Mursidnya (shaikh) dan ta’at kepadanya dalam semua perintah dan nasihatnya, karena Guru Mursid memiliki lebih banyak pengalaman dan lebih banyak pengetahuan dalam haqiqat, dalam tariqat dan dalam shari'ah. Sebagaimana seorang yang sakit menyerahkan dirinya kepada dokternya untuk disembuhkan, begitu pula sang murid, sakit dalam adab dan kelakuannya, berserah diri kepada pengalaman shaikhnya agar supaya disembuhkan.Seorang murid hendaknya tidak menentang cara sang Guru mengarahkan (memberi instruksi) dan mengendalikan sang murid. Setiap shaikh memiliki caranya tersendiri, yang diizinkan untuk digunakan oleh Guru nya (Gurunya Guru atau Kakek Guru). Imam Ibn Hajar al-Haythami mengatakan, "Barangsiapa membuka pintu kritik terhadap guru dan kelakuan (perlakuan) guru terhadap para murid akan dihukum dan akan diisolasi (dikucilkan) dari mendapatkan pengetahuan spiritual. Barangsiapa berkata kepada Gurunya, 'Mengapa?' tidak akan berhasil." [al-Fatawa al-Hadithiyya, halaman 55]Seorang murid hendaknya mengetahui bahwa Guru boleh jadi melakukan beberapa kesalahan, namun hal ini tidak menghalanginya dari mengangkat murid itu kepada Hadhirat Ilahi (Divine Presence). Jadi sang murid harus mema’afkan Guru, karena Guru bukanlah Nabi (s.a.w.) . Hanya Nabi (s.a.w.) bebas dari kesalahan. Meskipun jarang, seperti halnya dokter mungkin melakukan kesalahan dalam menangani seorang penderita (patient), begitu juga Guru membuat kesalahan dalam menangani penyakit spiritual murid, dan itu harus dima’afkan.Seorang murid hendaknya menghormati dan memuliakan Guru baik dalam hadir maupun absennya, jika hanya karena Guru dapat melihat dengan mata hati (qalbu)nya. Dikatakan bahwa bila seseorang tidak gembira dengan perintah-perintah Gurunya, dan tidak mempertahankan kelakuan dan adabnya yang baik, (dia) tidak akan mempertahankan kelakuan baiknya terhadap al Qur’an dan dengan Sunnah Nabi (s.a.w.). Shaikh Abdul Qadir Jilani berkata, "Barangsiapa meng-kritik seorang wali, Allah akan menyebabkan (menjadikan) qalbunya layu."Sang murid hendaknya jujur dan setia dengan kebersamaannya dengan Gurunya.Dia hendaknya mencintai Gurunya dengan cinta luar biasa. Dia hendaknya tahu bahwa Gurunya akan membawanya sampai kepada Hadhirat Allah, Yang Agung (Almighty) dan Tinggi (Exalted), dan kepada hadhirat Nabi (s.a.w.).Dia hendaknya tidak melihat kepada selain Gurunya, meskipun dia tetap harus mempertahankan hormat kepada semua shaikh lainnya.Adab External Murid
Dia hendaknya setuju dengan opini (pendapat) Gurunya secara keseluruhan, sebagaimana seorang penderita (patient) setuju dengan dokternya (physician).Dia hendaknya berkelakuan baik dalam jama’ah Gurunya, dengan mencegah menguap, terbahak-bahak, meninggikan suaranya, berbicara tanpa perkenannya, melonjorkan kakinya, dan selalu duduk dalam sikap sopanDia hendaknya melayani Gurunya dan membuat dirinya se-berguna mungkin.Dia hendaknya tidak menyebutkan dari khutbah Gurunya apa-apa yang tidak dimengerti oleh pendengar (jema’ah)nya. Ini mungkin membahayakan Gurunya dengan cara yang tidak disadari murid itu. Sayyidina cAli berkata, dalam sebuah hadith yang diberitakan dalam Bukhari, "Berkatalah kepada orang pada tingkatan yang mereka mengerti, karena engkau tidak ingin mereka menolak Allah dan Rasul (s.a.w.) Nya."Dia hendaknya hadir dalam jama’ah Gurunya. Meskipun tinggal ditempat yang jauh, dia harus berusaha untuk datang sesering mungkin.
Ibn Hajar al-Haythami berkata, "Banyak orang, apabila mereka melihat petunjuk (Guru)nya keras di dalam hal fardhu dan Sunnah Nabi (s.a.w.), menuduh (Guru)nya terlalu ketat. Mereka mengatakan bahwa dia (Guru) shalat terlalu banyak atau mempertahankan Sunnah terlalu (ber)kukuh. Orang-orang ini tidak menyadari bahwa mereka sedang jatuh kepada kehancuran diri mereka sendiri. Berhati-hatilah dalam percaya kepada gerutuan ego-mu tentang keketatan Guru kepada penegakan shari'ah." [al-Fatawa al-Hadithiyya, halaman 55.]
Abu Hafsa an-Nisaburi dikutip (quoted) dalam buku Shaikh as-Sulami's Tabaqat as-sufiyya, halaman 119, mengatakan: "Sufism terdiri dari adab [kelakuan baik]. Untuk setiap keadaan dan tingkat terdapat adab yang sesuai (dengan tingkat dan keadaan itu). Untuk setiap waktu terdapat kelakuan yang sesuai. Barangsiapa mempertahankan adab akan mencapat Maqam Insan Kamil (the Station of Manhood), dan barangsiapa meninggalkan adab akan dijauhkan dari keterterimaan ke dalam Hadhirat Allah (Allah's Divine Presence)."
Kelakuan Murid dengan sesama Saudara (Murid)
Dia hendaknya mempertahankan hormat untuk mereka baik dalam hadir maupun absennya, tidak mengihianati (ngrasani) nya.Dia hendaknya memberikan nasihat kepada mereka apabila mereka membutuhkannya dengan maksud untuk memperkuat mereka. Nasihatnya kepada mereka hendaknya (diberikan) secara pribadi dan hendaknya penuh dengan kerendahan dan bebas dari kesombongan. Dia yang diberi nasihat hendaknya menerimanya, hendaknya berterima-kasih, dan hendaknya melaksanakan nasihat itu.Dia hendaknya hanya berbaik sangka kepada saudaranya dan tidak mencari-cari kelakuan buruk mereka.Dia hendaknya menerima permintaan ma’af mereka, bila mereka memintanya.Dia hendaknya selalu dalam kedamaian dengan mereka.Dia hendaknya membantu mereka bila sedang diserang.Dia hendaknya tidak meminta menjadi pemimpin mereka, hanya menjadi sesama saudara dengan mereka.Dia hendaknya memperlihatkan kerendahan hati kepada mereka sejauh mungkin. Nabi (s.a.w.) berkata, "Pemimpin suatu kaum adalah mereka yang melayani kaumnya itu."
Kelakuan baik dari murid sesungguhnya tiada batasnya. Dia hendaknya selalu berusaha keras (jihad) dan membuat kemajuan dengan Gurunya, dengan sesama saudaranya, dengan masyarakatnya, dan dengan Bangsanya, karena Allah selalu memperhatikan dia, Nabi (s.a.w.) selalu memperhatikan dia, Guru selalu memperhatikan dia, dan para Guru-Guru yang telah mendahului mereka selalu memperhatikan mereka. Dengan kemajuan yang tetap, hari demi hari, dia akan mencapai Keadaan Kesempurnaan (the State of Perfection) dengan petunjuk dan bantuan Gurunya.
TATA CARA RABITHAH
TATA CARA RABITHAH
Rabithah artinya ikatan atau berhubungan, yang berarti proses terjadinya hubungan atau ikatan ruhaniyah antara seorang murid dengan Guru Mursyidnya. Mengikat atau menghubungkan diri dengan Manajemen Vertikal (Ilahiyah) seperti yang diungkapkan Al-Quran:
“Wahai orang-orang yang memiliki iman, bersabarlah! jadikanlah kesabaran atasmu, berabithahlah (agar diteguhkan), dan takutlah kepada Allah, mudah-mudahan engkau termasuk orang-orang beruntung”. (QS. Ali Imran[3]: 200)
Melakukan rabithah mengandung makna menghadirkan/ membayangkan rupa Syekh atau Guru Mursyidnya yang Kamilah di dalam fikiran ketika hendak melaksanakan ibadah, lebih khusus ketika berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Menurut beberapa Ulama shufi, berabithah itu lebih utama daripada dzikirnya seorang Salik. Melaksanakan rabithah bagi seorang murid lebih berguna dan lebih pantas daripada dzikirnya, karena Guru itu sebagai perantara dalam wushul ke hadirat Allah Jalla wa ‘Alaa bagi seorang murid. Apabila bertambah rasa dekat dengan gurunya itu, maka akan semakin bertambah pula hubungan batinnya, dan akan segera sampai kepada yang dimaksud, yakni makrifat. Dan seyogyanya bagi seorang murid harus Fana dahulu kepada Guru Mursyidnya, sehingga akan mencapai Fana dengan Allah Ta’ala”.[1]
Menurut Syekh Muhammad bin Abdulah Al-Khani Al-Khalidi dalam kitabnya Al-Bahjatus Saniyyah hal. 43, berabithah itu dilakukan dengan 6 (enam) cara:
1. Menghadirkannya di depan mata dengan sempurna.
2. Membayangkan di kiri dan kanan, dengan memusatkan perhatian kepada ruhaniyahnya sampai terjadi sesuatu yang ghaib. Apabila ruhaniyah Mursyid yang dijadikan rabithah itu tidak lenyap, maka murid dapat menghadapi peristiwa yang akan terjadi. Tetapi jika gambarannya lenyap maka murid harus berhubungan kembali dengan ruhaniyah Guru, sampai peristiwa yang dialami tadi atau peristiwa yang sama dengan itu, muncul kembali. Demikianlah dilakukan murid berulang kali sampai ia fana dan menyaksikan peristiwa ghaib tanda Kebesaran Allah. Dengan berabithah, Guru Mursyidnya menghubungkannya kepada Allah, dan murid diasuh dan dibimbingnya, meskipun jarak keduanya berjauhan, seorang di barat dan lainnya di timur. Selain itu akan membentenginya dari pikiran-pikiran yang menyesatkan sehingga memicu pintu ruhani yang batil memasuki dirinya (baik ruhani-ruhani ataupun i’tikad-i’tikad yang batil),
3. Menghayalkan rupa Guru di tengah-tengah dahi. Memandang rabithah di tengah-tengah dahi itu, menurut kalangan ahli Thariqat lebih kuat dapat menolak getaran dan lintasan dalam hati yang melalaikan ingat kepada Allah Ta’ala.
4. Menghadirkan rupa Guru di tengah-tengah hati.
5. Menghayalkan rupa Guru di kening kemudian menurunkannya ke tengah hati. Menghadirkan rupa Syekh dalam bentuk keempat ini agak sukar dilakukan, tetapi lebih berkesan dari cara-cara sebelumnya.
6. Menafikan (meniadakan) dirinya dan mentsabitkan (menetapkan) keberadaan Guru. Cara ini lebih kuat menangkis aneka ragam ujian dan gangguan-gangguan.
Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, karangan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad disebutkan: “Perkataan seorang mukmin yang menyeru ‘Wahai Fulan’ ketika di dalam kesusahan, termasuk dalam tawasul yang diseru kepada Allah. Dan yang diseru itu hanya bersifat majaz bukan hakikat. Makna ‘Wahai Fulan! Aku minta dengan sebabmu pada Tuhanku, agar Dia melepaskan kesusahanku atau mengembalikan barangku yang hilang dariku, yang diminta dari Allah SWT. Adapun yang diucapkan kepada Nabi/Wali menjadi sebagai majaz (kiasan) dan penghubung, maka niat meminta kepada Nabi/Wali hanyalah sebagai sebab saja.
Dan diucapkan pada syara’ dan adat, contohnya adalah seperti permintaan tolong kita kepada orang lain: ‘tolong ambilkan barang itu’. Maka apa yang sebenarnya adalah kita meminta tolong dengan sebab orang tadi, hakikatnya Tuhan Yang Kuasa atas segala sesuatunya. Apabila kita meyakini orang itu mengambil sendiri secara hakikatnya, maka barulah boleh dikatakan syirik. Maka begitu pulalah berabithah itu sebagai sebab yang menyampaikan bukan tujuan.
Berbicara mengenai sebab, telah banyak ayat Al-Quran dan Hadits Qudsi yang menyatakan bahwa segala perkara yang dibutuhkan manusia dan makhlukNya didapat dan dikaruniakan oleh Allah Yang Kuasa, apakah itu makanan, minuman, pakaian, rizki, kesembuhan, dan sebagainya. Maka untuk kesemuanya itu perlu adanya sebab yang menyampaikan. Penyampaiannya bisa cepat atau lambat. Dan seseorang yang menerima rizki dari seseorang lainnya, sepantasnyalah berterimakasih kepadanya sebagai adab atas penyampaian rizkinya itu. Begitu pulalah seseorang meminta akan sesuatu hanya kepada sahabat atau lainnya, tentu ada adab-adab atau tatacara tertentu yang harus dilakukan, agar hajatnya itu terpenuhi sesuai dengan kehendaknya. Dan tidak hanya lahiriyyah saja, perkara-perkara ruhaniyah memiliki adab atau tatacaranya, agar tercapai penyampaian maksudnya ke Hadhirat Allah Yang Suci.
Maka penyampaian kehendak seseorang hamba kepada lainnya, yakni yang membutuhkan sesuatu selain Allah adalah suatu bentuk majaz bukan hakikat. Kalau ia beri’tiqad memohon secara hakikat, maka jadilah syirik yang menyekutukan Tuhannya
Rabithah artinya ikatan atau berhubungan, yang berarti proses terjadinya hubungan atau ikatan ruhaniyah antara seorang murid dengan Guru Mursyidnya. Mengikat atau menghubungkan diri dengan Manajemen Vertikal (Ilahiyah) seperti yang diungkapkan Al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang memiliki iman, bersabarlah! jadikanlah kesabaran atasmu, berabithahlah (agar diteguhkan), dan takutlah kepada Allah, mudah-mudahan engkau termasuk orang-orang beruntung”. (QS. Ali Imran[3]: 200)
Melakukan rabithah mengandung makna menghadirkan/ membayangkan rupa Syekh atau Guru Mursyidnya yang Kamilah di dalam fikiran ketika hendak melaksanakan ibadah, lebih khusus ketika berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Menurut beberapa Ulama shufi, berabithah itu lebih utama daripada dzikirnya seorang Salik. Melaksanakan rabithah bagi seorang murid lebih berguna dan lebih pantas daripada dzikirnya, karena Guru itu sebagai perantara dalam wushul ke hadirat Allah Jalla wa ‘Alaa bagi seorang murid. Apabila bertambah rasa dekat dengan gurunya itu, maka akan semakin bertambah pula hubungan batinnya, dan akan segera sampai kepada yang dimaksud, yakni makrifat. Dan seyogyanya bagi seorang murid harus Fana dahulu kepada Guru Mursyidnya, sehingga akan mencapai Fana dengan Allah Ta’ala”.[1]
Menurut Syekh Muhammad bin Abdulah Al-Khani Al-Khalidi dalam kitabnya Al-Bahjatus Saniyyah hal. 43, berabithah itu dilakukan dengan 6 (enam) cara:
1. Menghadirkannya di depan mata dengan sempurna.
2. Membayangkan di kiri dan kanan, dengan memusatkan perhatian kepada ruhaniyahnya sampai terjadi sesuatu yang ghaib. Apabila ruhaniyah Mursyid yang dijadikan rabithah itu tidak lenyap, maka murid dapat menghadapi peristiwa yang akan terjadi. Tetapi jika gambarannya lenyap maka murid harus berhubungan kembali dengan ruhaniyah Guru, sampai peristiwa yang dialami tadi atau peristiwa yang sama dengan itu, muncul kembali. Demikianlah dilakukan murid berulang kali sampai ia fana dan menyaksikan peristiwa ghaib tanda Kebesaran Allah. Dengan berabithah, Guru Mursyidnya menghubungkannya kepada Allah, dan murid diasuh dan dibimbingnya, meskipun jarak keduanya berjauhan, seorang di barat dan lainnya di timur. Selain itu akan membentenginya dari pikiran-pikiran yang menyesatkan sehingga memicu pintu ruhani yang batil memasuki dirinya (baik ruhani-ruhani ataupun i’tikad-i’tikad yang batil),
3. Menghayalkan rupa Guru di tengah-tengah dahi. Memandang rabithah di tengah-tengah dahi itu, menurut kalangan ahli Thariqat lebih kuat dapat menolak getaran dan lintasan dalam hati yang melalaikan ingat kepada Allah Ta’ala.
4. Menghadirkan rupa Guru di tengah-tengah hati.
5. Menghayalkan rupa Guru di kening kemudian menurunkannya ke tengah hati. Menghadirkan rupa Syekh dalam bentuk keempat ini agak sukar dilakukan, tetapi lebih berkesan dari cara-cara sebelumnya.
6. Menafikan (meniadakan) dirinya dan mentsabitkan (menetapkan) keberadaan Guru. Cara ini lebih kuat menangkis aneka ragam ujian dan gangguan-gangguan.
Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, karangan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad disebutkan: “Perkataan seorang mukmin yang menyeru ‘Wahai Fulan’ ketika di dalam kesusahan, termasuk dalam tawasul yang diseru kepada Allah. Dan yang diseru itu hanya bersifat majaz bukan hakikat. Makna ‘Wahai Fulan! Aku minta dengan sebabmu pada Tuhanku, agar Dia melepaskan kesusahanku atau mengembalikan barangku yang hilang dariku, yang diminta dari Allah SWT. Adapun yang diucapkan kepada Nabi/Wali menjadi sebagai majaz (kiasan) dan penghubung, maka niat meminta kepada Nabi/Wali hanyalah sebagai sebab saja.
Dan diucapkan pada syara’ dan adat, contohnya adalah seperti permintaan tolong kita kepada orang lain: ‘tolong ambilkan barang itu’. Maka apa yang sebenarnya adalah kita meminta tolong dengan sebab orang tadi, hakikatnya Tuhan Yang Kuasa atas segala sesuatunya. Apabila kita meyakini orang itu mengambil sendiri secara hakikatnya, maka barulah boleh dikatakan syirik. Maka begitu pulalah berabithah itu sebagai sebab yang menyampaikan bukan tujuan.
Berbicara mengenai sebab, telah banyak ayat Al-Quran dan Hadits Qudsi yang menyatakan bahwa segala perkara yang dibutuhkan manusia dan makhlukNya didapat dan dikaruniakan oleh Allah Yang Kuasa, apakah itu makanan, minuman, pakaian, rizki, kesembuhan, dan sebagainya. Maka untuk kesemuanya itu perlu adanya sebab yang menyampaikan. Penyampaiannya bisa cepat atau lambat. Dan seseorang yang menerima rizki dari seseorang lainnya, sepantasnyalah berterimakasih kepadanya sebagai adab atas penyampaian rizkinya itu. Begitu pulalah seseorang meminta akan sesuatu hanya kepada sahabat atau lainnya, tentu ada adab-adab atau tatacara tertentu yang harus dilakukan, agar hajatnya itu terpenuhi sesuai dengan kehendaknya. Dan tidak hanya lahiriyyah saja, perkara-perkara ruhaniyah memiliki adab atau tatacaranya, agar tercapai penyampaian maksudnya ke Hadhirat Allah Yang Suci.
Maka penyampaian kehendak seseorang hamba kepada lainnya, yakni yang membutuhkan sesuatu selain Allah adalah suatu bentuk majaz bukan hakikat. Kalau ia beri’tiqad memohon secara hakikat, maka jadilah syirik yang menyekutukan Tuhannya
CARA MENGENDALIKAN AMBISI
cara mengendalikan ambisi
Perasaan selalu ingin memiliki sesuatu yang lebih, tamak serta ambisi dalam hal-hal yang berbau duniawi memang sudah menjadi sifat dan tabiat manusia. Sehingga akan memerlukan penanganan yang ekstra untuk bisa mengen-dalikan dua watak tersebut. Siapapun orangnya pasti memiliki keduanya.
Namun kadar dan efek yang ditimbulkan pasti akan sangat bervariasi tergantung kemampuan orang tersebut dalam mengendalikan dan meredam keganasan dua virus yang bisa mematikan jiwa tersebut.
Dari sinilah Imam Ghozali kemudian memberikan resep terapi kepada kita agar bisa memproteksi atau minimal mengontrol keduanya agar tidak bisa berkembang biak di dalam kehidupan ini.
Untuk melawan kedua virus ini sebenarnya manusia cukup mempunyai satu penangkal yaitu qona’ah (neriman) serta percaya diri sepenuhnya kepada Alloh bahwa semua rizki mahluq hidup dimuka bumi ini sudah diatur oleh-Nya. Namun untuk mendapatkan obat itu manusia diharuskan melakukan beberapa hal. Setidaknya ada tiga jalur yang harus ditempuh agar bisa menghindari atau mengkarantina penyakit hati ini. Yaitu : kesabaran (as-shobru), pengatahuan (al-ilmu) dan pengamalan (al-‘amal). Dalam merealisasikan ketiga hal diatas ada lima jalan yang harus dilalui manusia.
Pertama : selalu bersikap ekonomis dan bijak dalam segala penggunaan harta yang dimiliki. Setiap orang yang ingin memiliki keagungan qona’ah maka hal pertama yang harus dilakukan adalah sebisa mungkin menekan pembelanjaan duniawinya dan menggunakan hartanya hanya untuk keperluan yang pasti dan sangat dibutuhkannya. Artinya ketika dia hanya hidup sendirian (tidak punya tanggungan keluarga) dan sudah merasa cukup dengan satu potong baju saja, maka dia tidak perlu mempunyai dua potong baju atau lebih. Dan bila sudah berkeluarga maka keluarganya juga hanya diberi sebatas apa yang dibutuhkan saja. Tidak lebih. Karena manusia yang terlalu royal dan boros dalam pembelanjaan harta dia akan sangat sulit memiliki perasaan qona’ah. Dan untuk menghindari itu manusia harus selalu melakukan perhitungan dan perencanaan yang matang setiap kali akan melakukan penggunaan harta. Sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Rosululloh agar umatnya selalu melakukan pengaturan dalam pengeluaran sampai-sampai beliau mengibaratkan bahwa “At Tadbiru nifsul ma’isyah” (perencanaan belanja adalah separuh dari kehidupan).
Kedua : ketika di suatu saat manusia dalam kondisi yang berkecukupan dan memiliki kelonggaran ma’isyah dia tidak perlu merasa bingung untuk memikirkan kebutuhannya di hari selanjutnya serta tidak perlu banyak berhayal untuk kehidupannya di hari yang akan datang. Dia harus tetap dan selalu memiliki keyakinan dan kepercayaan bahwa untuk hari esok Alloh telah mempersiapkan rizkinya. Sehingga harta yang dia miliki akan selalu dibelanjakan dijalan Alloh tanpa merasa takut miskin di hari berikutnya. Dalam lubuk hatinya terancap keyakinan bahwa Alloh yang menjadikan mahluq di muka bumi ini, maka Dialah yang bertanggung jawab akan kelangsungan hidupnya (rizqinya). Orang yang memiliki kegemaran memupuk kekayaannya pada hakekatnya mereka itu tidak percaya akan janji Alloh atas rizkinya setiap saat. Dan dalam hatinya sudah diracuni syetan dengan perasaan takut miskin dikemudian hari. Sehingga dia akan terjangkiti sifat ambisi menumpuk hartanya dengan dalih untuk persiapan hari esok tanpa mau menggunakannya dijalan Alloh.
Ketiga : manusia harus mengetahui kalau qona’ah akan selalu memberikan kemulyaan baginya sedangkan tamak dan ambisi akan selalu menyeret dirinya masuk kedalam lembah kehinaan dan derita kepayahan. Bila manusia telah menyadari akan hal tersebut dia akan selalu termotivasi untuk selalu bersifat qona’ah. Manusia yang telah banyak diliputi perasaan tamak dan ambisi mereka akan tidak bisa melepaskan diri dari pergaulan dengan masyarakat sekitarnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan posisi manusia tersebut akan sulit atau bahkan tidak mungkin mejalankan misi Alloh yaitu mengajak umat manusia ke jalan kebajikan. Karena orang sudah memiliki ikatan kebutuhan kepada orang lain cenderung memiliki sifat mudahanah (tidak memiliki kecemburuan agama dan rela melihat orang lain melakukan kedurhakaan). Sebaliknya orang yang mempunyai sifat qona’ah akan merasa selalu merdeka dan jauh dari intervensi orang lain atas kehidupannya.
Keempat : banyak melakukan kajian dan telaah atas kejadian-kejadian orang-orang terdahulu kemudian membanding satu dengan yang lainnya. Yakni kembali membuka perjalanan sejarah bagaimana kehidupan orang-orang Yahudi dan Nashroni yang memiliki hobi berfoya-foya dan menghamburkan harta bendanya dan berakhir dengan adzab dari Alloh dan juga mengangan-angan bagaimana kehidupan para Nabi, Waliyulloh, Khulafa’ur Rosyidin serta para sahabat Nabi yang serba terbatas dan banyak merasakan kesusahan guna menjauhkan diri dari kotoran dunia namun akhirnya semua berbuah kebahagiaan yang tidak terbatas. Dari kedua sisi kehidupan tersebut kemudian manusia harus memilih antara yang berujung kesengsaraan atau kebahagian.
Dengan mempelajari kembali kisah-kisah mereka maka manusia tidak akan lagi merasakan qona’ah sebagai pekerjaan yang hanya menawarkan kesengasaraan saja. Dan dalam hatinya akan tertanam kesimpulan bahwa berlebih-lebihan dalam urusan perut itu tidak jauh beda dengan seekor keledai, terlalu larut dalam urusan wanita berarti tidak lebih baik dari pada seekor babi (celeng), dan jor-joran dalam berpakaian dan perhiasan sama halnya ia telah banyak meniru kelakuan orang Yahudi dan Nashroni sedangkan menerima dan ikhlas dengan apa adanya maka selayaknya ia disejajarkan dengan kedudukan para Nabi dan Wali.
Kelima : betul-betul memahami bahwa dalam memupuk harta benda akan bisa berakibat memiliki rasa kekhawatiran yang sangat berlebihan padahal sebenarnya tidak perlu dialaminya. Karena sudah bukan hal yang rahasia kalau seseorang yang banyak memiliki harta maka ia akan banyak mempunyai perasaan khawatir akan kehilangan, dirampok, terkena musibah seperti banjir, kebakaran dan sebagainya. Bahkan yang sangat mengerikan adalah hartanya tersebut bisa menjadi tirai penghalang untuk mereguk kenikmatan di sorga. Dan kalaupun ia bisa menggunakan hartanya dijalan Alloh maka untuk masuk sorga kelak dia harus berada di antrean paling akhir. Tak tanggung-tanggung di padang mahsyar nanti dia harus menanti indahnya sorga sampai 500 tahun dari para orang-orang yang tak punya harta benda.
Agama Islam telah menggariskan konsep agar kita tidak terlalu terbuai memperbanyak harta sebagaimana yang pernah dipesankan oleh Rosululloh kepada shohabat Abu Dzarrin bahwa dalam urusan dunia jangan sekali-kali dia melihat orang yang berada di atasnya.
Karena sudah menjadi kebiasaan manusia kalau dia melihat orang lain memiliki banyak kelebihan materi dia selalu ingin lebih dari dia. Maka langkah aman untuk menghilangkan hal itu adalah untuk urusan akherat (ibadah) kita harus melihat orang yang ada diatas kita. Sebaliknya untuk masalah dunia kita harus melihat orang lain dibawah kita.
Yang tak kalah pentingnya adalah kita harus selalu mengingat-ingat apa yang sering diwasiatkan para ulama’ dahulu.Di saat dunia (harta benda) mengucilkan kita maka kita harus selalu melindungi diri dengan sifat qona’ah (neriman) dan menekan sekutanya perasaan keinginan yang menggebu-gebu untuk mendapatkan harta (ambisi). Namun ketika dunia memihak kepada kita maka kita harus selalu mengedepankan kebutuhan orang lain, selalu bersikap dermawan dan berbuat kebajikan serta menjauhi perasaan bakhil dan tertutup untuk orang lain yang membutuhkan. Karena apa yang digariskan oleh Alloh atas kita terkadang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Tidak sedikit orang yang sangat berambisi memperoleh kekayaan materi tetapi ternyata Alloh malah tidak mempercayai dirinya untuk dititipi harta benda. Sehingga ketika orang tersebut tidak memiliki perisai pelindung (qona’ah) maka tidaklah hal yang mustahil dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Kita tentunya tidak ingin seperti Abu Tsa’laba yang terlalu ‘memaksa’ Rosululloh supaya dido’akan menjadi orang yang kaya agar dirinya bisa lebih memperbenyak ibadah dengan harta yang akan didapatkannya. Tetapi kenyataannya ia ternyata tidak mampu menguasai diri sehingga hartanya tidak bisa menjadikan dia sebagai orang yang mulya di sisi Alloh.
Ketika kita ditakdirkan oleh Alloh menjadi orang yang kaya maka kita harus selalu memelihara sifat dermawan. Karena inilah satu-satunya sifat jaminan yang bisa menjadikan Alloh akan selalu mempercayai kita untuk memiliki harta benda. Kita tentu tidak sedikit mendengar cerita bagaimana Alloh membuktikan ancaman tersebut terhadap orang berharta yang berlaku kikir. Tidak hanya hartanya saja yang ditarik dari dirinya. Dia juga diseret menuju adzab yang maha pedih dan dahsyat.
Kalau kebetulan kita mempunyai harta pada hakekatnya itu bukan dan belum menjadi milik kita seutuhnya selama belum dinafaqohkan (dibelanjakan) kepada kebaikan. Karena harta yang ada pada kita berapapun banyaknya pasti akan pergi dari kita. Dan bagi kita yang telah dipercaya Alloh dengan amanat harta kita harus memilih apakah harta yang akan mengendalikan kita, atau kita yang akan memegang kendali harta benda. Harta akan mengendalikan kita kalau kita tidak bisa berlaku proporsional terhadapnya. Dan di akherat kelak harta akan menjadi beban yang teramat berat bagi kita. Dan sebaliknya kita akan bisa menjadikan harta kita sebagai tameng dari siksa Alloh di neraka kalau semasa didunia kita bisa menjinakkan dan mengendalikannya untuk kita arahkan menuju jalan yang diridloi Alloh subhanahu wata’ala.
Perasaan selalu ingin memiliki sesuatu yang lebih, tamak serta ambisi dalam hal-hal yang berbau duniawi memang sudah menjadi sifat dan tabiat manusia. Sehingga akan memerlukan penanganan yang ekstra untuk bisa mengen-dalikan dua watak tersebut. Siapapun orangnya pasti memiliki keduanya.
Namun kadar dan efek yang ditimbulkan pasti akan sangat bervariasi tergantung kemampuan orang tersebut dalam mengendalikan dan meredam keganasan dua virus yang bisa mematikan jiwa tersebut.
Dari sinilah Imam Ghozali kemudian memberikan resep terapi kepada kita agar bisa memproteksi atau minimal mengontrol keduanya agar tidak bisa berkembang biak di dalam kehidupan ini.
Untuk melawan kedua virus ini sebenarnya manusia cukup mempunyai satu penangkal yaitu qona’ah (neriman) serta percaya diri sepenuhnya kepada Alloh bahwa semua rizki mahluq hidup dimuka bumi ini sudah diatur oleh-Nya. Namun untuk mendapatkan obat itu manusia diharuskan melakukan beberapa hal. Setidaknya ada tiga jalur yang harus ditempuh agar bisa menghindari atau mengkarantina penyakit hati ini. Yaitu : kesabaran (as-shobru), pengatahuan (al-ilmu) dan pengamalan (al-‘amal). Dalam merealisasikan ketiga hal diatas ada lima jalan yang harus dilalui manusia.
Pertama : selalu bersikap ekonomis dan bijak dalam segala penggunaan harta yang dimiliki. Setiap orang yang ingin memiliki keagungan qona’ah maka hal pertama yang harus dilakukan adalah sebisa mungkin menekan pembelanjaan duniawinya dan menggunakan hartanya hanya untuk keperluan yang pasti dan sangat dibutuhkannya. Artinya ketika dia hanya hidup sendirian (tidak punya tanggungan keluarga) dan sudah merasa cukup dengan satu potong baju saja, maka dia tidak perlu mempunyai dua potong baju atau lebih. Dan bila sudah berkeluarga maka keluarganya juga hanya diberi sebatas apa yang dibutuhkan saja. Tidak lebih. Karena manusia yang terlalu royal dan boros dalam pembelanjaan harta dia akan sangat sulit memiliki perasaan qona’ah. Dan untuk menghindari itu manusia harus selalu melakukan perhitungan dan perencanaan yang matang setiap kali akan melakukan penggunaan harta. Sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Rosululloh agar umatnya selalu melakukan pengaturan dalam pengeluaran sampai-sampai beliau mengibaratkan bahwa “At Tadbiru nifsul ma’isyah” (perencanaan belanja adalah separuh dari kehidupan).
Kedua : ketika di suatu saat manusia dalam kondisi yang berkecukupan dan memiliki kelonggaran ma’isyah dia tidak perlu merasa bingung untuk memikirkan kebutuhannya di hari selanjutnya serta tidak perlu banyak berhayal untuk kehidupannya di hari yang akan datang. Dia harus tetap dan selalu memiliki keyakinan dan kepercayaan bahwa untuk hari esok Alloh telah mempersiapkan rizkinya. Sehingga harta yang dia miliki akan selalu dibelanjakan dijalan Alloh tanpa merasa takut miskin di hari berikutnya. Dalam lubuk hatinya terancap keyakinan bahwa Alloh yang menjadikan mahluq di muka bumi ini, maka Dialah yang bertanggung jawab akan kelangsungan hidupnya (rizqinya). Orang yang memiliki kegemaran memupuk kekayaannya pada hakekatnya mereka itu tidak percaya akan janji Alloh atas rizkinya setiap saat. Dan dalam hatinya sudah diracuni syetan dengan perasaan takut miskin dikemudian hari. Sehingga dia akan terjangkiti sifat ambisi menumpuk hartanya dengan dalih untuk persiapan hari esok tanpa mau menggunakannya dijalan Alloh.
Ketiga : manusia harus mengetahui kalau qona’ah akan selalu memberikan kemulyaan baginya sedangkan tamak dan ambisi akan selalu menyeret dirinya masuk kedalam lembah kehinaan dan derita kepayahan. Bila manusia telah menyadari akan hal tersebut dia akan selalu termotivasi untuk selalu bersifat qona’ah. Manusia yang telah banyak diliputi perasaan tamak dan ambisi mereka akan tidak bisa melepaskan diri dari pergaulan dengan masyarakat sekitarnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan posisi manusia tersebut akan sulit atau bahkan tidak mungkin mejalankan misi Alloh yaitu mengajak umat manusia ke jalan kebajikan. Karena orang sudah memiliki ikatan kebutuhan kepada orang lain cenderung memiliki sifat mudahanah (tidak memiliki kecemburuan agama dan rela melihat orang lain melakukan kedurhakaan). Sebaliknya orang yang mempunyai sifat qona’ah akan merasa selalu merdeka dan jauh dari intervensi orang lain atas kehidupannya.
Keempat : banyak melakukan kajian dan telaah atas kejadian-kejadian orang-orang terdahulu kemudian membanding satu dengan yang lainnya. Yakni kembali membuka perjalanan sejarah bagaimana kehidupan orang-orang Yahudi dan Nashroni yang memiliki hobi berfoya-foya dan menghamburkan harta bendanya dan berakhir dengan adzab dari Alloh dan juga mengangan-angan bagaimana kehidupan para Nabi, Waliyulloh, Khulafa’ur Rosyidin serta para sahabat Nabi yang serba terbatas dan banyak merasakan kesusahan guna menjauhkan diri dari kotoran dunia namun akhirnya semua berbuah kebahagiaan yang tidak terbatas. Dari kedua sisi kehidupan tersebut kemudian manusia harus memilih antara yang berujung kesengsaraan atau kebahagian.
Dengan mempelajari kembali kisah-kisah mereka maka manusia tidak akan lagi merasakan qona’ah sebagai pekerjaan yang hanya menawarkan kesengasaraan saja. Dan dalam hatinya akan tertanam kesimpulan bahwa berlebih-lebihan dalam urusan perut itu tidak jauh beda dengan seekor keledai, terlalu larut dalam urusan wanita berarti tidak lebih baik dari pada seekor babi (celeng), dan jor-joran dalam berpakaian dan perhiasan sama halnya ia telah banyak meniru kelakuan orang Yahudi dan Nashroni sedangkan menerima dan ikhlas dengan apa adanya maka selayaknya ia disejajarkan dengan kedudukan para Nabi dan Wali.
Kelima : betul-betul memahami bahwa dalam memupuk harta benda akan bisa berakibat memiliki rasa kekhawatiran yang sangat berlebihan padahal sebenarnya tidak perlu dialaminya. Karena sudah bukan hal yang rahasia kalau seseorang yang banyak memiliki harta maka ia akan banyak mempunyai perasaan khawatir akan kehilangan, dirampok, terkena musibah seperti banjir, kebakaran dan sebagainya. Bahkan yang sangat mengerikan adalah hartanya tersebut bisa menjadi tirai penghalang untuk mereguk kenikmatan di sorga. Dan kalaupun ia bisa menggunakan hartanya dijalan Alloh maka untuk masuk sorga kelak dia harus berada di antrean paling akhir. Tak tanggung-tanggung di padang mahsyar nanti dia harus menanti indahnya sorga sampai 500 tahun dari para orang-orang yang tak punya harta benda.
Agama Islam telah menggariskan konsep agar kita tidak terlalu terbuai memperbanyak harta sebagaimana yang pernah dipesankan oleh Rosululloh kepada shohabat Abu Dzarrin bahwa dalam urusan dunia jangan sekali-kali dia melihat orang yang berada di atasnya.
Karena sudah menjadi kebiasaan manusia kalau dia melihat orang lain memiliki banyak kelebihan materi dia selalu ingin lebih dari dia. Maka langkah aman untuk menghilangkan hal itu adalah untuk urusan akherat (ibadah) kita harus melihat orang yang ada diatas kita. Sebaliknya untuk masalah dunia kita harus melihat orang lain dibawah kita.
Yang tak kalah pentingnya adalah kita harus selalu mengingat-ingat apa yang sering diwasiatkan para ulama’ dahulu.Di saat dunia (harta benda) mengucilkan kita maka kita harus selalu melindungi diri dengan sifat qona’ah (neriman) dan menekan sekutanya perasaan keinginan yang menggebu-gebu untuk mendapatkan harta (ambisi). Namun ketika dunia memihak kepada kita maka kita harus selalu mengedepankan kebutuhan orang lain, selalu bersikap dermawan dan berbuat kebajikan serta menjauhi perasaan bakhil dan tertutup untuk orang lain yang membutuhkan. Karena apa yang digariskan oleh Alloh atas kita terkadang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Tidak sedikit orang yang sangat berambisi memperoleh kekayaan materi tetapi ternyata Alloh malah tidak mempercayai dirinya untuk dititipi harta benda. Sehingga ketika orang tersebut tidak memiliki perisai pelindung (qona’ah) maka tidaklah hal yang mustahil dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Kita tentunya tidak ingin seperti Abu Tsa’laba yang terlalu ‘memaksa’ Rosululloh supaya dido’akan menjadi orang yang kaya agar dirinya bisa lebih memperbenyak ibadah dengan harta yang akan didapatkannya. Tetapi kenyataannya ia ternyata tidak mampu menguasai diri sehingga hartanya tidak bisa menjadikan dia sebagai orang yang mulya di sisi Alloh.
Ketika kita ditakdirkan oleh Alloh menjadi orang yang kaya maka kita harus selalu memelihara sifat dermawan. Karena inilah satu-satunya sifat jaminan yang bisa menjadikan Alloh akan selalu mempercayai kita untuk memiliki harta benda. Kita tentu tidak sedikit mendengar cerita bagaimana Alloh membuktikan ancaman tersebut terhadap orang berharta yang berlaku kikir. Tidak hanya hartanya saja yang ditarik dari dirinya. Dia juga diseret menuju adzab yang maha pedih dan dahsyat.
Kalau kebetulan kita mempunyai harta pada hakekatnya itu bukan dan belum menjadi milik kita seutuhnya selama belum dinafaqohkan (dibelanjakan) kepada kebaikan. Karena harta yang ada pada kita berapapun banyaknya pasti akan pergi dari kita. Dan bagi kita yang telah dipercaya Alloh dengan amanat harta kita harus memilih apakah harta yang akan mengendalikan kita, atau kita yang akan memegang kendali harta benda. Harta akan mengendalikan kita kalau kita tidak bisa berlaku proporsional terhadapnya. Dan di akherat kelak harta akan menjadi beban yang teramat berat bagi kita. Dan sebaliknya kita akan bisa menjadikan harta kita sebagai tameng dari siksa Alloh di neraka kalau semasa didunia kita bisa menjinakkan dan mengendalikannya untuk kita arahkan menuju jalan yang diridloi Alloh subhanahu wata’ala.
HARTAKU AKAN AKU BAWA MATI
SAYA TIDAK MAU BERPISAH DENGAN HARTA SAYA
(HARTAKU AKAN SAYA BAWA MATI)
(HARTAKU AKAN SAYA BAWA MATI)
KISAH INI SAYA PETIK DARI PUSAT KONSULTASI ISLAM
Haji Usman. Pemilik salah satu usaha batik dan olahan tekstil terkemuka di Yogyakarta, memang dikenal atas kedermawanannya, seakan harta telah begitu tak berharga baginya. Seakan dunia telah begitu hina di matanya.
Ringan baginya membuka kotak tabungannya, gampang baginya merogoh kantong simpanan dan seakan tanpa beban dia mengulur bantuan.
Inilah mungkin sosok nyata orang yg menganggap dunia di tangannya dan akhirat di hatinya.
Maka beberapa orang pengusaha muda yg bersemangat mendatangi beliau.
Ringan baginya membuka kotak tabungannya, gampang baginya merogoh kantong simpanan dan seakan tanpa beban dia mengulur bantuan.
Inilah mungkin sosok nyata orang yg menganggap dunia di tangannya dan akhirat di hatinya.
Maka beberapa orang pengusaha muda yg bersemangat mendatangi beliau.
“Ajarkan pada kami, Ji,” kata mereka, “bagaimana caranya agar kami seperti haji Usman. Bisa bisnis maju sukses, tidak cinta pada harta dan tidak sayang pada kekayaan… Hingga seperti haji Usman, bersedekah terasa ringan”.
“Wah”, sahut Haji Usman tertawa,
“Antum salah alamat!”
“Lho?”…
“Lha iya. Kalian datang pada orang yg salah
Lha saya ini SANGAT SAYANG DAN MENCINTAI HARTA SAYA.
Saya ini sangat mencintai ASET yg saya miliki ”
“Lho?”..
“Kok lho, sebab saking cinta dan sayangnya, SAMPAI-SAMPAI SAYA TIDAK RELA MENINGGALKAN HARTA SAYA DI DUNIA INI.HARTA SAYA AKAN SAYA BAWA MATI DIKUBUR DENGAN HARTA BISNIS SAYA.
Saya itu TIDAK MAU BERPISAH dengan kekayaan saya.
Makanya sementara ini saya titip-titipkan dulu
*TITIP* pada Masjid,
*TITIP* pada anak yatim,
*TITIP* pada fakir miskin,
*TITIP* pada pejuang fii sabilillah.
*TITIP* pada yayasan/ baitul maal.
*TITIP* pada guru2 Agama & karyawan yg rajin Ibadah
*TITIP* pada saudara dan karyawan yg dirawat sakit.
Alhamdulillah masih ada yg berkenan mau dititipi, saya senang sekali. Alhamdulillah ada yg sudi diamanati, saya bahagia sekali.
Pokoknya DI AKHIRAT NANTI MAU SAYA AMBIL LAGI TITIPAN TITIPAN SAYA
Saya sdh bekerja keras puluhan tahun maka ingin kekayaan saya itu dapat saya nikmati berlipat-lipat di alam kubur dan di akhirat nanti”.
Maka siapa bilang harta tdk dibawa mati….?
Harta itu dibawa mati….!!! Caranya ? … JANGAN BAWA SENDIRI… Minta tolong dibawakan oleh Fakir miskin, anak yatim, orang-orang yg berjuang di jalanNYA, yayasan/baitul maal….dll… .dll
karena anak dan keluarga sy cuma kasih kain putih tok.
HAKIKAT ADAB DALAM TASAWUF
Hakikat Adab dalam Tasawuf
Allah SWT berfirman:
"Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (QS. An-Najm: 17).
Dikatakan bahwa ayat ini berarti, "Nabi melaksanakan adab di hadirat Allah." Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim: 6).
Mengomentari ayat ini, Ibnu Abbas mengatakan, "Didiklah dan ajarilah mereka adab."
Diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa Nabi Muhammad Saw telah bersabda, "Hak seorang anak atas bapaknya adalah si bapak hendaknya memberinya nama yang baik, memberinya susu yang murni dan banyak, serta mendidiknya dalam adab dan akhlak."
Sa’id bin al-Musayyab berkata, "Barangsiapa yang tidak mengetahul hak-hak Allah SWT atas dirinya dan tidak pula mengetahui dengan baik perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, berarti tersingkir dari adab."
Nabi Muhammad Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mendidikku dalam adab dan mendidikku dengan sangat baik. " (HR. Baihaqi)
Esensi adab adalah gabungan dari semua akhlak yang baik. Jadi orang yang beradab adalah orang yang pada dirinya tergabung perilaku kebaikan, dari sini muncul istilah ma’dubah yang berarti berkumpul untuk makan-makan.
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Seorang hamba akan mencapai surga dengan mematuhi Allah SWT. Dan akan mencapai Allah SWT dengan adab menaati-Nya." Beliau juga mengatakan,"Aku melihat seseorang yang mau menggerakkan tangannya untuk menggaruk hidungnya dalam shalat, namun tangannya terhenti." Jelas bahwa yang Beliau maksudkan adalah diri Beliau sendiri.
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq tak pernah bersandar pada apa pun jika sedang duduk. Pada suatu hari beliau sedang berada dalam suatu kumpulan, dan saya ingin menempatkan sebuah bantal di belakang Beliau, sebab saya melihat Beliau tidak punya sandaran. Setelah saya meletakkan bantal itu di belakangnya, Beliau lalu bergerak sedikit untuk menjauhi bantal itu. Saya mengira Beliau tidak menyukai bantal itu karena tidak dibungkus sarung bantal.
Tetapi Beliau lalu menjelaskan, "Aku tidak menginginkan sandaran." Setelah itu saya merenung, ternyata Beliau memang tidak pernah mau bersandar pada apa pun.
Al-Jalajili al-Bashri berkomentar, "Tauhid menuntut keimanan, jadi orang yang tak punya iman tidak bertauhid."
Iman menuntut syari'at, jadi orang yang tidak mematuhi syari'at berarti tak punya iman, dan tauhid. Mematuhi syari'at menuntut adab, jadi orang yang tak mempunyai adab tidak mematuhi syari'at, tidak memiliki iman dan tauhid."
Ibnu Atha’ berkata, "Adab berarti terpaku dengan hal-hal yang terpuji." Seseorang bertanya, "Apa artinya itu?" Dia menjawab, "Maksudku engkau harus mempraktikkan adab kepada Allah SWT baik secara lahir dan batin. Jika engkau berperilaku demikian, engkau memiliki adab, sekalipun bicaramu tidak seperti bicaranya orang Arab." Kemudian dia membacakan Syair : Bila berkata, ia ungkapkan dengan manisnya. Jika diam, duhai cantiknya.
Abdullah al-Jurairi menuturkan, "Selama dua puluh tahun dalam khalwatku, belum pernah aku melonjorkan kaki satu kali pun ketika duduk, melaksanakan adab pada Allah SWT adalah lebih utama."
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, "Orang yang bersekutu dengan raja-raja tanpa adab, ketololannya akan menjerumuskan pada kematian."
Diriwayatkan ketika Ibnu Sirin ditanya, "Adab mana yang lebih mendekatkan kepada Allah SWT?" Dia menjawab, "Ma’rifat mengenal Ketuhanan-Nya, beramal karena patuh kepada-Nya, dan bersyukur kepada-Nya atas kesejahteraan dari-Nya, serta bersabar dalam menjalani penderitaan."
Yahya bin Mu’adz berkata, "Jika, seorang ‘arif meninggalkan adab di hadapan Yang Dima’rifati, niscaya dia akan binasa bersama mereka yang binasa."
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, "Meninggalkan adab mengakibatkan pengusiran. Orang yang berperilaku buruk di pelataran akan dikirim kembali ke pintu gerbang. Orang yang berperilaku buruk di pintu gerbang akan dikirim untuk menjaga binatang."
Ditanyakan kepada Hasan al-Bashri, "Begitu banyak yang telah dikatakan tentang berbagai ilmu sehubungan dengan adab. Yang mana diantaranya yang paling bermanfaat di dunia dan paling efektif untuk akhirat?" Dia menjawab, "Memahami agama, zuhud di dunia, dan mengetahui apa kewajiban-kewajiban terhadap Allah SWT."
Yahya bin Mu’adz berkata, "Orang yang mengetahui dengan baik adab terhadap Allah SWT akan menjadi salah seorang yang dicintal Allah SWT."
Sahl bin Abdullah mengatakan, "Para Sufi adalah mereka yang meminta pertolongan Allah SWT dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan yang senantiasa memelihara adab terhadap-Nya."
Ibnul Mubarak berkata, "Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak pengetahuan. " Dia juga mengatakan, "Kita mencari ilmu tentang adab setelah orang-orang yang beradab meninggalkan kita."
Dikatakan, "Tiga perkara yang tidak akan membuat orang merasa asing":
1. menghindari orang yang berakhlak buruk.
2. memperlihatkan adab dan
3. mencegah tindakan yang menyakitkan."
Syaikh Abu Abdullah al-Maghribi membacakan syair berikut ini tentang adab: Orang asing tak terasing bila dihiasi tiga pekerti; menjalankan adab, diantaranya, dan kedua berbudi baik dan ketiga menjauhi orang-orang yang berakhlak buruk.
Ketika Abu Hafs tiba di Baghdad, al-Junaid berkata kepadanya, "Engkau telah mengajar murid-muridmu untuk berperilaku seperti raja-raja!" Abu Hafs menjawab, "Memperlihatkan adab yang baik dalam lahiriahnya, merupakan ragam dari adab yang baik dalam batinnya."
Abdullah ibnul Mubarak berkata, "Melaksanakan adab bagi seorang ‘arif adalah seperti halnya tobatnya pemula."
Manshur bin Khalaf al-Maghribi menuturkan, "Seseorang mengatakan kepada seorang Sufi, alangkah jeleknya adabmu!’ Sang Sufi menjawab, "Aku tidak mempunyai adab buruk." Orang itu bertanya, "Siapa yang mengajarmu adab?" Si Sufi menjawab, "Para Sufi."
Abu an-Nashr as-Sarraj mengatakan, "Manusia terbagi tiga kategori dalam hal adab:
Manusia duniawi, yang cenderung memprioritaskan adabnya dalam hal kefasihan bahasa Arab dan sastra, menghafalkan ilmu-ilmu pengetahuan, nama-nama kerajaan, serta syair-syair Arab; Manusia religius, yang memprioritaskan dalam olah jiwa, mendidik fisik, menjaga batas-batas yang ditetapkan Allah, dan meninggalkan hawa nafsu;Kaum terpilih (ahlul khushushiyah), yang berkepedulian pada pembersihan hati, menjaga rahasia, setia kepada janji, berpegang pada kekinian, menghentikan perhatian kepada bisikan-bisikan sesat, dan menjalankan adab pada saat-saat memohon, dan dalam tahapan-tahapan kehadiran dan taqarrub dengan-Nya."Diriwayatkan bahwa Sahl bin Abdullah mengatakan, "Orang yang menundukkan jiwanya dengan adab berarti telah menyembah Allah dengan tulus."
Dikatakan, "Kesempurnaan adab tidak bisa dicapai kecuali oleh para Nabi - semoga Allah melimpahkan salam kepada mereka - dan penegak kebenaran (shiddiqin)."
Abdullah ibnul Mubarak menegaskan, "Orang berbeda pendapat mengenai apa yang disebut adab. Menurut kami, adab adalah mengenal diri."
Dulaf asy-Syibli berkata, "Ketidakmampuan menahan diri dalam berbicara dengan Allah SWT berarti meninggalkan adab."
Dzun Nun al-Mishri berkomentar, "Adab seorang ‘arif melampaui adab siapa pun. Sebab Allah Yang dima’rifati, Dialah yang mendidik hatinya. "
Salah seorang Sufi mengatakan, "Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang Aku niscayakan tegak bersama Asma dan Sifat-Ku, maka Aku niscayakan adab padanya. Dan siapa yang Kubuka padanya, jauh dari hakikat Dzat-Ku, maka Aku niscayakan kebinasaan padanya." Pilihah, mana yang engkau sukai: adab atau kebinasaan."
Suatu hari Ibnu Atha’ yang menjulurkan kakinya ketika sedang berada bersama murid-muridnya, berkata, "Meninggalkan adab di tengah-tengah kaum yang memiliki adab adalah tindakan yang beradab. " Statemen ini didukung oleh hadits yang menceritakan Nabi Muhammad Saw sedang berada bersama Abu Bakar ra dan Umar ra. Tiba-tiba Utsman ra datang menjenguk Beliau. Nabi Muhammad Saw menutupi paha Beliau dan bersabda, "Tidakkah aku malu di hadapan orang yang malaikat pun malu di hadapannya?"
Dengan ucapannya itu Nabi Muhammad Saw menunjukkan bahwa betapapun Beliau menghargai keadaan Utsman ra, namun keakraban antara Beliau dengan Abu Bakar ra dan Umar ra lebih Beliau hargai. Mendekati makna konteks ini, para Sufi bersyair berikut:
Padaku penuh santun nan ramah, maka, bila berhadapan dengan mereka yang memiliki kesetiaan dan kehormatan, kubiarkan aku mengalir aku berbicara apa adanya tanpa malu-malu.
Al-Junaid menyatakan, "Manakala cinta sang pecinta telah benar, ketentuan-ketentuan mengenai adab telah gugur."
Abu Utsman al-Hiri mengatakan, "Manakala cinta telah menghujam sang pecinta, adab, akan menjadi keniscayaannya."
Ahmad an-Nuri menegaskan, "Barangsiapa tidak menjalankan adab di saat kini, maka sang waktunya akan dendam padanya.
Dzun Nun al-Mishri berkata, "Jika seorang pemula dalam jalan Sufi berpaling dari adab, maka dia akan dikembalikan ke tempat asalnya."
Mengenai ayat: "Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang " (QS. Al-Anbiya’: 83).
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq memberikan penjelasan, "Ayub tidak mengatakan, "Kasihanilah aku!" (irhamny), semata karena beradab dalam berbicara kepada Tuhan."
Begitu juga Nabi Isa as. mengatakan: "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu." (QS. Al-Maidah: 118).
"Seandainya aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya." (QS. Al-Maidah: 116).
Komentar Syaikh ad-Daqqaq, "Nabi Isa as mengucapkan, "Aku tidak menyatakan" (lam aqul), semata karena menjaga adab di hadapan Tuhannya."
Al-Junaid menuturkan, "Pada hari jum’at di antara orang-orang salihin datang kepadaku, dan meminta, "Kirimlah salah seorang fakir kepadaku untuk memberikan kebahagiaan kepadaku dengan makan bersamaku.""
Aku pun lalu melihat ke sekitarku, dan kulihat seorang fakir yang kelihatan lapar. Kupanggil dia dan kukatakan kepadanya, "Pergilah bersama syaikh ini dan berilah kebahagiaan kepadanya." Tak lama kemudian orang itu kembali kepadaku dan berkata, "Wahai Abul Qasim, si fakir itu, hanya makan sesuap saja dan pergi meninggalkan aku!" Aku menjawab, "Barangkali Anda mengatakan sesuatu yang tak berkenan pada benaknya."
Dia menjawab, "Aku tidak mengatakan apa-apa." Aku pun menoleh, tiba-tiba si fikir duduk di dekat kami dan aku bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak memenuhi kegembiraannya?" Dia menjawab, "Wahai Syaikh, saya meninggalkan Kufah dan pergi ke Baghdad tanpa makan sesuatu pun. Saya tidak ingin kelihatan tak sopan di hadapan Anda karena kemiskinan saya, tetapi ketika Anda memanggil saya, saya gembira karena Anda mengetahui kebutuhan saya sebelum saya mengatakan apa-apa. Saya pun pergi bersamanya, sambil mendoakan kebahagiaan surga baginya. Ketika saya duduk di meja makannya, dia menyuguhkan makanan dan berkata, "Makanlah ini, karena aku menyukainya lebih dari uang sepuluh ribu dirham." Ketika saya mendengar ucapannya itu, tahulah saya bahwa cita rasanya rendah sekali. Karenanya, saya tak suka makan makanannya."
Aku menjawab, "Tidakkah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau bertindak tak beradab dengan tidak membiarkannya bahagia?" Dia berkata, "Wahai Abul Qasim, saya bertobat!"
Maka aku pun lalu menyuruhnya kembali kepada orang saleh itu dan menggembirakan hatinya.
Allah SWT berfirman:
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
"Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (QS. An-Najm: 17).
Dikatakan bahwa ayat ini berarti, "Nabi melaksanakan adab di hadirat Allah." Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim: 6).
Mengomentari ayat ini, Ibnu Abbas mengatakan, "Didiklah dan ajarilah mereka adab."
Diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa Nabi Muhammad Saw telah bersabda, "Hak seorang anak atas bapaknya adalah si bapak hendaknya memberinya nama yang baik, memberinya susu yang murni dan banyak, serta mendidiknya dalam adab dan akhlak."
Sa’id bin al-Musayyab berkata, "Barangsiapa yang tidak mengetahul hak-hak Allah SWT atas dirinya dan tidak pula mengetahui dengan baik perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, berarti tersingkir dari adab."
Nabi Muhammad Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mendidikku dalam adab dan mendidikku dengan sangat baik. " (HR. Baihaqi)
Esensi adab adalah gabungan dari semua akhlak yang baik. Jadi orang yang beradab adalah orang yang pada dirinya tergabung perilaku kebaikan, dari sini muncul istilah ma’dubah yang berarti berkumpul untuk makan-makan.
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Seorang hamba akan mencapai surga dengan mematuhi Allah SWT. Dan akan mencapai Allah SWT dengan adab menaati-Nya." Beliau juga mengatakan,"Aku melihat seseorang yang mau menggerakkan tangannya untuk menggaruk hidungnya dalam shalat, namun tangannya terhenti." Jelas bahwa yang Beliau maksudkan adalah diri Beliau sendiri.
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq tak pernah bersandar pada apa pun jika sedang duduk. Pada suatu hari beliau sedang berada dalam suatu kumpulan, dan saya ingin menempatkan sebuah bantal di belakang Beliau, sebab saya melihat Beliau tidak punya sandaran. Setelah saya meletakkan bantal itu di belakangnya, Beliau lalu bergerak sedikit untuk menjauhi bantal itu. Saya mengira Beliau tidak menyukai bantal itu karena tidak dibungkus sarung bantal.
Tetapi Beliau lalu menjelaskan, "Aku tidak menginginkan sandaran." Setelah itu saya merenung, ternyata Beliau memang tidak pernah mau bersandar pada apa pun.
Al-Jalajili al-Bashri berkomentar, "Tauhid menuntut keimanan, jadi orang yang tak punya iman tidak bertauhid."
Iman menuntut syari'at, jadi orang yang tidak mematuhi syari'at berarti tak punya iman, dan tauhid. Mematuhi syari'at menuntut adab, jadi orang yang tak mempunyai adab tidak mematuhi syari'at, tidak memiliki iman dan tauhid."
Ibnu Atha’ berkata, "Adab berarti terpaku dengan hal-hal yang terpuji." Seseorang bertanya, "Apa artinya itu?" Dia menjawab, "Maksudku engkau harus mempraktikkan adab kepada Allah SWT baik secara lahir dan batin. Jika engkau berperilaku demikian, engkau memiliki adab, sekalipun bicaramu tidak seperti bicaranya orang Arab." Kemudian dia membacakan Syair : Bila berkata, ia ungkapkan dengan manisnya. Jika diam, duhai cantiknya.
Abdullah al-Jurairi menuturkan, "Selama dua puluh tahun dalam khalwatku, belum pernah aku melonjorkan kaki satu kali pun ketika duduk, melaksanakan adab pada Allah SWT adalah lebih utama."
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, "Orang yang bersekutu dengan raja-raja tanpa adab, ketololannya akan menjerumuskan pada kematian."
Diriwayatkan ketika Ibnu Sirin ditanya, "Adab mana yang lebih mendekatkan kepada Allah SWT?" Dia menjawab, "Ma’rifat mengenal Ketuhanan-Nya, beramal karena patuh kepada-Nya, dan bersyukur kepada-Nya atas kesejahteraan dari-Nya, serta bersabar dalam menjalani penderitaan."
Yahya bin Mu’adz berkata, "Jika, seorang ‘arif meninggalkan adab di hadapan Yang Dima’rifati, niscaya dia akan binasa bersama mereka yang binasa."
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, "Meninggalkan adab mengakibatkan pengusiran. Orang yang berperilaku buruk di pelataran akan dikirim kembali ke pintu gerbang. Orang yang berperilaku buruk di pintu gerbang akan dikirim untuk menjaga binatang."
Ditanyakan kepada Hasan al-Bashri, "Begitu banyak yang telah dikatakan tentang berbagai ilmu sehubungan dengan adab. Yang mana diantaranya yang paling bermanfaat di dunia dan paling efektif untuk akhirat?" Dia menjawab, "Memahami agama, zuhud di dunia, dan mengetahui apa kewajiban-kewajiban terhadap Allah SWT."
Yahya bin Mu’adz berkata, "Orang yang mengetahui dengan baik adab terhadap Allah SWT akan menjadi salah seorang yang dicintal Allah SWT."
Sahl bin Abdullah mengatakan, "Para Sufi adalah mereka yang meminta pertolongan Allah SWT dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan yang senantiasa memelihara adab terhadap-Nya."
Ibnul Mubarak berkata, "Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak pengetahuan. " Dia juga mengatakan, "Kita mencari ilmu tentang adab setelah orang-orang yang beradab meninggalkan kita."
Dikatakan, "Tiga perkara yang tidak akan membuat orang merasa asing":
1. menghindari orang yang berakhlak buruk.
2. memperlihatkan adab dan
3. mencegah tindakan yang menyakitkan."
Syaikh Abu Abdullah al-Maghribi membacakan syair berikut ini tentang adab: Orang asing tak terasing bila dihiasi tiga pekerti; menjalankan adab, diantaranya, dan kedua berbudi baik dan ketiga menjauhi orang-orang yang berakhlak buruk.
Ketika Abu Hafs tiba di Baghdad, al-Junaid berkata kepadanya, "Engkau telah mengajar murid-muridmu untuk berperilaku seperti raja-raja!" Abu Hafs menjawab, "Memperlihatkan adab yang baik dalam lahiriahnya, merupakan ragam dari adab yang baik dalam batinnya."
Abdullah ibnul Mubarak berkata, "Melaksanakan adab bagi seorang ‘arif adalah seperti halnya tobatnya pemula."
Manshur bin Khalaf al-Maghribi menuturkan, "Seseorang mengatakan kepada seorang Sufi, alangkah jeleknya adabmu!’ Sang Sufi menjawab, "Aku tidak mempunyai adab buruk." Orang itu bertanya, "Siapa yang mengajarmu adab?" Si Sufi menjawab, "Para Sufi."
Abu an-Nashr as-Sarraj mengatakan, "Manusia terbagi tiga kategori dalam hal adab:
Manusia duniawi, yang cenderung memprioritaskan adabnya dalam hal kefasihan bahasa Arab dan sastra, menghafalkan ilmu-ilmu pengetahuan, nama-nama kerajaan, serta syair-syair Arab; Manusia religius, yang memprioritaskan dalam olah jiwa, mendidik fisik, menjaga batas-batas yang ditetapkan Allah, dan meninggalkan hawa nafsu;Kaum terpilih (ahlul khushushiyah), yang berkepedulian pada pembersihan hati, menjaga rahasia, setia kepada janji, berpegang pada kekinian, menghentikan perhatian kepada bisikan-bisikan sesat, dan menjalankan adab pada saat-saat memohon, dan dalam tahapan-tahapan kehadiran dan taqarrub dengan-Nya."Diriwayatkan bahwa Sahl bin Abdullah mengatakan, "Orang yang menundukkan jiwanya dengan adab berarti telah menyembah Allah dengan tulus."
Dikatakan, "Kesempurnaan adab tidak bisa dicapai kecuali oleh para Nabi - semoga Allah melimpahkan salam kepada mereka - dan penegak kebenaran (shiddiqin)."
Abdullah ibnul Mubarak menegaskan, "Orang berbeda pendapat mengenai apa yang disebut adab. Menurut kami, adab adalah mengenal diri."
Dulaf asy-Syibli berkata, "Ketidakmampuan menahan diri dalam berbicara dengan Allah SWT berarti meninggalkan adab."
Dzun Nun al-Mishri berkomentar, "Adab seorang ‘arif melampaui adab siapa pun. Sebab Allah Yang dima’rifati, Dialah yang mendidik hatinya. "
Salah seorang Sufi mengatakan, "Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang Aku niscayakan tegak bersama Asma dan Sifat-Ku, maka Aku niscayakan adab padanya. Dan siapa yang Kubuka padanya, jauh dari hakikat Dzat-Ku, maka Aku niscayakan kebinasaan padanya." Pilihah, mana yang engkau sukai: adab atau kebinasaan."
Suatu hari Ibnu Atha’ yang menjulurkan kakinya ketika sedang berada bersama murid-muridnya, berkata, "Meninggalkan adab di tengah-tengah kaum yang memiliki adab adalah tindakan yang beradab. " Statemen ini didukung oleh hadits yang menceritakan Nabi Muhammad Saw sedang berada bersama Abu Bakar ra dan Umar ra. Tiba-tiba Utsman ra datang menjenguk Beliau. Nabi Muhammad Saw menutupi paha Beliau dan bersabda, "Tidakkah aku malu di hadapan orang yang malaikat pun malu di hadapannya?"
Dengan ucapannya itu Nabi Muhammad Saw menunjukkan bahwa betapapun Beliau menghargai keadaan Utsman ra, namun keakraban antara Beliau dengan Abu Bakar ra dan Umar ra lebih Beliau hargai. Mendekati makna konteks ini, para Sufi bersyair berikut:
Padaku penuh santun nan ramah, maka, bila berhadapan dengan mereka yang memiliki kesetiaan dan kehormatan, kubiarkan aku mengalir aku berbicara apa adanya tanpa malu-malu.
Al-Junaid menyatakan, "Manakala cinta sang pecinta telah benar, ketentuan-ketentuan mengenai adab telah gugur."
Abu Utsman al-Hiri mengatakan, "Manakala cinta telah menghujam sang pecinta, adab, akan menjadi keniscayaannya."
Ahmad an-Nuri menegaskan, "Barangsiapa tidak menjalankan adab di saat kini, maka sang waktunya akan dendam padanya.
Dzun Nun al-Mishri berkata, "Jika seorang pemula dalam jalan Sufi berpaling dari adab, maka dia akan dikembalikan ke tempat asalnya."
Mengenai ayat: "Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang " (QS. Al-Anbiya’: 83).
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq memberikan penjelasan, "Ayub tidak mengatakan, "Kasihanilah aku!" (irhamny), semata karena beradab dalam berbicara kepada Tuhan."
Begitu juga Nabi Isa as. mengatakan: "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu." (QS. Al-Maidah: 118).
"Seandainya aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya." (QS. Al-Maidah: 116).
Komentar Syaikh ad-Daqqaq, "Nabi Isa as mengucapkan, "Aku tidak menyatakan" (lam aqul), semata karena menjaga adab di hadapan Tuhannya."
Al-Junaid menuturkan, "Pada hari jum’at di antara orang-orang salihin datang kepadaku, dan meminta, "Kirimlah salah seorang fakir kepadaku untuk memberikan kebahagiaan kepadaku dengan makan bersamaku.""
Aku pun lalu melihat ke sekitarku, dan kulihat seorang fakir yang kelihatan lapar. Kupanggil dia dan kukatakan kepadanya, "Pergilah bersama syaikh ini dan berilah kebahagiaan kepadanya." Tak lama kemudian orang itu kembali kepadaku dan berkata, "Wahai Abul Qasim, si fakir itu, hanya makan sesuap saja dan pergi meninggalkan aku!" Aku menjawab, "Barangkali Anda mengatakan sesuatu yang tak berkenan pada benaknya."
Dia menjawab, "Aku tidak mengatakan apa-apa." Aku pun menoleh, tiba-tiba si fikir duduk di dekat kami dan aku bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak memenuhi kegembiraannya?" Dia menjawab, "Wahai Syaikh, saya meninggalkan Kufah dan pergi ke Baghdad tanpa makan sesuatu pun. Saya tidak ingin kelihatan tak sopan di hadapan Anda karena kemiskinan saya, tetapi ketika Anda memanggil saya, saya gembira karena Anda mengetahui kebutuhan saya sebelum saya mengatakan apa-apa. Saya pun pergi bersamanya, sambil mendoakan kebahagiaan surga baginya. Ketika saya duduk di meja makannya, dia menyuguhkan makanan dan berkata, "Makanlah ini, karena aku menyukainya lebih dari uang sepuluh ribu dirham." Ketika saya mendengar ucapannya itu, tahulah saya bahwa cita rasanya rendah sekali. Karenanya, saya tak suka makan makanannya."
Aku menjawab, "Tidakkah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau bertindak tak beradab dengan tidak membiarkannya bahagia?" Dia berkata, "Wahai Abul Qasim, saya bertobat!"
Maka aku pun lalu menyuruhnya kembali kepada orang saleh itu dan menggembirakan hatinya.
MANAQIB SULTHON AULIYA SYEIK ABDUL QODIR AL JAILANI
MANAQIB
SYEIHK ABD QODIR AL JAILANI R.A
Segala puji bagi Allah yang telah mengutus junjungan kita Nabi Muhammad saw dengan membawa syari'at yang sempurna dan agama yang murni, yakni agama Islam serta menghiasi atas kerasulannya denga berbagai mu'jizat dan lagi diperkuat para sahabatnya yang pemberani dan mendapat hidayah (petunjuk dari Allah)
Adapun setelah itu semua: Maka berkatalah orang yang membutuh kan kemurahan Dzat yang Maha Mulya dan Maha Penyelamat, yakni Syaikh Ja'far bin Hasan bin 'Abdil Karim Al-Barzanjiyyu : Kitab manakib ini hanya merupakan bagian kecil penjelasan perilaku wali Quthub yang bisa memberi pertolongan, sebagai perantara agar terkabul tujuannya, pimpinan para wali arif billah, Imamnya para ulama berjalan dijalan Allah untuk meraih lautan haqiqot, yaitu Sayyid yang mulya, dirinya dijadikan sandaran yang amat indah, keturunan bangsawan yang memiliki derajat yang tinggi, memiliki perkumpulan majlis yang besar, yaitu sayyid yang besar, yaitu Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), Semoga Allah Yang Maha Kuat lagi Sempurna menyampaikan Syaikh ke surga yang dekat kepada Allah dan berhasil harapannya.
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
Dan dari kekaromahannya lagi, ada seoranag perempuan datang kepada beliau dengan membawa putranya dan diserahkan kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), untuk menjadi santrinya dan belajar ilmu suluk. Putra tadi diterima, kemudian diperintahkan memerangi nafsunya serta menjalankan ibadah sebagaimana dilakukan oleh ulama-ulama salaf. Suatau hari ibunya sowan kepada Kanjeng Syaikh, dilihat anaknya menjadi kurus, si ibu kemudian masuk kedalam kamar Kanjeng Syaikh dan melihat di depanya tulang-tulang ayam dari sisa daharan Kanjeng Syaikh. Maka si ibu kemudian menanyakan arti dari semua itu. Maka Kanjeng Syaikh meletakkan tanganya di atas tulang tadi sambil berkata : Berdirilah dengan izin Allah yang menghidupkan tulang-tulang yang hancur, maka berdirilah tulang tulang itu kembali menjadi ayam dan berkokok : "LAA ILAAHA ILLALLOOH MUHAMMADUR RASUULULLOOH ASY-SYAIKHU ABDUL QOODIR WALIYYULLOOH" artinya : Tidak Ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah dan Nabi , Muhammad adalah utusan Allah, Syaikh Abdul Qodir kekasih Allah swt. semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), maka beliau berkata kepada si ibu : Kalau anak mu sudah dapat berbuat seperti ini, maka boleh makan sekehendaknya.
Dan dari kekaromahannya lagi, pada suatu hari ketika angin sedang berhembus kencang ada seekor burung elang di atas majelis pengajian beliau dengan suara yang keras dan suaranya menggangu orang-orang yang hadir di majlis itu, maka beliau berkata : Wahai angin, potonglah kepala burung itu. Maka seketika jatuhlah burung itu dengan keadaan kepala terputus. Kemudian beliau turun dari kursinya, mengambil burung tadi mengelus elus dengan membaca : "Bismillaahir rahmaanir rohiim", maka burung itu hidup kembali dan terbang lagi dengan izin Allah ta'ala, akan hal itu disaksikan oleh orang orang yang hadir dimajlis itu.
Dan dari karomaahnya lagi, Syaikh Abu Umar Utsman As-Shairofi dan Syaikh Abu Muhammad Abdul Haqqi Al-Harimiyah, semoga Allah memberi rahmat keduanya, berkata : Kami pernah berdampingan dengan Syaikh berada di madrasahnya pada hari Ahad tanggal 3 Shafar tahun 555 H, beliau berwudhu dengan klompennya lalu shalat dua rakaat, setelah salam berteriak sekeras-kerasnya seraya melemparkan klompennya yang satu sejauh-jauhnya ke atas sampai tidak nampak dari pandangan kami, kemudian melakukan lagi seperti itu untuk kedua kalinya dengan klompen yang satunya. Kemudian duduk dan tidak ada seorangpun yang berani menanyakan kejadian itu. Setelah 23 hari dari kejadian itu, datanglah serombongan musyafir dari luar negeri, mereka berkata : Kami mempunyai nadzar, maka kami mohon diizinkan untuk menghadap Kanjeng Syaikh. Maka beliau berkata kepada kami berdua : Ambillah nadzar yang dibawa mereka. Kemudian memberikan barang nadzarnya berupa emas, pakaian sutra, pakaian berbulu sutra dan klompen milik Kanjeng Syaikh. Maka kami bertanya kepada mereka tentang apa yang terjadi sesungguhnya? Merekapun bercerita : Pada hari Ahad tanggal 3 Shafar yang lalu kami dalam perjalanan, tiba-tiba ada serombongan manusia yang dipimpin dua orang, mereka merampok harta kami dan kamipun turun ke tepi jurang, maka kami berunding, bersepakat dengan lantaran Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah),, kami bernadzar kalau harta kami bisa selamat, kami akan memberikan sebagaian dari harta itu kepada Kanjeng Syaikh, ternyata nadzar kami dikabulkan Allah, tidak lama kemudian kami mendengar suara yang keras amat sampai dua kali memekikkan telingah, berdesing memenuhi seluruh jurang, sampai kami melihat mereka lelah lunglai, gemetar ketakutan, maka kami menduga mungkin kedatangan perampok lain yang merebut hasil rampasan mereka. Tiba-tiba diantara mereka ada yang mendatangi kami dan berkata : Kemarilah kalian untuk ikut kami, ambillah kembali hartamu dan periksalah apa yang membingungkan kami. Kemudian mereka membawa kami kepada kedua pemimpinnya, ternyata kami dapatkan mereka berdua telah meninggal dan di sampingnya masing-masing terdapat klompen yang masih basah dengan air. Dengan kejadian itu, yang lain menjadi ketakutan sehingga harta yang dirampasnya dikembalikan kepada kami, mereka sambil mengatakan : Peristiwa ini menggemparkan dan tidak pernah terjadi sebelumnya.
Dan dari karomahnya, pernah seorang laki-laki dari kota Asfihan berkunjung kepada beliau untuk mengobatkan budak perempuannya yang sudah dimerdekakan, karena sering tidak sadarkan diri dan sudah diobatkan ke mana-mana. Maka Kanjeng Syaikh berkata : Ini gangguan jin dari goa Sarondib, namanya jin Khonis, apabila ia sakit lagi bacakan di telinganya : Hai jin Khonis Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), yang tinggal di Baghdad mengatakan kepadamu jangan kembali kalau tidak ingin binasa. Maka pulanglah orang itu dan tidak muncul lagi. Setelah dua puluh tahun lamanya orang itu datang lagi menghadap Kanjeng Syaikh, dan setelah ditanya ia menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Kanjeng Syaikh sudah dilaksanakan dan penyakit itu tidak pernah datang lagi sampai sekarang. Bahkan sebagian tabib ahli jiwa mengatakan : Selama kami menetap di Baghdad empat puluh tahun, selama mendiangnya Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), di Bagdad tidak pernah terjadi seorangpun menderita sakit jiwa, setelah beliau wafat maka berjangkitlah penyakit jiwa itu.
Dan dari karomahnya, ada tiga orang guru dari negeri Jilan datang berziarah kepada beliau. Sewaktu masuk rumah Kanjeng Syaikh, mereka melihat kendi yang tidak menghadap kiblat dan seorang pelayan berdiri di sisi Kanjeng Syaikh, kemudian mereka saling berpandangan seperti menunjukkan sikap tidak senang kepada Kanjeng Syaikh sebab kendi yang tidak menghadap kiblat dan seorang pelayan berdiri di sebelahnya, maka Kanjeng Syaikh meletakkan kitab yang ada di tangannya terus memandang kepada mereka dan kepada pelayan, seketika itu juga pelayan tadi mati, kemudian beliau memandang ke arah kendi dan kendi itupun berputar sendiri menghadap kiblat.
Dan dari karomahnya lagi, bahwa sesungguhnya Abul Mudhoffar Hasan bin Tamimi Al-Baghdadi adalah seorang pedagang, datang kepada Syaikh Hammad bin Muslim bin Darwah Ad-Dabbas, semoga Allah memberi rahmat keduanya, pada tahun 521 H seraya berkata : Wahai junjunganku, saya telah menyiapkan kafilah yang membawa dagangan seharga 700 dinar ke negeri Syam. Syaikh Hammad berkata : Kalau kamu pergi pada tahun ini kamu akan terbunuh dan daganganmu dirampas, Setelah itu Abul Mudhoffar keluar dari Syaikh Hammad dengan membawa perasaan sedih, di jalan berjumpa dengan Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), yang pada waktu itu beliau masih berusia muda. Abul Mudhoffar menceritakan apa yang dikatakan Syaikh Hammad kepadanya. Maka Kanjeng Syaikh berkata kepadanya : Pergilah, maka kamu akan selamat dan kembali akan membawa keuntungan, urusan itu akulah yang bertanggung jawab. Abul Mudhoffar pergi ke negeri Syam dan ternyata bisa menjual dagangannya dengan harga seribu dinar. Pada satu hari Abul Mudhoffar masuk WC untuk menunaikan hajat di Halaba, dan dia meletakkan uang seribu dinar di gantungan WC, dan ketika keluar ia lupa uangnya, sampai di rumah ia mengantuk dan tertidur. Dalam tidurnya bermimpi dalam kafilah didatangi orang Baduwi yang merampas hartanya dan membunuh semua orang yang ada di kafilah itu. Dan ada pula diantara Baduwi itu mendatanginya dan memukul dengan pedang serta membunuh nya, maka ia terbangun dengan gemetar ketakutan dan menemukan bekas darah di lehernya serta merasa sakit. Dan setelah teringat uangnya seribu dinar tertinggal, maka ia cepat-cepat bangun dan pergi ke WC di Halaba, dan uang tersebut didapatkan masih di tempat semula dengan selamat, kemudian pulang ke Bagdad. Setelah tiba ia berkata dalam hati : Kalau aku berkunjung kepada Syaikh Hammad lebih dahulu, memang beliau lebih tua dan kalau kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), karena beliau benar kata-katanya. Sewaktu ia berfikir demikian berada dipasar Sulthon dan Syaikh Hammad berkata kepadanya : Wahai Abul Mudhoffar, mulailah kamu berkunjung kepada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, karena beliau dicintai Allah dan sesungguhnya beliau berdoa kepada Allah untukmu sebanyak tujuh belas kali, sehingga kepastian matimu yang sebenarnya hanya kamu rasakan dalam mimpi dan kepastian fakir yang sebenarnya berubah hanya karena lupa saja. Kemudian Abul Mudhoffar pergi berkunjung kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), maka beliau mendahului berkata : Syaikh Hammad telah mengatakan kepadamu, bahwa saya berdo'a kepada Allah untukmu tujuh belas kali. Demi kemulyaan Allah yang berhak disembah, sesungguhnya saya berdo'a kepada Allah untukmu tujuh belas kali dan tujuh belas lagi sampai jumlahnya tujuh puluh kali, sehingga terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Syaikh Hammad.
Dan dari karomahnya lagi, sesungguhnya Syaikh Ali Al-Haity beserta Syaikh Syarif Abdullah bin Muhammad Abal Ghona-im, semoga Allah memberi rahmat keduanya berkunjung kepada Kanjeng Syaikh semoga Allah mensucikan rahasia-rahasianya, maka bertemu seorang pemuda tidur terlentang yang keadaannya sangat lemah. Maka pemuda itu berkata kepada Syaikh Al-Haity ra : Wahai junjunganku, mohonkan syafaa'at kepada Kanjeng Syaikh agar saya dapat sembuh kembali. Maka ketika diaturkan, Kanjeng Syaikh pun memberinya syafa'at dengan mengatakan : Sungguh saya berikan syafa'at kepadanya. Maka keluarlah kedua Syaikh itu menemui pemuda tadi memberitahukan bahwa Kanjeng Syaikh sudah memberi syafa'at kepadanya. Maka berdirilah pemuda tadi dan keluar melalui jendela rumahnya lalu terbang ke udara. Kemudian kedua Syaikh tadi kembali menghadap Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau dan keduanya menanyakan tentang hal ihwal pemuda tadi. Maka Kanjeng Syaikh menjelaskan bahwa pemuda yang terbang tadi sesungguh nya berkata dalam hatinya : Tidak ada di Baghdad ini, seorangpun yang bisa seperti saya, maka itulah saya lenyapkan kehebatannya, kalau bukan karena Syaikh Ali, kehebatannya tidak akan saya kembalikan.
Dan dari karomahnya lagi, bahwa Syaikh Abal Hasan Al-Ma'ruf bin Thonthonah Al-Baghdadi semoga Allah ta'ala memberi rahmat kepadanya, berkata pada hari wafatnya Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), semoga Allah mensucikan rahasia-rahasianya dan memberi cahaya makamnya : Sewaktu saya belajar di pondok Kanjeng Syaikh, saya tidak pernah tidur malam dikarenakan sibuk memperhatikan keperluan Kanjeng Syaikh. Pernah pada suatu malam bulan Shafar 553 H, beliau kaluar dari rumahnya, sayapun menghaturkan sebuah kendi kepada beliau, tetapi tidak mau menerimanya dan menuju madrasah yang pintunya terkunci, lalu beliau menudingnya, tiba-tiba pintu tersebut membuka sendiri. Kanjeng Syaikh keluar dan saya membelakanginya dengan berkata dalam hati : Sungguh Kanjeng Syaikh tidak tahu kalau sedang saya ikuti dari belakang, kemudian pintu madrasah itu menutup sendiri. Kemudian beliau menuju ke pintu kota Baghdad, demikian juga pintu kota membuka sendiri setelah ditudingnya, tidak begitu beliau berjalan sampai di satu tempat yang belum saya kenal, maka beliau masuk ke suatu tempat yang terdapat sebuah bangunan menyerupai pondok. Tiba-tiba di dalamnya ada enam orang sedang duduk, setelah melihat Kanjeng Syaikh mereka berdiri mengucapkan salam penghormatan kapada beliau dan saya bersembunyi di belakang tiang pondok itu. Kemudian saya mendengar suara rintihan dari tempat tersebut, sesaat kemudian suara rintihan tadi sudah tidak terdengar lagi, kemudian masuk orang laki-laki ke tempat di mana terdengar rintihan tadi dan kemudian keluar lagi dengan membopong seorang laki-laki dari tempat tadi. Ketika itu juga datanglah seorang yang tidak memakai tutup kepala dan berkumis panjang dan berhenti di depan Kanjeng Syaikh yang kemudian diperintah untuk ikrar mengucapkan dua kalimat syahadat lalu dicukur rambut dan kumisnya serta disuruh mengenakan tutup kepala dan diberi nama Muhammad. Dan Kanjeng Syaikh berkata kepada enam orang tadi : Sungguh perintahkan agar Muhammad ini menjadi gantinya orang yang meninggal tadi. Maka enam orang tadi menjawab : Kami dengarkan dan akan kami laksanakan. Setelah itu beliau meninggalkan mereka dan sayapun mengikutinya secara diam-diam, tidak seberapa lama berjalan tiba-tiba sudah sampai kembali dipintu kota Baghdad, maka membukalah pintu itu sebagaimana tadi, lalu sampai pula ke pintu madrasah dan demikian juga, lalu beliau masuk ke rumahnya. Keesokan harinya saya menghadap Kanjeng Syaikh untuk menguji, setelah menghadap saya takut dengan sendirinya kerena kewibawaannya, sampai-sampai saya tidak bisa membaca kitab. Maka beliau berkata : Wahai anakku bacalah dan tidak apa-apa. Kemudian saya mengatakan dan bersumpah agar beliau berkenan untuk menjelaskan kejadian yang saya lihat semalam. Maka beliau menjelaskan : Tempat yang saya kunjungi itu namanya Nahaawandu, dan enam orang itu, mereka adalah wali abdal dan orang yang merintih dalam keadaan sakit itu adalah orang ketujuh dari mereka. Ketika sampai ajalnya, maka saya datang untuk ta'ziyah. Adapun orang yang membawa jenazahnya itu adalah Abul Abas dengan sebutan nabi Khidlir as, ia mengambilnya untuk dirawat yaitu dimandikan, dikafani dan di shalati serta dikuburkan. Dan yang saya ikrarkan mengucapkan dua kalimat syahadat itu adalah Nashroni dari negeri Qusthonthiniyah untuk saya jadikan ganti orang yang meninggal itu.
Syaikh Abdullah Al-Mushaliy bercerita : Sesungguhnya ada seorang raja yang adil terkenal dengan sedutan Al-Mustanjid billahi yaitu Abul Mudhoffar Yusuf datang menghadap Kanjeng Syaikh, semoga Allah mensucikan rahasia-rahasianya dan memberi kesejahteraan, dan mohon untuk dinasehati dengan membawa sepuluh kantong penuh berisi uang yang dibawa oleh sepuluh pembantunya untuk hadiah Kanjeng Syaikh, tetapi Kanjeng Syaikh menolaknya, maka raja itupun merasa kecewa dan mencemoohnya sambil memaksanya agar Kanjeng Syaikh sudi untuk menerimanya. Maka Kanjeng Syaikh mengambilnya dua kantong tadi, maka mengalirlah darah. Maka Kanjeng Syaikh berkata kepada raja : Apakah raja tidak malu kepada Allah ta'ala dengan memeras darahnya rakyat yang kemudian raja serahkan kepada saya dengan memaksanya? Seketika itu juga sang raja menjadi pingsan. Kanjeng Syaikh berkata : Demi Dzat Yang Maha Agung dan yang berhak disembah, seandainya saya tidak menghormati nasabnya yang bersambung dengan Rasulullah saw, pasti saya biarkan darah itu terus mengalir sampai di rumahnya.
Syaikh Abdullah Al-Mushaliy menceritakan lagi : Pada suatu hari saya menyaksikan raja Abul Mudhoffar Yusuf berada di depan Kanjeng Syaikh, maka mengatakan kepada beliau : Saya ingin melihat sesuatu dari kekaromahan untuk menenangkan hati saya. Kanjeng Syaikh bertanya : Apa yang engkau kehendaki? Jawab sang raja : Saya menginginkan buah apel dari alam ghoib. Padahal di Iraq waktu itu tidak ada musim apel. Maka Kanjeng Syaikh menjulurkan tangannya ke udara, tiba-tiba di tangannya ada dua buah apel, maka yang satu diberikan kepada raja dan satunya lagi dipegang. Kemudian Kanjeng Syaikh memecah apel yang di tangannya, maka tiba-tiba apel itu warnanya putih bersih, harum baunya bagaikan kasturi. Dan raja itupuin juga memecah apel yang di tangannya, maka tiba-tiba apel itu penuh dengan ulat. Maka raja itu berkata : Kenapa begini sedangkan apel yang di tangan Syaikh baik sekali. Kanjeng Syaikh berkata : Wahai Abul Mudhoffar, apel ini di tangan orang lalim maka akan mengeluarkan ulat sebagaimana kau lihat, sedang apel ini berada di tangan kekasihnya Allah, maka menjadi harum baunya dan nikmat. Dan cerita apel ini sudah pada kisah di muka yang dibawa oleh raja diaturkan kepada Kanjeng Syaikh.
Dan kekaromahan beliau masih lenih banyak dari yang sudah diterangkan dan lebih agung lagi sampai-sampai tidak bisa diterangkan. Semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau dan atas kita berkah keridlohan-Nya dan pertolongan kita atas pertolongan-Nya Yang Maha Luas.
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
Adalah Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, telah berkata, bahwa beliau melahirkan rasa syukur atas kenikmatan yang diberikan kepadanya, karena firman Allah ta'ala : Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut- nyebutnya
Tiada seorang muslim yang melewati pintu madarasahku, melainkan Allah akan meringankan siksa yang menimpa padanya dihari kiamat. Dan diberitakan bahwa sesungguhnya ada seorang yang menjerit-jerit dalam kuburnya, maka Kanjeng Syaikh mendatangi kubur itu dan berkata : Sesungguhnya orang ini pernah mengunjungi saya sekali, maka semestinya Allah mengasihinya. Maka sejak itu tidak lagi terdengar suara menjerit-jerit dari dalam kubur tadi.
Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, berkata : Syaikh Husain Al-Halaj pernah terpeleset satu kali dalam menjalankan kewaliannya, hanya saja waktu itu tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya, seandainya saya hidup pada zamannya, pasti saya akan menolongnya, karena saya akan menolong orang-orang yang terpeleset dari sahabat-sahabatku, murid-muridku dan orang-orang yang cinta kepadaku sampai hari kiamat, saya gandeng tangannya, baik mereka masih hidup maupun setelah mati. Disebabkan karena kudaku sudah terpasang pelananya dan tombakku sudah tertancapkan dan pedangku sudah terhunus dan anak panahku sudah terpasang busurnya untuk menjaga santriku yang sedang lupa.
Dan Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, berkata lagi : Saya ini ibarat apinya Allah yang telah dinyalakan. Saya ini Waliyullah yang akan merobek setiap orang yang tidak punya sopan santun kepadaku dan saya diberi ilmu bagaikan lautan yang tidak bertepi, saya ini dijaga oleh Allah, saya waliyullah yang diperhati kan. Wahai orang-orang yang berpuasa disiang hari, wahai yang ber tahajjud dimalam harinya, wahai orang-orang yang tinggal digunung yang sudah dibinasakan gunung-gunugnya, wahai orang-orang ahli gereja yang sudah dirobohkan gereja-gerejanya, menghadaplah kalian untuk taat melaksanakan perintah-perintah Allah, wahai wali rijal, wahai wali abthol, wahai wali athfal, kemarilah kalian kepadaku, ambillah ilmu dari waliyullah yang bagikan lautan yang tiada bertepi.Wahai Tuhan Yang Maha Agung, Engkaulah satu-satunya yang menguasai mahluk di langit dan bumi, dan saya orang yang menyatukan hatiku hanya musyahadah kepada-MU di bumi. Dikatakan kepadaku antara siang dan malam tujuh puluh kali : Aku (Allah) memilihmu dengan Dzat-Ku. Dan diucapkan lagi kepadaku tujuh puluh kali : Kamu dijadikan atas pemeliharaan-Ku. Demi keagungan Tukanku, bahwa orang-orang yang beruntung dan celaka diperlihatkan kepadaku dan diberhentikan dihadapanku dan sungguh nur mataku ada yang tinggal di lauhil mahfudh, saya adalah waliyullah yang bisa melihat kejadian yang telah lalu, saya waliyullah yang besok hari kiyamat dijadikan hujjatullah untuk kamu sekalian, saya sebagai pengganti dan pewaris Rasulullah saw, dikatakan kepadaku : Wahai Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), bicaralah, maka dari ucapanmu akan didengar/diterima. Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), barkataa : Demi Allah saya tidak akan minum sehingga dikatakan kepadaku : Wahai Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), dengan hak-Ku untukmu silahkan minum. Serta tidak makan sehingga diucapkan kepadaku : Dengan hak-Ku untukmu silahkan makan dan Saya telah selamatkan kamu dari segala yang merusak. Masa tahun, bulan, seminggu dan hari, semuanya memberi salam kepadaku serta memberitakan kejadian-kejadian pada waktu-waktu tersebut. Pada suatu ketika beliau berada di atas kursinya dan berkata : Apabila kamu minta kepada Allah, maka mintalah dengan tawasul kepadaku.
Adalah Kanjeng Syaikh ra warna kulitnya sawu matang, kedua alisnya bertemu, jenggotnya lebat dan panjang, dadanya bidang, badan nya ramping, tingginya sedang, suaranya nyaring, dan merdu, mudah menetes air matanya, sangat takut kepada Allah ta'ala, besar kewibawaan nya, do'anya mustajabah, luhur budi pekertinya, keatas maupun kebawah keturunannya baik, paling jauh-jauhnya manusia dari perbuatan jahat, dan sedekat dekatnya manusia kepada perbuatan yang benar, sangat dimurkanya bila mengetahui larangan Allah diterjang, tidak marah karena hanya menuruti hawa nafsunya, tidak mau menolong karena selain Allah, tidak pernah menolak orang minta-minta walaupun salah satu bajunya yang diminta, pertolongan Allah yang menjadi dasar pokok hidupnya. Semua thoriqnya dikuatkan oleh Allah, ilmunya menjadi pembersih kotoran, pendekatannya kepada Allah menguatkan kewaliannya, ingat kepada Allah dengan hudlur yang menjadi gudang nya, ma'rifatnya kepada Allah menjadi bentengnya, munajatnya kepada Allah menjadi amal perbuatannya, kewaspadaannya sebagai peng-hubung dirinya kepada Allah, mesra kepada Allah menjadi kawan berbincangnya, lapang dada menjadi kecintaannya, kebenaran menjadi lambang hidupnya, terbukanya hati menjadi bekalnya, sifat penyantun menjadi wataknya, dzikir kepada Allah menjadi ucapannya, persaksian nya kepada Allah menjadi obat, peraturan agama menjadi jembatan nya, semua sifat-sifat ilmu hakikat menjadi kepribadiannya, menyerah dan puas akan ketentuan Allah, dengan menyadari tidak ada daya dan kekuatan kecuali pertolongan dari Allah, thoriqohnya menurut tauhid, meyakinkan ke Esaan Allah, dzikir dengan hati yang hudlur pada waktu bertandang ibadah kepada Allah, beliau adalah seorang yang sangat menyadari akan kejadiannya sebagai hamba Allah, dengan secara rutin beribadah kepada Allah, bukan untuk sesuatu dan tidak karena sesuatu, tetapi ibadahnya ikhlas karena sebagai hamba yang setia kepada sifat-sifat kesempurnaan Allah dan beliau adalah hamba Allah yang agung, yang selalu menyatu jiwanya dengan Allah waktu berdzikir dan disertai menepati terhadap hukum-hukum Allah. Keistimewaan-keistimewaan Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, masih banyak lagi, perilaku utamanya namapak jelas, bahkan lebih terang dari matahari diwaktu duhur. Beliau wafat pada hari jum'at tanggal sebelas, Rabi'ul akhir 571 H. Umurnya sembilan puluh satu tahun. Makamnya dikampung Bebul Aroj, Baghdad dan banyak dikunjungi orang dari berbagai manca negara. Semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, dan memberikan kemanfa'atan kepada kita semua sebab beliau, ya Allah kabulkan, ya Allah kabulkan.
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
Dan setelah sampai apa yang menjadi keinginan kami dan telah sempurna apa yang menjadi tujuan kami, dengan sopan dan rendah hati, kita angkat tangan kita kehadapan Allah ta'ala dengan berwasilah kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani serta keturunannya yang memiliki pribadi mulia dan perilaku terhormat, maka kita berdoa :
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang, Ya Allah, sungguh kami mohon kepada-Mu dengan perantara nafas-nafas orang-orang yang ma'rifat dan agung yang mengetahui rahasia-rahasia suci, sebagai pewaris Nabi Muhammad saw, yang mempunyai kedudukan tinggi ada di hamparan di sisi Allah, dengan perantara orang-orang yang mengikuti jejak Kanjeng Syaikh yang lebih terang dan dengan perantara orang yang menimba air minum ma'rifat Kanjeng Syaikh yang lebih manis dan lebih agung airnya, untuk memberikan pertolongan-Mu kepada kami dengan perantaraan keharuman nafas orang-orang yang mengikutu jejak kanjeng Syaikh, dan dekatkanlah kami dengan buah-buahnya orang yang mengikuti jejak Kanjeng Syaikh. Wahai arwah yang disucikan, wahai wali-wali pemungkas, wahai wali kutub, wahai wali yang menjadui dua imam, wahai wali paku jagat, wahai wali abdal, wahai wali yang waspada akan firman-firman Allah, wahai wali yang dermawan, wahai wali yang mengetahui batinnya manusia, wahai wali pembela agama Allah, wahai wali yang mempunyai budi pekerti yang luhur, wahai wali penyelamat, wahai wali yang ber ilmu, wahai wali yang lapang dada, wahai wali yang ahli menjaga jiwanya dan pengasih, wahai wali yang ahli menghormat tamu, wahai wali yang ahli mengumpulkan ilmu syari'at, thoriqot, hakikat dan ma'rifat. Wahai wali yang ahli menjaga nafasnya dengan dzkir, wahai wali yag tidak kelihatan diantara kami dan yang kelihatan, wahai wali yang ahli meningkatkan ketaatan kepada Allah, wahai wali yang berwibawa dan memiliki keagungan, wahai wali yang yang terluka hatinya, wahai wali yang terus naik derajat luhurnya, wahai wali yang ahli memerangi nafsunya, wahai wali penolong, wahai waliyang ahli menerima ilham yang suaranya bagaikan bel, wahai wali yang menjadi paku jagat yang mengalahkan, wahai wali kutub yang hatinya lunak, wahai wali yang menerima firman dari rof-rof, putra wali yang menerima firman dari Arsy, wahai wali yang merasa cukup, wahai wali kutub penakut kepada Allah, wahai wali yang kuat keyakinannya denagn ilmu hikmah dan ma'rifatnya, wahai wali yang menjadi penggantinya Rasul, wahai wali yang menetap pada enam arah, wahai wali tang tidak menempakkan kebaikannya dan tidak memendam kejahatannya, wahai para wali yang mengharapkan rahmat Allah, wahai para wali yang bersih jiwanya, wahai para wali yang ahli ibadah, wahai parawali yang menjauhi dunia, wahai para wali yang berjalan di atas air, wahai para wali yang menyendiri, wahai para wali kepercayaan Allah, wahai para wali yang selalu membaca Al-Qur'an, wahai para wali yang menjadi kekasih Allah, wahai para wali yang tinggi pangkatnya, wahai para wali yang ahli hadits, wahai para wali yang ahli bangun malam bermunajat kepada Allah, wahai para wali yang mewarisi para wali yang selalu merasa dholim kepada dirinya serta menuju dan berlomba kepada kebaikan, wahai roh-roh yang suci dari golongan wali yang dapat melihat rahasia dan yang nyata. Semoga engkau semua para wali membantu kami untuk mendapat kan yang kami minta, memudahkan yang kami kehendaki, menyemangatkan tujuan kami, menyelamatkan dari perkara yang kami takutkan, menutup cacat-cacat kami, membayar semua hutang kami, menguatkan baik sangka kami, menghilangkan tabir-tabir yang menggelapkan, kebaikan pada akhirnya, melenyapkan segala kesedihan, dan pengampunan dosa-dosa kami.
Wahai hamba-hamba Allah, wahai hamba-hamba Allah @ Tolonglah kami karena Allah
Jadilah kalian penolong kami karena Allah @ Semoga tercapai hajat karena anugerah Allah
Wahai Para wali kutub, wahai para wali yang dermawan @ wahai para sayyid dan habaib
Engkaulah yang memiliki akal sempurna @ kemarilah dan tolonglah karena Allah
Dengan perantaraan engkau kami memohon (2x) @ dengan mengharapkan do'amu kami dekat dengan Allah
Dengan maksud perantaraan Engkau, untuk tercapai urusan kami @ karenanya kokohkanlah tujuan kami karena Allah
.
Wahai Tuhan kami, dengan perantaraan yang menjadi wali-wali @ kokohkanlah petunjuk-Mu kepada kami.
Semoga lekas datang kebahagiaan kami @ semoga waktu kami bersih untuk beribadah karena Allah
Dengan terbukanya tabir penutup mata kami @ dan hilangkan penghalang antara kami dan Allah
Dan terhapusnya keraguan, bagaimana dan dimana Allah @ dengan cahaya Dzat Engkau Ya Allah.
WahaiTuhan kami, semoga kesejahteraan Allah @ dilimpahkan kepada orang yang datang dengan membawa petunjuk kepada kami.
Yaitu nabi Muhammad, yang memberikan islam sebagai agama kami @ dan memberi syafaat kepada para makhluk disisi Allah
Ya Allah, sebagaimana Engkau datangkan kepada kami kitab-Mu yang menjelaskan tatanan hukum agama-Mu, Engkau turunkan wahyu-Mu yang untuk membedakan antara yang halal dan yang haram dan Engkau bangkitkan untuk menghadang pahala membaca kitab-Mu yang agung. Engkau telah menakutkan kami akan siksa-Mu yang amat pedih atas ancaman firman-Mu, semoga Engkau menjadikan kami dari golongan orang-orang yang lunak hati ketika mendengar ayat-ayat-Mu, tunduk kepada-Mu dengan mengikuti perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan kitab-Mu, maka jadikanlah kitab-Mu ini sebagai pelita perjalanan dengan nur sampai pada halaman-halaman hari kiyamat dan menjadi tangga untuk naik ke kampung kelanggengan.
Ya Allah, dengan kitab-Mu ini, mudahkanlah kami dari kepedihan rasa mati ketika sudah dekat kepada kami saat pemberangkatan ke kampung baka' dan ketika roh kami sudah sampai di tenggorokan, dan malakul maut yang hendak mencabut nyawa sudah nampak dari tutup kesamaran, serta diucapkan : Siapakah yang dapat mengobati sakitnya mati, dan telah menyatu betis yang satu dengan lainnya, pada hari itu tempat sampai digiring kepada Tuhanmu, kemudian semua catatan amal dikalung kan di leher-leher mereka.
Ya Allah, janganlah Engkau mengikat tangan ke leher yaitu tapak-tapak tangan yang menadah kepada-Mu dengan penuh sopan dan menjadi kan berpegangan waktu mengerjakan shalat untuk-Mu dan ketika ruku' dan sujud kehadirat-Mu. Dan janganlah Engkau ikat dengan rantai neraka jahim kaki-kaki yang suka berjalan kepada-Mu dan keluar dari rumah-rumah menuju ke masjid-masjid karena sangat mengharapkan pahala yang ada pada-Mu, dan janganlah Engkau jadikan tuli pendengaran yang dapat merasa kan lezatnya dengan hiasan bacaan kitab-Mu yang mulya dan jangan Engkau menghapus dengan kebutaan mata-mata yang menangis dalam kegelapan malam karena takut dari siksa-Mu yang amat sangat.
Ya Allah semoga Engkau tetapkan rahmat dan keselamatan-Mu untuk junjungan kami Nabi Muhammad yang memberikan syafa'atnya kepada orang-orang yang mempunyai dosa-dosa, dan juga untuk keluarganya serta para sahabatnya yang menjadi pengobat hati dan juga untuk umatnya yang telah Engkau bukakan bagi mereka semua penutup hati dan telah Engkau perkenankan semua yang mereka suakai selagi masih berhembus angin kasturi di waktu sahur dan masih menyebar bau harum dalam majlis yang dibacakan manaqib/riwayat orang-orang terpilih lagi suci hatinya bagaikan misik. kabulkanlah ya Allah kabulkanlah.
Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai sifat menang dari segala perkara yang disifatkan oleh orang-orang kafir, dan semoga keselamatan ditetapkan kepada semua utusan Allah. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.
SYEIHK ABD QODIR AL JAILANI R.A
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِىْ أَرْسَلَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَامِلِ الشَّرِيْعَةِ وَخَالِصِ الدِّيْنِ _ وَ حَلىٰ جِيْدَ رِسَالَتِه۪ بِبَاهِرِ الْخَوَارِقِ وَأَيَّدَهُ بِكُمَاةِ اْلأَصْحَابِ الْمُهْتَدِيْنَ _
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih ladi Maha PenyayangSegala puji bagi Allah yang telah mengutus junjungan kita Nabi Muhammad saw dengan membawa syari'at yang sempurna dan agama yang murni, yakni agama Islam serta menghiasi atas kerasulannya denga berbagai mu'jizat dan lagi diperkuat para sahabatnya yang pemberani dan mendapat hidayah (petunjuk dari Allah)
وَخَصَّ مَنْ شآءَ مِنْ أَتْبَاعِ مِلَّتِه۪ بِالرُّقِيِّ إِلٰى أَوْجِ الْمَعَارِفِ وَالْحَقآئِقِ _ وَأَفَاضَ عَلَيْهِمْ مِنْ بُحُوْرِ مَوَاهِبِ الَّلدُنِّـيَّةِ ظُرَفَ اللَّطآئِفِ وَشَوَارِقَ الرَّقآئِقِ _
Dan Allah memberi keistimewaan kepada siapa yang dikehendaki dan pengikut-pengikut agama-Nya. Dinaikkan ketingkat ilmu ma'rifat dan haqiqot serta memberi siraman lautan ilmu laduni dan ilmu lathifah serta pelita ilmu Ke-Tuhanan
فَأَصْبَحُوْا هُدَاةَ الْأُمَّةِ وَقَادَتَهَا إِلٰى اْلعَزِيْزِ اْلعَلِيْمِ _ سَالِكِيْنَ بِعِبَادِ اللهِ تَعَالٰى مِنْ سُبُلِ اْلإِرْشَادِ أَعْلَى الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمِ _
Lantaran itu, mereka jadi juru petunjuk umat dan perintis kejalan Allah yang Maha Agung lagi Maha Mengetahui, mengajak hamba-hamba Allah lewat di jalan setinggi-tingginya jalan yang lurus.
وَآلَ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ زَاكِيَ الصَّلَوَاتِ وَالتَّسْلِيْمِ _ وَوَفَّقَنَا لِلْإِهْتِدآءِ بِهُدَاهُمْ وَاْلإِقْتِدآءِ بِآثَارِهِمْ _ وَاْلإِقْتِبَاسِ مِنْ مِشْكَاةِ أَنْوَارِهِمْ فِى حِنْدِسِ الْجَهْلِ اْلبَهِيْمِ _ مَا عَطَّرَتْ مَنَاقِبُهُمْ مَعَاطِسَ اْلأَسْمَاعِ اْلوَاعِيَةِ _ وَتُلِيَتْ آيُ فَضآئِلِهِمْ فَكَانَتْ إِلٰى النُّهُوْضِ إِلٰى اللهِ دَاعِيَةً _
Dan semoga Allah senantiasa mencurahkan sholawat dan salamnya kepada junjungan Nabi Muhammad saw. Dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti agama Islam dan semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk memperoleh hidayah melalui petunjuk-petunjuk beliau, mengikuti amalan-amalannya serta mendapatkan pembagian nur (cahaya) dari orang-orang tersebut agar dapat menghilangkan kegelapan, kebodohan, selagi manaqibnya orang-orang tersebut masih harum semerbak, berkumandang didengar, lestari dawuh dawuh kebenaran riwayat keutamaanya, yang demikian itu akan membangkitkan semangat ta'at dan kebaktian kepada Allah
( أَمَّا بَعْدُ ) فَيَقُوْلُ الْمُفْتَقِرُ إِلٰى فَضْلِ الْكَرِيْمِ الْمُنْجِىْ _ جَعْفَرُ بْنُ حَسَنِ بْنِ عَبْدِ اْلكَرِيْمِ اْلبَرْزَنْجِىْ _ هٰذِهِ نُبْذَةٌ مِنْ أَحْوَالِ اْلقُطْبِ الرَّبَّانِىِّ _ وَالْغَوْثِ الصَمَدَانِىِّ سُلْطَانِ اْلأَوْلِيآءِ اْلعَارِفِيْنَ _ وَإِمَامَ اْلعُلَمآءِ السَّالِكِيْنَ النَّاهِلِيْنَ مِنْ بَحْرِ الْحَقِيْقَةِ وَاْلغَارِفِيْنَ _ اَلسَّيِّدِ الشَّرِيْفِ _ وَالسَّنَدِ اْلغِطْرِيْفِ _ اَلْحَسِيْبِ النَّسِيْبِ _ ذِى الْمَقَامِ اْلأَعْلىٰ وَالنَّادِى الرَّحِيْبِ _ سَيِّدِى الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ الْجِيْلَانِىّ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، (اَلْفَاتِحَةُ) بَلَّغَهُ اللهُ تَعَالٰى بِنَفْسِهِ اْلقَوِيِّ وَالْحَفِيِّ جَنَّةَ اْلقُرْبِ وَاْلأَمَانِيِّ _
Adapun setelah itu semua: Maka berkatalah orang yang membutuh kan kemurahan Dzat yang Maha Mulya dan Maha Penyelamat, yakni Syaikh Ja'far bin Hasan bin 'Abdil Karim Al-Barzanjiyyu : Kitab manakib ini hanya merupakan bagian kecil penjelasan perilaku wali Quthub yang bisa memberi pertolongan, sebagai perantara agar terkabul tujuannya, pimpinan para wali arif billah, Imamnya para ulama berjalan dijalan Allah untuk meraih lautan haqiqot, yaitu Sayyid yang mulya, dirinya dijadikan sandaran yang amat indah, keturunan bangsawan yang memiliki derajat yang tinggi, memiliki perkumpulan majlis yang besar, yaitu sayyid yang besar, yaitu Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), Semoga Allah Yang Maha Kuat lagi Sempurna menyampaikan Syaikh ke surga yang dekat kepada Allah dan berhasil harapannya.
وَعِقْدٌ نَظَمْتُه۫ مِنْ فَرآئِدِ عَـمَلِه۪ وَقَوْلِه۪ _ لِتَتَشَنَّفَ بِدُرَرِهِ أَسْمَاعُ الْحَاضِرِيْنَ عِنْدَ عَمَلِ مُهِمِّه۪ وَحَوْلِه۪ _
Kitab manakib ini bagaikan untaian yang dirangkum dari berbagai intan permata berisi fatwa-fatwa dan amalan Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani agar dapat dijadikan perhiasan yang diperdengarkan kepada yang hadir pada saat dibacakan dalam amalan-amalan yang penting dan pada peringatan-peringatan ulang tahun wafatnya Syakih Abdul Qadir Al-Jilani.
اِنْتَخَبْتُه۫ مِنْ كَلاَمِ بَعْضِ أَرْبَابِ الطَّرِيْقَةِ _ وَمَنْ لَه۫ فِىْ حَضْرَةِ الشَّيْخِ عَقِيْدَةٌ مُحْكَمَةٌ وَمَحَبَّةٌ وَثِيْقَةٌ _ كاَ لشَّيْخِ عَبْدِ اْلوَهَّابِ الشَّعْرَنِىّ اَلَّذِىْ لَاحَ لَهُ اْلفَلَاحُ _ وَالسِّرَاجِ الدِّمَشْقِيِّ صَاحِبِ كِتَابِ نِتَاجِ اْلأَرْوَاحِ _
Kitab manaqib ini kami ambilkan dari keterangan para ulama ahli Thoriqoh dan para ulama yang mempunyai keyakinan yang mantap, kecintaanya kokoh kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani seperti waliyullah Syaikh Abdul Wahan As-Sya'roni yang sudah terbukti keberuntungannya dan waliyullah Syaikh sirojid Dimisqiy penyusun kitab Nitajul Arwah.
رَغْبَةً فِى نَشْرِ أَحْوَالِ اْلكُمَّلِ وَبَثِّ مَنَاقِبِ اْلأَخْيَارِ _ وَاسْتِنْزَالًا لِصَيِّبِ الرَحَمَاتِ وَاْلبَرَكَاتِ اْلغِزَارِ _ إِذْ بِذِكْرِهِمْ تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمٰوَاتِ اْلعَلِيَّةِ _ وَتَنْهَلُّ مِنْ حَظِيْرَةِ اْلقُدْسِ سُحُبُ اْلفُيُوْضَاتِ اْلإِلٰهِيَّةِ _
karena didorong rasa cinta, kami sebar luaskan manaqib para wali yang telah mencapai tingkat kesempurnaan amalnya, juga menyebarkan manaqib para wali yang terpilih, serta mengharapkan turunnya rahmat yang melimpah dan barokah yang banyak, karena dengan menyebut-nyebut hal ihwal para ulama, waliyullah tersebut, menyebabkan terbukanya barokah dari pintu langit yang tertinggi, juga turunya mendung kemurahan dari Allah swt.
وَفَصَّلْتُه۫ بِوَسآئِطَ مِنْ لَآلِى التَّرِاضِى عَنْهُ _ وَطَلَبِ اْلإِمْدَادِ بِأَسْرَارِه۪ _ فَلْيَجْهَرْ بِذِكْرِهِ الْحَاضِرُوْنَ عِنْدَ بُلُوْغِ اْلقَارِئِ إِلَيْهَا فِىْ أَخْبَارِه۪ _ وَ سَمَّيْتُه۫ بِالُّلجَيْنِ الدَّانِىّ _ فِىْ ذِكْرِ نُبْذَةٍ مِنْ مَنَاقِبِ اْلقُطْبِ الرَّبَّانِىّ _ سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ الْجِيْلَانِىّ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ)
Dan aku lepaskan/sampaikan dengan perantara keluarga yanag mendapat ridho serta memohon pertolongan dengan egala kerahasian-Nya. maka keraskan/semarakkan dengan dzikir. Orang-orang yang mengharap dzikir pembaca sampai kepadanya dengan segala kabarnya dan saya menamakan sebagai perak yang hina dalam mengingat/ berdzikir sebagaian dari sifat (kebaikan) yang dimiliki junjungan kita Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah),
(فَأَقُوْلُ) هُوَ الشَّيْخُ الْكَامِلُ _ وَالْجِهْبِذُ اْلوَاصِلُ _ ذُو الْمَقَامَاتِ اْلعَالِيَةِ الشَّرِيْفَةِ _ وَاْلأَقْدَامِ الرَّاسِخَةِ _ وَالتَّمَكُّنِ التَّامِّ وَاْلأَحْوَالِ الْمُنِيْفَةِ _ وَالْكَمَالَاتِ الشَّامِخَةِ _ اَلْقُطْبُ الرَّبَّانِىّ _ وَالنُّوْرُ السَّاطِعُ اْلبُرْهَانِىّ _ وَالْهَيْكَلُ الصَّمَدَانِىّ _ وَاْلغَوْثُ النُّوْرَانِىّ _ وَهُوَ أَبُوْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اْلقَادِرِ الْجِيْلَانِىّ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) اِبْنُ أَبِىْ صَالِحِ مُوْسٰى جَنْكِىْ دَوْسَتْ _
Maka kami katakan : Bahwa Kanjeng Syaikh adalah menjadi Syaikhuts tsaqolain, yaitu Syaikhnya jin dan manusia yang sempurna, juga wali yang mempunyai kewaspadaan yang sempurna wusul kepada Allah dan mempunyai kedudukan luhur lagi mulya serta mempunyai martabat yang tetap dan derajat yang sempurna dan perilaku yang luhur serta kesempurnaan yang tinggi, juga menjadi wali Quthub yang ahli ma'rifat kepada Allah, dan menjadi pemimpin pertolongan penerangan hati, yaitu Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jilani, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), putra Syaikh Abi Sholih Musa Janki Dausat.
وَقِيْلَ : جَنْكَا دَوْسَتْ _ اِبْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَحْيٰى الزَّاهِدِ ابْنِ مُحَمَّدِ ابْنِ دَاو۫دَ بْنِ مُوْسٰى ابْنِ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مُوْسٰى الْجُوْنِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ الْمَحْضِ ابْنِ الْحَسَنِ الْمُثَنَّى ابْنِ الْحَسَنِ السِّبْطِ ابْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِىْ طَالِبٍ _ وَابْنِ فَاطِمَةَ الزَّهْرآءِ اْلبَتُوْلِ _ بِنْتِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّسُوْلِ _
Disebut juga : Janka Dausat putranya Syaikh Abdillah bin Yahya Az-Zahid bin Musa Al-Juni bin Abdillah Al-Mahdli bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan As-Sibthi bin Ali bin Abi Tholib. Dan putranya Syarifah Fatimah Az-Zahro' Putri dari junjungan kita Muhammad saw yang menjadi Rasul.
نَسَبٌ كَأَنَّ عَلَيْهِ مِنْ شَمْسِ الضُّحٰى نُوْرًا _ وَمِنْ فَلَقِ الصَّبَاحِ عَمُوْدًا
نَسَبٌ لَه۫ فِىْ وَجْهِ آدَمَ لُمْعَةٌ _ مُنِحَتْ مَلآئِكَةُ السَّمآءِ سُجُوْدًا
نَسَبٌ كِتَابُ اللهِ أَوْفٰى حُجَّةً _ فِىْ مَدْحِه۪ مَنْ ذَا يَرُوْمُ جُحُوْدًا
Nasab atau silsilah keturunan Sayikh Abdul Qodir Itu bagaikan matahari di waktu duha@ bagaikan siang untuk munculnya cahaya waktu subuh. @ Silsilah keturunan Syaikh ini sudah melekat diwajah Nabi Adam as @ karena itu malaikat langit diperintah sujid kepada Adam as @ Juga nasab ini sudah disanjung dalam kitabnya Allah@ karenanya siapa yang sengaja ingkar silsilahnya akan terkalahkan dalilnya @
اللهم انْشُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ
وَأَمِدَّنَا بِلْأَسْرَارِ الَّتِىْ أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
وُلِدَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِجِيْلَانَ _ وَهِيَ بِلَادٌ مُتَفَرِّقَةٌ مِنْ وَرآءِ طَبَرِسْتَانَ _ فِىْ سَنَةِ إِحْدٰى وَسَبْعِيْنَ وَأَرْبَعِ مِائَةٍ _ وَكَانَ فِىْ طُفُوْلِيَّتِه۪ يَمْتَنِعَ مِنَ الرَّضَاعَةِ فِىْ نَهَارِ رَمَضَانَ _ عِنَايَةً مِنَ اللهِ تَعَالٰى بِه۪ _ وَلَمَّا تَرَعْرَعَ وَسآرَ إِلٰى طَلَبِ اْلعُلُوْمِ وَقَصَدَ كُلَّ مِفْضَالٍ عَلِيْمٍ _ وَمَدَّ يَدَه۫ إِلٰى اْلفَضآئِلِ فَكَانَ أَسْرَعَ مِنْ خَطْوِ الظَّلِيْمِ _
Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dilahirkan di dusun Jilan, kota terpencil di luar kota Tobaristan, pada tanggal 1 Ramadhan 471 H. Pada waktu beliau masih bayi, disiang hari bulan Ramadhan, beliau tidak mau menetek (menyusu), karena inayah dari Allah kepada beliau. Dan ketika usianya mendekati baligh, Kanjeng Syaikh gemar mempelajari ilmu pengetahuan, mengunjungi para ulama yang mulia lagi berpengetahuan tinggi, dengan amalan-amalan sholihnya mencapai derajat yang utama, maka kemajuannya dalam bidang ilmu dan amal-amal utamanya sangat maju bahkan ibarat lebih dari burung merak.
وَتَفَقَّهَ بِأَبِى اْلوَفاَ عَلِيِّ ابْنِ عَقِيْلٍ _ وَأَبِى الْخَطَّابِ الْكَلْوَذَانِىّ مَحْفُوْظِ بْنِ أَحْمَدَ الْجَلِيْلِ _ وَأَبِى الْحُسَيْنِ مُحَمَّدِ ابْنِ اْلقَاضِىْ أَبِىْ يَعْلىٰ _ وَغَيْرِهِمْ مِمَّنْ تُنَصُّ لَدَيْهِ عَرآئِسُ اْلعُلُوْمِ وَتُجَلّٰى _ وَقَرَأَ الْأَدَبَ عَلىٰ أَبِىْ زَكَرِيَّا يَحْيٰى ابْنِ عَلِيِّ التِّبْرِيْزِىْ _ وَاقْتَبَسَ مِنْهُ أَيَّ اقْتِبَاسٍ _ وَأَخَذَ عِلْمَ الطَّرِيْقَةِ عَنِ اْلعَارِفِ بِاللهِ الشَّيْخِ أَبِى الْخَيْرِ حَمَّادِ بْنِ مُسْلِمِ الدَّبَّاسِ _
Kanjeng Sayikh ra. belajar ilmu fiqih kepada Syaikh Abil Wafa Ali bin Aqil dan kepada Syaikh Abil Khotob Al-Kalwadzani Mahfudh bin Ahmad Al-Jalil, dan Kepada Syaikh Abil Husaini Muhammad bin Al-Qodli abi Ya'la, Juga kepada para ulama yang nampak ilmunya luhur serta derajatnya yang mulya. Dibidang adab Kanjeng Syaikh belajar kepada Syaikh Abi Zakariya yahya bin Ali Ath-Tibrizi. Disitulah Kanjeng Syaikh mengunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk mengali berbagai hal yang bermanfa'at dan berguna. Kemudian Kanjeng Syaikh berbai'at belajar ilmu thoriqoh kepada seorang Guru yang Mursid arif billah, yaitu Syaikh Abil Khoiri Hammad bin Muslim Ad-Dabbas.
وَلَبِسَ مِنْ يَدِ اْلقَاضِىْ أَبِىْ سَعِيْدِ الْمُبَارَكِ الْخِرْقَةَ الشَّرِيْفَةَ الصُّوْفِيَّةَ _ وَتَأَدَبَّ بِآدَابِهِ اْلوَفِيَّةِ _ وَلَمْ يَزَلْ مَلْحُوْظًا بِالْعِنَايَةِ الرَّبَّانِيَّةِ _ عَارِجًا فِى مَعَارِجِ اَْلكَمَالَاتِ بِهِمَّتِهِ اْلأَبِيَّةِ _ آخِذًا نَفْسَه۫ بِالْجِدِّ مُشَمِّرًا عَنْ سَاعِدِ اْلإِجْتِهَادِ نَابِذًا لِمَأْلُوْفِ اْلإِسْعَافِ وَاْلإِسْعَادِ _ حَتّٰى أَنَّه۫ مَكَثَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ سَنَةً سآئِرًا فِى صَحْرآءِ الْعِرَاقِ وَخَرَايَاتِه۪ _ لَا يَعْرِفُ النَّاسَ وَلَا يَعْرِفُوْنَه۫ _ فَيَعْدِلُوْنَه۫ عَنْ أَ مْرِه۪ وَيَصْرِفُوْنَه۫ _ وَقَاسٰى فِىْ بِدَايَةِ أَمْرِهِ اْلأَخْطَارُ _ فَمَا تَرَكَ هَوْلًا إِلَّارَكِبَه۫ وَقَفَّرَ مِنْهُ اْلقِفَارُ _
Kemudian Kanjeng Syaikh meneruskan bai'at toriqohnya kepada Syaikh Qodli Abi Sa'id Al-Mubarok hingga mendapat ijin menjadi Syaikh mursid yang adabiyahnya meniru Syaikh mursyidnya yang sudah sempurnya dan tidak henti-hentinya terpeliharah dari inayah Allah, sehingga derajat kewaliannya terus naik ketingkat kesempurnaan, karena cita-citanya yang luhur beliau dapat mengalahkan sifat yang tercela dan nafsu syaithoniyah yang menyesatkan, juga cancut tali wondo beliau meniggalkan apa yang menjadi kesenangannya dan hal-hal yang mubah (boleh), juga meningalkan keramaian dunia, pergi mengembara ke hutan di negeri Irak selama dua puluh lima tahun sehingga tidak mengenal orang dan tidak dikenal orang, bahkan banyak orang yang mencemooh dan tidak mau memperdulikan, karena keluarga yang menjadi tanggung jawabnya seakan-akan diabaikan. Pada permulaan beliau melakukan pengembaraan memang dirasakan banyak menghadapi tantangan serta kehawatiran-kehawatiran, tetapi semua hambatan itu dapat dihadapi dengan tabah dan tetap melanjutkan pengembaraan kehutan belantara.
وَكَانَ لِبَاسُه۫ جُبَّةَ صُوْفٍ وَعَلىٰ رَأْسِه۪ خُرَيْقَةٌ يَمْشِىْ حَافِيًا فِى الشَّوْكِ وَاْلوَعِرْ _ لِعَدَمِ وِجْدَانِه۪ نَعْلًا يَمْشِيْ فِيْهَا _ وَيَقْتَاتُ ثَمَرَ اْلأَشْجَارِ وَقُمَامَةَ اْلبَقْلِالتُّرْمٰى _ وَوَرَقَ الْحَشِيْشِ مِنْ شَاطِئِى النَّهْرِ _ وَلَايَنَامُ غَالِبًا وَلَايَشْرَبُ الْمَاءَ _
pakaian yang dipakai jubah dari bulu, kepalanya ditutup sobekan kain, berjalan tanpa sandal, melalui tempat-tempat berduri di tanah-tanah terjal, yang demikian itu karena beliau tidak menemukan sandal, makanan nya buah buahan yang masih dipohon, sayur yang sudah dibuang, daun-daun rerumputan yang berada di tepi-tepi sungai, bahkan lebih banyak tidur dan tidak minum.
وَبَقِيَ مُدَّةً لَمْ يَأْكُلْ فِيْهَا طَعَامًا _ فَلَقِيَه۫ إِنْسَانٌ فَأَعْطَاهُ صُرَّةَ دَرَاهِمَ إِكْرَامًا _ فَأَخَذَ بِبَعْضِهَا خُبْزًا سَمِيْدًا وَخَبِيْصًا _ وَجَلَسَ لِيَأْكُلَ وَإِذًا بِرُقْعَةٍ مَكْتُوْبٍ فِيْهَا _ إِنَّمَا جُعِلَتِ الشَّهَوَاتُ لِضُعَفآءِ عِبَادِيْ لِيَسْتَعِيْنُوْا بِهَا عَلَى الطَّاعَاتِ _ وَأَمَّا اْلأَقْوِيآءُ فَمَا لَهُمُ الشَّهَوَاتُ _ فَتَرَكَ الْأَكْلَ _ وَأَخَذَ الْمِنْدِيْلَ وَتَرَكَ مَا كَانَ فِيْهِ _ وَتَوَجَّهَ فِى اْلقِبْلَةِ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَانْصَرَفَ _ وَفَهِمَ أَنَّه۫ مَحْفُوْظٌ وَمُعْتَنًى بِه۪ وَعَرَفَ _
Pernah berhari-hari tidak makan apapun, tiba-tiba dijumpai seseorang yang kemudian memberinya sebuah kantong yang berisi penuh dengan uang dirham sebagai penghargaan kepada beliau. Kemudian diambilnya sebagian untuk membeli tepung, jenang dari kurma dan samin dan duduklah Kanjeng Syaikh untuk menikmati makanan tersebut. Dengan tiba-tiba ada sebuah kertas yang jatuh, tulisanya berbunyi : Syahwat itu dijadikan untuk hamba-hamba-Ku yang lemah, sebagai perantara untuk melaksanakan ta'at kepada Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Ku yang kuat, tentu tidak mempunyai kesenangan syahwat apapun, seketika itu beliau meninggalkan makan, mengambil saputangan untuk membungkus nya dan ditinggalkannya lalu menghadap kiblat shalat dua rakaat, dan kemudian meninggalkan tempat itu. atas kejadian ini beliau sadar, bahwa dirinya dijaga oleh Allah dan selalu dalam pertolongan-Nya.
اللهم انْشُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ
وَأَمِدَّنَا بِلْأَسْرَارِ الَّتِىْ أَوْدَعْتَهَا لَدَي
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
وَرَافَقَهُ الْخَضِرُ عَلىٰ نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ أَوَّلَ دُخُوْلِه۪ اْلعِرَاقَ _ وَلَمْ يَكُنِ الشَّيْخُ يَعْرِفُه۫ _ وَشَرَّطَ عَلَيْهِ الْخَضِرُ أَنْ لَا يُخَالِفَه۫ وَالْمُخَالَفَةُ سَبَبُ اْلفِرَاقِ _ فَقَالَ لَه۫ الْخَضِرُ : أُقْعُدْ هٰهُنَا ! فَقَعَدَ فِى الْمَكَانِ الَّذِىْ أَشَارَ بِاْلقُعُوْدِ فِيْهِ ثَلَاثَ سِنِيْنَ _ يَأْتِيْهِ فِىْ كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً _ وَيَقُوْلُ لَه۫ : لَاتَبْرَحْ عَنْ مَكَانِكَ حَتّٰى آتِيَكَ _
Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ra pertama masuk kota Irak ditemani Nabi Khidir atasnya sutama-utama shalawat dan salam. Dan beliau belum mengenalnya yang kemudian Nabi Khidir memberikan persyaratan-persyaratan yang tidak boleh sekali-kali menyimpang, karena penyimpangan akan menjadi sebab perpisahan keduanya. maka Nabi Khidir berpesan kepada Syaikh : Duduklah ditempat ini. Maka duduklah Kanjeng Syaikh di tempat yang disyaratkan sampai tiga tahun yang setiap tahun sekali Nabi Khidir datang ke situ. Dan kemudian berpesan lagi : Jangan sekali-kali meningalkan tempat ini, sampai aku datang lagi.
وَنَامَ مَرَّةً فِىْ إِيْوَانِ كِسْرٰى مِنَ الْمَدآئِنِ فِىْ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ _ فَاحْتَلَمَ وَذَهَبَ إِلَى الشَّطِّ وَاغْتَسَلَ _ ثُمَّ نَامَ فَاحْتَلَمَ وَذَهَبَ إِلَى الشَّطِّ وَاغْتَسَلَ _ وَوَقَعَ لَه۫ ذٰلِكَ فِىْ تِلْكَ الَّليِلَةِ أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً _ ثُمَّ صَعِدَ عَلىٰ جِدَارِ اْلإِيْوَانِ خَوْفًا مِنَ النَّوْمِ مُحَافَظَةً عَلَى الطَّهَارَةِ _ وَكَانَ كُلَّمَا أَحْدَثَ تَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ _ وَلَايَجْلِسُ عَلىٰ حَدَثٍ قَطٌّ_
Pernah pada waktu riyadloh Kanjeng Syaikh tertidur di emperan istana raja Madani dimalamnya yang sangat dingin, tiba-tiba mimpi mengeluar kan mani, seketika itu bangunlah beliau lalu pergi ke sungai untuk mandi. Kemudian tidur lagi dam mimpi yang sama, bangunlah beliau dan pergi ke sungai mandi lagi, kejadian itu sampai empat puluh kali dalam semalam itu juga. Kemudian Kanjeng Syaikh naik di atas pagar tembok emperan agar tidak tertidur lagi demi menjaga kelanggengan suci dari hadats. Kebiasaan Kanjeng Syaikh bila berhadats terus berwudhu lalu shalat sunnah dua rakaat sehingga senantiasa suci dan tidak pernah menanggung hadats.
وَلَمْ يَزَلِ اْلإِجْتِهَادُ دَأْبَه۫ حَتّٰى طَرَقَه۫ مِنَ اللهِ الْحَالِ _ وَآنَ أَوَانَ اْلِوصَالِ _ وَبَدَتْ لَه۫ أَنْوَارُ الْجَمَالِ _ فَخَرَجَ عَلىٰ وَجْهِه۪ اْلوَجِيْهِ _ لِايَعِىْ غَيْرَمَا هُوَ فِيْهِ _ وَيَتَظَاهَرُ بِالتَّخَارُسِ وَالْجُنُوْنِ حَتّٰى حُمِلَ إِلَى الْمَارَسْتَانِ مَرَّاتٍ إِلَى أَنِ اشْتَهَرَ أَمْرُه۫ _ وَفَاقَ أَهْلَ عُصْرِه۪ عِلْمًا وَعَمَلًا وَزُهْدًا وَمَعْرِفَةً وَرِيَاسَةً وَقَبُوْلًا _ وَطَارَ صِيْتُه۫ وَسَارَ ذِكْرُه۫ مَسِيْرَ الشَّمْسِ _
Tiada henti-hentinya Kanjeng Syaikh kesungguhannya dalam menjaga wudhu, bahkan hal yang demikian itu menjadi kebiasaan sampai ketingkat wusul kepada Allah swt nampak jelas pancaran nur kewaliannya, sehingga nampak pula diwajahnya cemerlang sifat keluhuran, menghindari segala apa yang harus dihindari, bahkan pernah berpura pura bisu, gila, sampai berkali-kali dibawa ke kota Marostan untuk diobatkan yang demikian itu malah membuat tersohor kewaliannya melebihi ulama pada zamannya. Dibidang keilmuannya dan amalannya, zuhud dan ma'rifatnya, ketokohan dan fatwa-fatwanya dapat diterima siapa saja yang mendengarkan sehingga nama baiknya tersebar dimanca negara bagaikan peredaran surya.
وَحُكِيَ أَنَّهُ اجْتَمَعَ لَه۫ مِائَةُ فَقِيْهٍ مِنْ عُلَمآءِ بَغْدَادَ _ وَجَمَعَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عِدَّةَ مَسآئِلَ وَجآئُوْا إِلَيْهِ لِيَمْتَحِنُوْهُ _ فَلَمَّا اسْتَقَرُّوْا أَطْرَقَ الشَّيْخُ فَظَهَرَتْ مِنْ صَدْرِه۪ بَارِقَةٌ مِنْ نُوْرٍ _ فَمَرَّتْ عَلىٰ صُدُوْرِ مِائَةَ فَقِيْهٍ فَمَحَتْ مَافِىْ قُلُوْبِهِمْ _ وَبُهِتُوْا وَاضْطَرَبُوْا وَصَاحُوْا صَيْحَةً وَاحِدَةً وَمَزَّقُوْا ثِيَابَهُمْ وَكَشَفُوْا رُؤ۫سَهُمْ _ ثُمَّ صَعِدَ الشَّيْخُ عَلَى اْلكُرْسِيِّ وَأَجَابَ عَنْ جَمِيْعِ مَسآئِلِهِمْ _ فَاعْتَرَفُوْا بِفَضْلِه۪ وَخَضَعُوْا لَه۫ ذٰلِكَ الْوَقْتِ _
Diceritakan : Pernah pada suatu ketika seratus ulama ahli fiqih Baghdad berkumpul masing masing membawa masalah, kemudian dikumpulkan, dan menghadap Kanjeng Syaikh perlu menguji kemampuan nya, setelah ulama itu duduk dalam majlis, Kanjeng Syaikh pun menunduk kan kepala, tiba-tiba keluarlah cahaya bersinar dari dadanya menembus ke dada para ulama itu, maka hilanglah apa yang ada pada hati mereka, sampai pada masalah-masalah yang sudah matang dipersiapkan hilang begitu saja, para ulama tadi menjadi kebingungan, gemetar dan seakan-akan tidak berdaya juga kesadarannya, menyobek-nyobek pakaian dan membuka tutup kepalanya. Kemudian Kanjeng Syaikh naik ke kursinya seraya memberikan jawaban yang sudah tersimpan dari masing-masing ulama tersebut, setelah lengkap memberikan jawaban masalah-masalah itu semua, para ulama tadi baru mengakui akan kelebihan Kanjeng Syaikh, lalu mereka tunduk.
وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقْرَأُ فِىْ ثَلَاثَةَ عَشَرَ عِلْمًا _ اَلتَّفْسِيْرَ وَالْحَدِيْثَ وَالْخِلَافَ وَاْلأُصُوْلَ وَالنَّحْوَ وَاْلقِرَاءَةَ وَغَيْرَ ذٰلِكَ _
Adalah Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, tiap-tiap hari mengajarkan tiga belas macam ilmu yaitu : Tafsir Al-Qur'an, Hadits, ilmu Khilaf, ilmu Ushul yakni Ushulul Kalam/ Ushulul Fiqih, ilmu Nahwu, ilmu Qiro'a/Fajwid, ilmu qiro'a/Tajwid, ilmu Huruf, ilmu Arudl/Qowaafi, ilmu Ma'aani, ilmu Badi', ilmu Bayan, ilmu Manthig, dan ilmu Tashowuf/Thoriqoh.
وَكَانَ يُفْتِىْ عَلىٰ مَذْهَبِ اْلإِمَامِ الشَّافِعِىّ _ وَاْلإِمَامِ أَحْمَدَ ابْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا _
Beliau memberi fatwa mengikuti madzhab Imam Syafi'i dan imam Hambali, semoga Allah meridloi keduanya.
وَكَانَ عُلَمآءُ اْلعِرَاقِ يَتَعَجَّبُوْنَ مِنْ فَتْوَاهُ _ وَيَقُوْلُوْنَ : سُبْحَانَ مَنْ أَعْطَاهُ _ وَرُفِعَ إِلَيْهِ مَرَّةً سُؤَالٌ عَجَزَ اْلعُلَمآءُ عَنْ جَوَابِه۪ _ صُوْرَتُه۫ رَجُلٌ حَلَفَ باِلطَّلَاقِ الثَّلَاثِ أَنَّه۫ لَابُدَّ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ تَعَالٰى _ عِبَادَةً يَنْفَرِدُ بِهَا دُوْنَ الْخَلآئِقِ أَجْمَعِيْنَ فِىْ ذٰلِكَ الْوَقْتِ _ فَمَا خِلَاصُه۫ ؟ فَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى اْلفَوْرِ _ خِلَاصُه۫ أَنْ يَأْتِيَ مَكَّةَ الْمُكَرَّمَةَ _ وُيُخَلِّيَ الْمَطَافَ لَه۫ فَيَطُوْفُ أُسْبُوْعًا وَاحِدَةً _ وَتَنْحَلُّ يَمِيْنُه۫ _ فَلِلّٰهِ دَرُّه۫ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Ulama Iraq kagum atas fatwa beliau, sehingga terlontar ucapan dari mereka Maha Suci Allah yang memberikan kepadanya ilmu yang begitu luas. Pernah Kanjeng Syaikh diberi suatu masalah karena semua ulama Baghdad tidak mampu menjawabnya, masalah itu adalah : Ada seseorang yang bersumpah kalau istrinya jadi ditalaq tiga, maka orang tadi harus melakukan ibadah kepada Allah ta'ala, yang ibadahnya tidak sedang dikerjakan orang lain pada waktu itu. Bagaimana orang itu bisa selamat dari sumpahnya dan ibadah apa yang harus ia kerjakan? Maka Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, menjawab seketika : Agar orang tadi selamat dari sumpahnya, maka ia harus pergi ke Mekkah Al-Mukarromah, menunggu sepinya orang melakukan thawaf, bila sudah sepi lalu mengerjakan thowaf tujuh kali. Maka kepada Allah lah Kanjeng Syekh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, mengembalikan segala urusan. Dengan demikaian berarti telah lepas dari sumpahnya dan tidak punya tanggungan apa-apa.
اللهم انْشُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ
وَأَمِدَّنَا بِلْأَسْرَارِ الَّتِىْ أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
وَكَانَ يَلْبَسُ لِبَاسَ الْعُلَمآءِ _ وَيَتَطَيْلَسُ وَيَرْكَبُ اْلبَغْلَةَ وَتُرْفَعُ اْلغَاشِيَةُ _ وَإِذَا تَكَلَّمَ جَلَسَ عَلىٰ كُرْسِيِّ 4
عَالٍ _ وَكَانَ فِىْ كَلَامِه۪ سُرْعَةٌ وَجَهْرٌ _ وَرُبَّمَا خَطَا فِى الْهَوآءِ عَلىٰ رُؤ۫سِ اْلأَشْهَادِ _ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى اْلكُرْسِيِّ _ وَكَانَ وَقْتُه۫ كُلُّه۫ مَعْمُوْرًا بِالطَّاعَاتِ _
Adalah Kanjeng Syaikh berpakaian, pakaian ulama Jubah besar yaitu pakaian yang menutupi muka dan kepala, dan kendaraannya bighol/keledai. Untuk menghormati tamu beliau membuka kerudungnya dan waktu mengajar beliau duduk di kursi yang tinggi agar bisa dilihat dan didengar, ucapanya terang dan lantang. Kadang-kadang Kanjeng Syaikh bagaikan berjalan diangkasa, kemudian kembali lagi ke kursinya, hal itu disaksikan orang-orang yang hadir, waktunya hanya diperuntuk kan ta'at kepada Allah semata
قَالَ خَادِمُهُ الشَّيْخُ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اْلفَتَّاحِ الْهَرَوِىّ : خَدَمْتُ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) مُدَّةَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً _ وَكَانَ يُصَلِّى الصُّبْحَ بِوُضُوْءِ الْعِشآءِ هٰذِهِ الْمُدَّةَ كُلَّهَا _ وَكَانَ إِذَا أَحْدَثَ جَدَّدَ فِىْ وَقْتِه۪ وُضُوْءَه۫ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ _ وَكَانَ إِذَا صَلَّى الْعِشآءَ دَخَلَ خَلْوَتَه۫ فَلَا يُمْكِنُ أَحَدًا أَنْ يَدْخُلَهَا مَعَه۫ وَلَا يَفْتَحَهَا _ وَلَا يَخْرُجُ مِنْهَا إِلَّا عِنْدَ طُلُوْعِ اْلفَجْرِ _ وَلَقَدْ أَتَاهُ الْخَلِيْفَةُ مِرَارًا بِالَّليْلِ يَقْصِدُ اْلإِجْتِمَاعَ بِه۪ فَلَا يَقْدِرُ عَلىٰ ذٰلِكَ _
Pembantu dekatnya yakni Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdil Fatah Al-Harowi Mengatakan : Saya menjadi pelayannya Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah) selama empat puluh tahun, adalah beliau selama itu bila shalat subuh masih menggunakan wudhunya shalat isya'. Kalau berhadats segera memperbaruhi wudhunya. kemudian mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Adalah Kanjeng Syaikh setelah shalat isya' masuk kamar pribadi, tidak seorangpun dapat masuk dan membukanya, tidak akan keluar sebelum terbit fajar. Raja Baghdad sudah berkali-kali benar-benar ingin bertemu dengan beliau pada malam hari, tidak juga bisa bertemu.
وَقَالَ ابْنُ أَبِى الْفَتْحِ : بِتُّ لَيْلَةً عِنْدَه۫ فَرَأَيْتُه۫ يُصَلِّىْ أَوَّلَ الَّليْلِ يَسِيْرًا _ ثُمَّ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالٰى إِلٰى أَنْ يَمْضِيَ الثُّلُثُ اْلأَوَّلُ مِنَ الَّليْلِ _ ثُمَّ يَقُوْلُ _ اَلْمُحِيْطُ الرَّبُّ الشَّهِيْدُ الْحَسِيْبُ اْلفَعَّالُ الْخَلَّاقُ الْخَالِقُ اْلبَارِئُ الْمُصَوِّرُ تِسْعَةُ أَلْفَاظٍ _ وَيَرْتَفِعُ فِى الْهَوآءِ إِلٰى أَنْ يَغِيْبَ عَنْ بَصَرِىْ _ ثُمَّ يُصَلِّىْ قَائِمًا عَلىٰ قَدَمَيْهِ يَتْلُو الْقُرْآنَ إِلٰى أَنْ يَذْهَبَ الثُّلُثُ الثَّانِىْ _ وَكَانَ يُطِيْلُ سُجُوْدَه۫ جِدًّا _ ثُمَّ يَجْلِسُ مُتَوَجِّهًا مُرَاقِبًا إِلٰى طُلُوْعِ اْلفَجْرِ _ ثُمَّ يَأْخُذُ فِى اْلإِبْتِهَالِ وَالدُّعآءِ وَالتَّذَلُّلِ _ وَيَغْشَاهُ نُوْرٌ يَكَادُ يَخْطَفُ بِاْلأَبْصَارِ إِلٰى أَنْ يَغِيْبَ فِيْهِ عَنِ النَّظَرِ _ قَالَ وَكُنْتُ أَسْمَعُ عِنْدَه۫ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ _ وَهُوَ يَرُدُّ السَّلَامَ إِلٰى أَنْ يَخْرُجَ لِصَلَاةِ اْلفَجْرِ_
Syaikh Abdul Fatah berkata : Pernah saya bermalam semalam di rumah beliau, maka saya tahu beliau shalat sunnah sebentar pada permulaan malam, kemudian berdzikir kepada Allah sampai melewati sepertiga dari permulaan malam. Kemudian beliau membaca Asma A'dhom sembilan yaitu : Al-Muhiithu, Arrobbu, Asy-Syahiidu, Al-Hasibu, Al-Fa'aalu, Al-Khollaaqu, Al-Kholiqu, Al-Bari-u, Al-Mushowwiru, dan naik ke angkasa sampai hilang dari pandanganku. Setelah kembali lagi ke kamarnya, kemudian shalat berdiri di atas kedua kaki serta membaca Al-Qur'an sampai habis waktu sepertiga malam yang kedua. Adalah shalat beliau sujudnya sangat panjang, kemudian duduk menghadap kan jiwanya kehadirat Allah, muroqobah kepada-Nya sampai terbit fajar dengan sopan dan merendah berdo'a kepada Allah sehingga beliau tertutup penuh oleh cahaya terang, dengan nampak terang jelas, sehingga menyilaukan pandangan mata sampai Kanjeng Syaikh tidak terlihat karena tertutup oleh Nur/Cahaya. Syaikh Ibnu Abil Fatah juga berkata : Kemudian saya mendengar disampingnya ada yang mengucapkan salam Assalaamu'alaikum, kemudian Kanjeng Syaikh menjawabnya, keadaan demikian ini terjadi sampai Kanjeng Syaikh mengerjakan shalat Fajar.
وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ : لَايَنْبَغِىْ لِفَقِيْرٍ أَنْ يَتَصَدّٰى وَيَتَصَدَّرَ لِإِرْشَادِ النَّاسِ _ إِلَّا أَنْ أَعْطَاهُ اللهُ عِلْمَ اْلعُلَمآءِ وَسِيَاسَةَ الْمُلُوْكِ وَحِكْمَةِ الْحُكَمآءِ _
Adalah Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, telah berkata : Tidak boleh terjadi sebagai seorang ahli tasawuf, siap dan bertindak sebagai juru penerang/ guru mursyid, kecuali sudah mendapat anugerah Allah ilmunya, politiknya pimpinan negara, ilmu hikmahnya para ahli hukum.
قَالَ وَرُفِعَ إِلَيْهِ مّرَّةً شَخْصٌ إِدَّعٰى أَنَّه۫ يَرَى اللهَ تَعَالٰى بِعَيْنِى رَأْسِه۪ _ فَقَالَ لَه۫ : أَحَقٌّ مَا يَقُوْلُوْنَ عَنْكَ ؟ فَقَالَ نَعَمْ _ قَالَ : فَزَجَرَه۫ وَانْتَـهَرَه۫ وَعَاهَدَه۫ عَلىٰ أَنْ لَا يَعُوْدَ إِلٰى ذِكْرِ ذٰلِكَ _ ثُمَّ اْلتَفَتَ الشَّيْخُ إِلَى الْحَاضِرِيْنَ السّآئِلِيْنَ لَه۫ أَمُحِقٌّ هٰذَا أَمْ مُبْطِلٌ ؟ فَقَالَ : هُوَ مُحِقٌّ فِىْ قَوْلِه۪ مُلْتَبَسٌ عَلَيْهِ _ وَذٰلِكَ أَنَّه۫ شَهِدَ بِبَصِيْرَتِه۪ نُوْرَ الْجَمَالِ _ ثُمَّ خُرِقَ مِنْ بَصِيْرَتِه۪ مَنْفَذٌ فَرَآى بَصَرُه۫ بَصِيْرَتَه۫ وَشُعآئُهَا مُتَّصِلٌ بِنُوْرِ شُهُوْدِه۪ _ فَظَنَّ أَنَّ بَصَرَه۫ رَآى مَا شَهِدَتْهُ بَصِيْرَتُه۫ _ وَإِنَّمِا رَآى نُوْرَ بَصِيْرَتِه۪ قَطُّ وَهُوَ لَا يَدْرِىْ _ فَاضْطَرَبَ اْلعُلَمآءُ وَالصُّوْفِيَّةُ مِنْ سَمَاعِ ذٰلِكَ الْكَلَامِ وَدُهِشُوْا _
Syaikh Ibnu Fatah juga mengatakan : Pada suatu hari ada seorang melapor kepada Kanjeng Syaikh, ia mengaku pernah melihat Allah ta'ala dengan kedua matanya. Maka beliau bertanya : Benarkah apa kata orang-orang bahwa engkau pernah melihat Allah dengan kedua matamu? Maka orang tersebut menjawab : Iya benar. Syaikh Ibnu Abil Fatah selanjutnya melarang mengatakan bahwa mendengar jawaban orang tersebut, Kanjeng Syaikh melarang mengatakan yang demikian seraya membentaknya dengan berpesan agar berhati-hati jangan sampai ucapanya diulang kembali. Kemudian beliau menoleh kepada mereka diantara yang hadir sedang menanyakan : Pengakuan seprti itu benar atau salah ? Jawab Kanjeng Syaikh, ia benar, tapi dalam kebimbangan, sesungguhnya yang melihat nur keindahan Allah itu adalah mata hatinya, yang kemudian mata hatinya menembus kedua mata kepalanya, maka mata kepalanya lalu bisa melihat mata hatinya, cahaya mata hatinya menyatu dengan cahaya keindahan Allah, sehingga orang itu ber-prasangka bahwa mata kepalanya melihat apa yang sebenarnya dilihat mata hatinya. Sesungguhnya yang dapat melihat cahaya keindahan Allah hanyalah mata hati, tetapi ia belum mengerti. Mendengar jawaban kanjeng syakih tadi, para ulama dan ahli thoriqoh gemetar dan kebingungan.
قَالَ : وَذُكِرُ أَنَّه۫ يُرٰى لَه۫ مَرَّةً مِنَ4 الْمَرَّاتِ نُوْرٌ عَظِيْمٌ أَضآءَ بِهِ اْلأُفُقُ _ وَبَدَا لَه۫ ذٰلِكَ النُّوْرِ صُوْرَةٌ _ فَنَادَتْنِىْ يَا عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) أَنَا رَبُّكَ وَقَدْ أَبَحْتُ لَكَ الْمُحَرَّمَاتِ _ فَقُلْتُ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ _ إِخْسَأْ يآ لَعِيْنُ _ قَالَ : فَإِذَا بِذٰلِكَ النُّوْرِ ظُلَامٌ - وَالصُّوْرَةِ دُخَانٌ _ ثُمَّ صَرَخَ : يَا عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) نَجَوْتَ مِنِّىْ بِعِلْمِكَ بِحُكْمِ رَبِّكَ وَفِقْهِكَ فِىْ إِحْكَامِ مَنَازِلِكَ _ وَلَقَدْ أَضْلَلْتُ بِمِثْلِ هٰذِهِ اْلوَاقِعَةِ سَبْعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الطَّرِيْقِ_ فَقُلْتُ : لِرَبِّى َاْلفَضْلُ وَالْمِنَّةُ _ فَقِيْلَ لِلشَّيْخِ : بِمَ عَرَفْتَ أَنَّه۫ شَيْطَانٌ _ فَقَالَ : مِنْ قَوْلِه۪ : أَبَحْتُ لَكَ الْمُحَرَّمَاتِ _ فَعَلِمْتُ أَنَّ اللهَ تَعَالٰى لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشآءِ _
Syaikh Ibnu Abdil Fatah berkata : Pada suatau ketika Kanjeng Syaikh melihat seberkas cahaya berkilauan menerangi ufuk langit, tidak lama menampakkan diri seraya memanggil-manggil : Wahai Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), aku adalah Tuhanmu, sungguh aku perbolehkan untukmu semua yang diharamkan. Maka Kanjeng Syaikh menjawab : A'UUDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIM yang artinya : aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. seketika itu juga cahaya tadi berubah menjadi gelap dan menyerupai awan dengan bersuara keras : Wahai Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), selamatlah engkau dari ulah sesatku, sebab ilmumu tentang hukum Tuhanmu dan karena pemahamanmu tentang kedudukanmu sungguh aku sudah menyesatkan seperti kejadian ini dari tujuh puluh orang ahli thoriqoh. Setelah beliau selamat dari godaan syaithan, kemudian memuji kepada Allah dengan mengucapkan : Anugerah dan keselamatan hanya karena Tuhanku. Maka ditanyakan kepada Syaikh : Bagaimana Syaikh bisa tahu sesungguhnya itu adalah syaithan? Kanjeng Syaikh menjawab : Dari ucapanya : Telah aku perbolehkan bagimu apa yang diharamkan. Karena setahu saya Sungguh Allah ta'ala tidak akan memerintahkan berbuat jahat.
اللهم انْشُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ
وَأَمِدَّنَا بِلْأَسْرَارِ الَّتِىْ أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَايُعَظِّمُ اْلأَغْنِيآءَ وَلَا يَقُوْمُ لِأَحَدٍ مِنَ اْلأُمَرآءِ وَلَا أَرْكَانِ الدَّوْلَةِ _ وَكَانَ كَثِيْرًا يَرٰىالْخَلِيْفَةَ قَاصِدًا لَه۫ وَهُوَ جَالِسٌ فَيَدْخُلُ خَلْوَةً _ ثُمَّ يَخْرُجُ عَلَى الْخَلِيْفَةِ بَعْدَ وُصُوْلِه۪ إِعْزَازًا لِطَرِيْقِ اْلفُقَرآءِ _ وَلِئَلَّا يَقُوْمَ لِلْخَلِيْفَةِ _ وَمَا وَقَفَ بِبَابِ وَزِيْرٍ وَلَا سُلَطَانٍ _ وَلَا قَبِلَ هَدِيَّةً مِنَ الْخَلِيْفَةِ قّطُّ _ حَتّٰى عَتَبَه۫ عَلىٰ عَدَمِ قَبُوْلِه۪ هَدِيَّتَه۫ _ فَقَالَ لَهُ الشَّيْخُ أَرْسِلْ مَا بَدَا لَكَ وَاحْضُرْ مَعَه۫ _ وَحَضَرَ الْخَلِيْفَةُ عِنْدَ الشَّيْخِ وَ مَعَه۫ شَيْئٌ مِنَ التُّفَّاحِ _ وَإِذًا كُلُّ تُفَّاحَةٍ مَحْشُوٌّ دَمًا وَقَيْحًا _ فَقَالَ لِلْخَلِيْفَةِ : كَيْفَ تَلُوْمُنَا عَلىٰ عَدَمِ أَكْلِنَا مِنْ هٰذَا وَكُلُّه۫ مَحْشُوٌّ بِدِمآءِ النَّاسِ _ فَاسْتَغْفَرَ الْخَلِيْفَةُ وَتَابَ عَلىٰ يَدَيْهِ _ وَكَانَ يَأْتِىْ فَيَقِفُ بَيْنَ الشَّيْخِ كَآحَادِ النَّاسِ وَصَحِبَه۫ إِلٰى أَنْ مَاتَ _
Adalah Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, tidak mau mengagung-agungkan orang kaya dan berdiri karena datangannya seorang raja dan tidak juga orang-orang yang mempunyai kedudukan. Dan adalah seringkali raja bermaksud ziarah kepada Syaikh, padahal beliau sedang duduk-duduk kemudian ditinggalkan masuk ke kamar pribadinya. Kemudian baru keluar lagi untuk menemui setelah khalifah itu duduk. Hal ini dilakukan kerena memulyakan prilaku ahli tasawuf yang tidak tertarik dengan kedudukan dan harta serta tidak berdiri haya sekedar kedatangan raja. Lagi beliau tidak mau berdiri di depan pintu-pintu raja atau mentri dan juga tidak mau menerima hadiah dari raja, sehingga raja itu mencemoohnya atas tidak diterimanya pemberian itu. Maka Kanjeng Syaikh berkata kepada sang raja : Kalau begitu silahkan bawa sendiri hadiah itu kesini. Rajapun menerimanya, kemudian membawa sendiri buah apel untuk Kanjeng Syaikh. Tiba-tiba buah apel itu di dalamnya penuh darah dan nanah. Maka berkatalah Kanjeng Syaikh kepada raja : Kenapa raja selalu mencemooh dan mencela saya? Padahal saya tidak mau buah apel ini, karena seluruhnya penuh dengan darah manusia. Maka raja itu minta maaf dan bertaubat di hadapan Kanjeng Syaikh. Selanjutnya raja itu sering ziarah kepada beliau sebagaimana kebanyakan orang dan menjadi sahabatnya sampai meninggal.
وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَعَ جَلَالَةِ قَدْرِه۪ وَبُعْدِ صِيْتِه۪ وَعُلُوِّ ذِكْرِه۪ يُعَظِّمُ اْلفُقَرآءَ _ وَيُجَالِسُهُمْ وَيَفْلِىْ لَهُمْ ثِيَابَهُمْ _
Adalah Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, yang mempunyai derajad tinggi, namanya harum tersebar kemana-mana, beliau mau menghormati kepada fakir miskin, menemani duduk, membersihkan sendiri kutu-kutu yang ada di pakaianya.
وَكَانَ يَقُوْلُ : اْلفَقِيْرُ الصَّابِرُ أَفْضَلُ مِنَ اْلغَنِىِّ الشَّاكِرِ _ وَاْلفَقِيْرُ الشَّاكِرُ أَفْضَلُ مِنْهُمَا _ وَاْلفَقِيْرُ الصَّابِرُ الشَّاكِرُ أَفْضَلُ مِنَ اْلكُلِّ _ وَمَا أَحَبَّ الْبَلآءَ وَالتَّلّذُّذَ بِه۪ إِلَّا مَنْ عَرَفَ الْمُبْلِىْ _
Beliau penah mengatakan : Seorang fakir yang mau sabar lebih utama dari orang kaya yang bersyukur, dan orang fakir yang bersyukur, lebih utama dari keduanya dan orang fakir yang mau bersabar dan bersyukur, lebih utama dari semuanya. Tidak senang dan tidak merasa nikmat menerima balak, kecuali orang yang tahu kepada Dzat yang menurunkan balak, yaitu Allah swt.
وَكَانَ يَقُوْلُ : اِتَّبِعُوْا وَلَا تَبْتَدِعُوْا _ وَأَطِيْعُوْا وَلَا تَمْرُقُوْا _ وَاصْبِرُوْا وَلَا تَجْزَعُوْا _ وَانْتَظِرُوا اْلفَرَجَ وَلَا تَيْأَسُوْا _ وَاجْتَمِعُوْا عَلىٰ ذِكْرِ اللهِ تَعَالٰى وَلَا تَتَفَرَّقُوْا _ وَتَطَهَّرُوْا بِالتَّوْبَةِ عَنِ الذُّنُوْبِ وَلَا تَتَلَطَّخُوْا _ وَعَنْ بَابِ مَوْلَاكُمْ لَا تَبْرَحُوْا _
Dan adalah Kanjeng Syaikh juga berkata : Ikutilah sunnah Rasulullah saw dan jangan melakukan bid'ah, berbakti kepada Allah dan Rasul-Nya jangan sampai keluar dari Islam, bersabarlah dan jangan menggumam, berharaplah untuk mendapatkan kesejahteraan dan jangan putus asa, berkumpullah dalam majlis dzikir kepada Allah ta'ala, jangan bercerai berai, bersihkan dirimu dengan bertaubat dari segala dosa dan jangan berlumuran noda dan secara rutin menghadap di pintu Allah untuk mohon ampunan.
وَكَانَ يَقُوْلُ : لَا تَخْتَرْ جَلْبَ النَّعْمآءِ وَلَا دَفْعَ اْلبَلْوٰى _ فَإِنَّ النَّعْمآءَ وَاصِلَةٌ إِلَيْكَ بِاْلقِسْمَةِ اسْتَجْلَبْتَهَا أَمْ لَا _ وَاْلبَلْوٰى حَالَّةً بِكَ وَإِنْ كَرِهْتَهَا _ فَسَلِّمْ لِلهِ فِى اْلكُلِّ يَفْعَلُ مَا يَشآءُ _ فَإِنْ جآءَتْكَ النَّعْمآءُ فَاشْتَغِلْ بِالذِّكْرِ وَالشُّكْرِ _ وَإِنْ جآءَتْكَ اْلبَلْوٰى فَاشْتَغِلْ بِالصَّبْرِ وَالْمُوَافَقَةِ _ وَإِنْ كُنْتَ أَعْلىٰ مِنْ ذٰلِكَ فَالرِّضَا وَالتَّلَذُّذُ _ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اْلبَلِيَّةَ لَمْ تَأْتِ الْمُؤْمِنَ لِتُهْلِكَه۫ _ وَإِنَّمَا أَتَيْهُ لِتَخْتَبِرَه۫ _
Kanjeng Syaikh berkata juga: Jika terkena cobaan, jangan mengingin kan mendapat kenikmatan dan menghindar dari cobaan, karena suatu kenikmatan pasti datang juga kepadamu sesuai ketentuan Allah, diharapkan maupun tidak. Demikian pula cobaan, suka atau tidak pasti akan menimpanya, maka dari itu berserah dirilah segala urusan kepada Allah yang mengatur sesuai dengan kehendak-Nya. Maka bila kenikmatan datang kepadamu, maka sibukkanlah dirimu dengan mengingat Allah dan banyak bersyukur, dan bila cobaan yang menimpa maka sibukkan lah dirimu dengan kesabaran dan kesadaran. Bila ingin mendapat tempat yang tertingi di sisi Allah dan sebagai suatu kenikmatan, maka perlu disadari bahwa cobaan yang menimpa orang mukmin bukan sebagai malapetaka, tetapi datang untuk menguji iman.
وَكَانَ يَقُوْلُ : لَايَصْلُحُ لِمُجَالَسَةِ الْحّقِّ تَعَالٰى إِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ مِنْ رِجْسِ الزَّلَّاتِ _ وَلَايُفْتَحُ إِلَّا لِمَنْ خَلَا عَنِ الدَّعَاوِىْ وَالْهَوَسَاتِ _ وَلَمَّا كَانَ اْلغَالِبُ عَلَى النَّاسِ عَدَمَ التَّطَهُّرِ _ إِبْتَلَاهُمُ اللهُ تَعَالٰى بِاْلأَمْرَاضِ كَفَّارَةً وَطَهُوْرًا _ لِيَصْلُحُوْا لِمُجَالَسَتِه۪ وَقُرْبِه۪ شَعَرُوْا بِذٰلِكَ أَوْ لَمْ يَشْعُرُوْا _
Kata Kanjeng Syaikh lagi : Tidak boleh terjadi di dalam majlis untuk menghadap kepada Allah ta'ala, kecuali membersihkan dirinya dari kotoran dan dosa, dan tidak akan dibuka hatinya untuk makrifat kepada Allah, kecuali hatinya dikosongkan dari pengakuan mempunyai perilaku baik dan dari perbuatan yang meresahkan. Apabila kebiasaan manusia sudah berlumuran dosa dan tidak mau membersihkan, maka Allah ta'ala menurunkan berbagai penyakit lahir ataupun bathin kepada mereka sebagai tebusan dan pembersih dosa-dosanya, agar yang demikian itu sesuai majlis menghadap dan mendekat kepada Allah, baik mereka sadar maupun tidak.
وَكَانَ يَقُوْلُ : إَيَّاكُمْ أَنْ تُحِبُّوْا أَحَدًا أَوْ تَكْرَهُوْهُ إِلَّا بَعْدَ عُرْضِ أَفْعَالِه۪ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ _ كَيْلَا تُحِبُّوْهُ بِالْهَوٰى وَتَبْغُضُوْهَ بِالْهَوٰى _
Kata Kanjeng Syaikh lagi : Berhati-hatilah kamu, jangan sampai mencintai seseorang atau membencinya, kecuali sudah memperhati kan perbuatanya dengan berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah Rasul, agar kamu senang atau benci tidak sekedar menuruti hawa nafsu.
اللهم انْشُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ
وَأَمِدَّنَا بِلْأَسْرَارِ الَّتِىْ أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا يَجْلِسُ الذُّبَابُ عَلىٰ ثِيَابِه۪ وَرَاثَةً لَه۫ مِنَ جَدِّه۪ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ _ فَقِيْلَ لَه۫ فِىْ ذٰلِكَ ؟ فَقَالَ : أَيُّ شَيْئٍ يَعْمَلُ الذُّبَابُ عِنْدِىْ وَلَيْسَ عِنْدِىْ مِنْ دِبْسِ الدُّنْيَا وَعَسَلِ الْآخِرَةِ ؟ _
Adalah Kekaromahan Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, pakaiannya tidak pernah dihinggapi lalat, karena mewarisi eyangnya yaitu Nabi saw. Orang yang melihatnya sempat menanyakan lantaran apa yang menyebabkan? Maka Kanjeng Syaikh menjawab : Untuk apa lalat hingap pada diriku, yang pada diriku ada tujuan untuk mendapatkan kenikmatan dunia dan madunya akhirat, melainkan hanya semata mata ikhlas karena Allah.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَنَّه۫ جَلَسَ مَرَّةً يَتَوَضَّأُ فَقَذَرَ عَلَيْهِ عُصْفُوْرٌ _ فَرَفَعَ رَأْسَه۫ فَخَرَّ اْلعُصْفُوْرُ مَيْتًا _ فَغَسَلَ الثَّوْبَ ثُمَّ تَصَدَّقَ بِه۪ عَنِ اْلعُصْفُوْرِ _ وَقَالَ : إِنْ كَانَ عَلَيْنَا إِثْمٌ فَهُوَ كَفَّارَتُه۫ _
Dari sebagian kekaromahannya, satu ketika beliau duduk mengambil air wudhu kejatuhan kotoran burung emprit, lalu beliau mengangkat kepalanya, maka jatuhlah burung itu dan mati. kemudian beliau melepas pakaiannya untuk dicuci lalu disedekahkan sebagai tebusan burung tadi, dan berkatalah beliau : Bila pada saya ada dosa maka itulah tebusannya.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَيْضًا أَنَّ إِمْرَأَةً أَتَتْهُ بِوَلَدِهَا لِتُشَوِّقَه۫ إِلٰى صُحْبَةِ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) وَتُسَلِّكَه۫ فَأَمَرَه۫ بِالْمُجَاهَدَةِ وَسُلُوْكِ طَرِيْقِ السَّلَفِ _ فَرَأَتْهُ يَوْمًا نَحِيْلًا وَرَأَتْهُ يَأْكُلُ خُبْزَ شَعِيْرٍ _ وَدَخَلَتْ عَلَى الشَّيْخِ وَوَجَدَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ عَظْمَ دَجَاجَةٍ مَلْعُوْقَةٍ _ فَسَأَلَتْهُ عَنِ الْمَعْنٰى فِىْ ذٰلِكَ ؟ _ فَوَضَعَ الشَّيْخُ يَدَه۫ عَلَى اْلعِظَامِ _ وَقَالَ لَهَا : قُوْمِىْ بِإِذْنِ اللهِ تَعَالٰى الَّذِىْ يُحْيِى اْلعِظَامَ وَهِىَ رَمِيْمٌ ! فَقَامَتِ الدُّجَاجَةُ سَوِيَّةً وَصَاحَتْ (لآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ _ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ وَلِيُّ اللهِ) رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) فَقَالَ لَهَا : إِذَا صَارَ ابْنُكِ هٰكَذَا فَلْيَأْكُلْ مَاشآءَ _
Dan dari kekaromahannya lagi, ada seoranag perempuan datang kepada beliau dengan membawa putranya dan diserahkan kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), untuk menjadi santrinya dan belajar ilmu suluk. Putra tadi diterima, kemudian diperintahkan memerangi nafsunya serta menjalankan ibadah sebagaimana dilakukan oleh ulama-ulama salaf. Suatau hari ibunya sowan kepada Kanjeng Syaikh, dilihat anaknya menjadi kurus, si ibu kemudian masuk kedalam kamar Kanjeng Syaikh dan melihat di depanya tulang-tulang ayam dari sisa daharan Kanjeng Syaikh. Maka si ibu kemudian menanyakan arti dari semua itu. Maka Kanjeng Syaikh meletakkan tanganya di atas tulang tadi sambil berkata : Berdirilah dengan izin Allah yang menghidupkan tulang-tulang yang hancur, maka berdirilah tulang tulang itu kembali menjadi ayam dan berkokok : "LAA ILAAHA ILLALLOOH MUHAMMADUR RASUULULLOOH ASY-SYAIKHU ABDUL QOODIR WALIYYULLOOH" artinya : Tidak Ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah dan Nabi , Muhammad adalah utusan Allah, Syaikh Abdul Qodir kekasih Allah swt. semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), maka beliau berkata kepada si ibu : Kalau anak mu sudah dapat berbuat seperti ini, maka boleh makan sekehendaknya.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَيْضًا أَنَّه۫ مَرَّ بِمَجْلِسِه۪ حِدَأَةٌ فِىْ يَوْمٍ شَدِيْدِ الرِّيْحِ _ فَشَوَّشَتْ بِصِيَاحِهَا عَلَى الْحَاضِرِيْنَ _ فَقَالَ : يآرِيْحُ خُذِىْ رَأْسَهَا ! فَوَقَعَتْ لِوَقْتِهَا مَقْطُوْعَةَ الرَّأْسِ _ فَنَزَلَ عَنِ اْلكُرْسِيِّ وَأَخَذَهَا فِىْ يَدَه۪ وَأَمَرَّ اْلأُخْرٰى عَلَيْهَا _ وَقَالَ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ_ فَحَيَّتْ وَطَارَتْ سَوْيَّةً بِإِذْنِ اللهِ تَعَالٰى _ وَالنَّاسُ يُشَاهِدُوْنَ ذٰلِكَ _
Dan dari kekaromahannya lagi, pada suatu hari ketika angin sedang berhembus kencang ada seekor burung elang di atas majelis pengajian beliau dengan suara yang keras dan suaranya menggangu orang-orang yang hadir di majlis itu, maka beliau berkata : Wahai angin, potonglah kepala burung itu. Maka seketika jatuhlah burung itu dengan keadaan kepala terputus. Kemudian beliau turun dari kursinya, mengambil burung tadi mengelus elus dengan membaca : "Bismillaahir rahmaanir rohiim", maka burung itu hidup kembali dan terbang lagi dengan izin Allah ta'ala, akan hal itu disaksikan oleh orang orang yang hadir dimajlis itu.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَنَّ أَبَا عُمَرَ عُثْمَانَ الصَّيْرَفِىَّ وَأَبَا مُحَمَّدٍ عَبْدِ الْحَقِّ اَلْحَرِيْمِىَّ رَحِمَهُمَا اللهُ تَعَالٰى قَالَا : كُنَّا بَيْنَ يَدَيِ الشَّيْخِ بِمَدْرَسَتِه۪ يَوْمَ اْلأَحَدِ ثَالِثَ صَفَرَ سَنَةَ خَمْسٍ وَخَمْسِيْنَ وَخَمْسِمِائَةٍ _ فَتَوَضَّأَ الشَّيْخُ عَلىٰ قَبْقَابِه۪ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ_ فَلَمَّا سَلَّمَ صَرَخَ صَرِخَةً عَظِيْمَةً وَرَمٰى بِفَرْدَةِ قَبْقَابِه۪ فِى الْهَوآءِ فَغَابَتْ عَنْ أَبْصَارِنَا _ ثُمَّ فَعَلَ ثَانِيَةً كَذٰلِكَ بِاْلأُخْرٰى _ ثُمَّ جَلَسَ فَلَمْ يَتَجَاسَرْ أَحَدٌ عَلىٰ سُؤَالِه۪ _ ثُمَّ قَدِمَتْ قَافِلَةٌ مِنْ بِلَادِ اْلعَجَمِ بَعْدَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِيْنَ يَوْمًا _ فَقَالُوْا إِنَّ مَعَنَا لِلشَّيْخِ نَذْرًا فَاسْتَأْذَنَّاهُ _ فَقَالَ : خُذَاهُ مِنْهُمْ فَأَعْطَوْنَا شَيْأً مِنْ ذَهَبٍ وَثِيَابًا مِنْ حَرِيْرٍ وَخَزٍّ وَاْلقَبْقَابَ بِعَيْنِه۪ _ فَسَأَلْنَاهُمْ عَنِ الْمَعْنٰى فِىْ ذٰلِكَ _ فَقَالُوْا : بَيْنَمَا نَحْنُ سآئِرُوْنَ يَوْمَ اْلأَحَدِ ثَالِثَ صَفَرَ إِذْ خَرَجَتْ عَلَيْنَا عَرَبٌ لَهُمْ مُقَدِّمَانِ_ فَانْتَهَبُوْا أَمْوَالَنَا وَنَزَلْنَا عَلىٰ شَفِيْرِ اْلوَادِىّ _فَقُلْنَا لَوْ ذَكَرْنَا الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) فَنَذَرْنَا لَه۫ شَيْئًا مِنْ أَمْوَالِنَا سَلِمْنَا فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ ذَكَرْنَاهُ _ وَجَعَلْنَا لَه۫ شَيْئًا فَسَمِعْنَا صَرْخَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مَلَأَتَا اْلوَادِىَ وَرَأَيْنَاهُمْ مَذْعُوْرِيْنَ _ فَظَنَنَّا أَنْ قَدْ جآءَهُمْ مِثْلُهُمْ يَأْخُذُهُمْ _ فَجآئَنَا بَعْضُهُمْ _ وَقَالَ تَعَالَوْا إِلَيْنَا وَخُذُوْا أَمْوَالَكُمْ وَانْظُرُوْا مَا قَدْ دَّهَمَنَا _ فَأَتَوْا بِنَا إِلٰى مُقَدِّمَيْهِمْ فَوَجَدْنَا هُمَا مَيْتَيْنِ _ وَعِنْدَ كُلٍّ مِنْهُمَا فَرْدَةُ قَبْقَابٍ مُبْتَلَّةٍ بِمآءٍ فَرَدُّوْا عَلَيْنَا مَا أَخَذُوْا وَقَالُوْا لَنَا : إِنَّ لِهٰذَا اْلأَمْرِ نَبَأً عَظِيْمًا _
Dan dari karomaahnya lagi, Syaikh Abu Umar Utsman As-Shairofi dan Syaikh Abu Muhammad Abdul Haqqi Al-Harimiyah, semoga Allah memberi rahmat keduanya, berkata : Kami pernah berdampingan dengan Syaikh berada di madrasahnya pada hari Ahad tanggal 3 Shafar tahun 555 H, beliau berwudhu dengan klompennya lalu shalat dua rakaat, setelah salam berteriak sekeras-kerasnya seraya melemparkan klompennya yang satu sejauh-jauhnya ke atas sampai tidak nampak dari pandangan kami, kemudian melakukan lagi seperti itu untuk kedua kalinya dengan klompen yang satunya. Kemudian duduk dan tidak ada seorangpun yang berani menanyakan kejadian itu. Setelah 23 hari dari kejadian itu, datanglah serombongan musyafir dari luar negeri, mereka berkata : Kami mempunyai nadzar, maka kami mohon diizinkan untuk menghadap Kanjeng Syaikh. Maka beliau berkata kepada kami berdua : Ambillah nadzar yang dibawa mereka. Kemudian memberikan barang nadzarnya berupa emas, pakaian sutra, pakaian berbulu sutra dan klompen milik Kanjeng Syaikh. Maka kami bertanya kepada mereka tentang apa yang terjadi sesungguhnya? Merekapun bercerita : Pada hari Ahad tanggal 3 Shafar yang lalu kami dalam perjalanan, tiba-tiba ada serombongan manusia yang dipimpin dua orang, mereka merampok harta kami dan kamipun turun ke tepi jurang, maka kami berunding, bersepakat dengan lantaran Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah),, kami bernadzar kalau harta kami bisa selamat, kami akan memberikan sebagaian dari harta itu kepada Kanjeng Syaikh, ternyata nadzar kami dikabulkan Allah, tidak lama kemudian kami mendengar suara yang keras amat sampai dua kali memekikkan telingah, berdesing memenuhi seluruh jurang, sampai kami melihat mereka lelah lunglai, gemetar ketakutan, maka kami menduga mungkin kedatangan perampok lain yang merebut hasil rampasan mereka. Tiba-tiba diantara mereka ada yang mendatangi kami dan berkata : Kemarilah kalian untuk ikut kami, ambillah kembali hartamu dan periksalah apa yang membingungkan kami. Kemudian mereka membawa kami kepada kedua pemimpinnya, ternyata kami dapatkan mereka berdua telah meninggal dan di sampingnya masing-masing terdapat klompen yang masih basah dengan air. Dengan kejadian itu, yang lain menjadi ketakutan sehingga harta yang dirampasnya dikembalikan kepada kami, mereka sambil mengatakan : Peristiwa ini menggemparkan dan tidak pernah terjadi sebelumnya.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَنَّه۫ جآءَه۫ رَجُلٌ مِنْ أَصْفِهَانَ لَه۫ مَوْلَاةٌ تُصْرَعُ وَقَدْ أَعْيَتِ الْمُعَزِّمِيْنَ _ فَقَالَ الشَّيْخُ : هٰذَا مَارِدٌ مِنْ وَادِىْ سَرَنْدِيْبَ وَاسْمُه۫ خَانْسٌ _ فَإِذَا صُرِعَتْ فَقُلْ فِىْ أُذُنِهَا : يآ خَانِسُ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) اَلْمُقِيْمُ بِبِغْدَادَ يَقُوْلُ لَكَ : لَا تَعُدْ تَهْلِكْ _ فَذَهَبَ الرَّجُلُ وَغَابَ عِشْرِيْنَ سَنَةً _ ثُمَّ قَدِمَ وَسُئِلَ وَأَخْبَرَ أَنَّه۫ فَعَلَ مَا قَالَ الشَّيْخِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ _ وَلَمْ يَعُدِ الصَّرْعَ إِلَيْهَا إِلَى اْلآنَ _ وَقَالَ بَعْضُ رُؤَسآءِ التَّعْزِيْمِ : مَكَثْتُ بِبَغْدَادَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً فِىْ حَيَاةِ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) وَلَا يَقَعَ فِيْهَا صَرْعٌ عَلىٰ أَحَدٍ _ فَلَمَّا مَاتَ وَقَعَ الصَّرْعُ _
Dan dari karomahnya, pernah seorang laki-laki dari kota Asfihan berkunjung kepada beliau untuk mengobatkan budak perempuannya yang sudah dimerdekakan, karena sering tidak sadarkan diri dan sudah diobatkan ke mana-mana. Maka Kanjeng Syaikh berkata : Ini gangguan jin dari goa Sarondib, namanya jin Khonis, apabila ia sakit lagi bacakan di telinganya : Hai jin Khonis Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), yang tinggal di Baghdad mengatakan kepadamu jangan kembali kalau tidak ingin binasa. Maka pulanglah orang itu dan tidak muncul lagi. Setelah dua puluh tahun lamanya orang itu datang lagi menghadap Kanjeng Syaikh, dan setelah ditanya ia menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Kanjeng Syaikh sudah dilaksanakan dan penyakit itu tidak pernah datang lagi sampai sekarang. Bahkan sebagian tabib ahli jiwa mengatakan : Selama kami menetap di Baghdad empat puluh tahun, selama mendiangnya Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), di Bagdad tidak pernah terjadi seorangpun menderita sakit jiwa, setelah beliau wafat maka berjangkitlah penyakit jiwa itu.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَيْضًا : أَنَّ ثَلَاثَةَ مِنْ أَشْيَاخِ جِيْلَانَ أَتَوْا إِلٰى زِيَارَتِه۪ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ _ فَلَمَّا دَخَلُوْا عَلَيْهِ رَأَوُا اْلإِبْرِيْقَ مُوَجِّهًا إِلٰى غَيْرِ جِهَةِ اْلقِبْلَةِ _ وَالْخَادِمُ وَاقِفُ بَيْنَ يَدَيْهِ _ فَنَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلٰى بَعْضٍ كَالْمُنْكِرِيْنَ عَلَيْهِ _ بِسَبَبِ تَوَجُّهِ اْلإِبْرِيْقِ لِغَيْرِ جِهَةِ اْلقِبْلَةِ _ وَقِيَامَ الْخَادِمِ بَيْنَ يَدَيْهِ _ فَوَضَعَ الشَّيْخُ كِتَابًا مِنْ يَدَه۪ وَنَظَرَ إِلَيْهِمْ نَظْرَةً وَإِلَى الْخَادِمِ أُخْرٰى فَوَقَعَ مَيْتًا _ وَنَظَرَ إِلَى اْلإِبْرِيْقِ نَظْرَةً أُخْرٰى _ فَدَارَ وَطَافَ اْلإِبْرِيْقِ وَحْدَه۫ إِلَى اْلقِبْلَةِ _
Dan dari karomahnya, ada tiga orang guru dari negeri Jilan datang berziarah kepada beliau. Sewaktu masuk rumah Kanjeng Syaikh, mereka melihat kendi yang tidak menghadap kiblat dan seorang pelayan berdiri di sisi Kanjeng Syaikh, kemudian mereka saling berpandangan seperti menunjukkan sikap tidak senang kepada Kanjeng Syaikh sebab kendi yang tidak menghadap kiblat dan seorang pelayan berdiri di sebelahnya, maka Kanjeng Syaikh meletakkan kitab yang ada di tangannya terus memandang kepada mereka dan kepada pelayan, seketika itu juga pelayan tadi mati, kemudian beliau memandang ke arah kendi dan kendi itupun berputar sendiri menghadap kiblat.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَنَّ أَبَا الْمُظَفَّرْ حَسَنَ بْنَ تَمِيْمِ اْلبَغْدَادِىَ التَّاجِرَ جآءَ إِلَى الشَّيْخِ حَمَّادِ بْنِ مُسْلِمٍ بْنِ دَرْوَةَ الدَّبَّاسِ _ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالٰى فِىْ سَنَةِ إِخْدٰى وَعِشْرِيْنَ وَخَمْسِمِائَةٍ _ وَقَالَ لَه۫ : يَا سَيِّدِىْ قَدْ جُهِّزَتْ لِىْ قَافِلَةٌ إِلَى الشَّامِ فِيْهَا بِضًاعَةٌ بِسَبْعِمِائَةِ دِيْنَارٍ _ فَقَالَ : إِنْ سَافَرْتَ فِىْ هٰذِهِ السَّنَةِ قُتِلْتَ وَأُخِذَ مَالُكَ _ فَخَرَجَ مِنْ عِنْدِه۪ مَغْمُوْمًا فَوَجَدَ فِى الطَّرِيْقِ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) وَهُوَ شَابٌّ يَوْمَئِذٍ _ فَحَكىٰ لَه۫ مَا قَالَه۫ الشَّيْخُ حَمَّادٌ _ فَقَالَ لَه۫ : سَافِرْ تَذْهَبْ سَالِمًا وَتَرْجِعُ غَانِمًا _ وَالضَّمَانُ عَلَيَّ فِىْ ذٰلِكَ _ فَسَافَرَ إِلَى الشَّامِ وَبَاعَ بِضَاعَتَه۫ بِأَلْفِ دِيْنَارٍ _ وَدَخَلَ يَوْمًا إِلٰى سِقَايَةٍ فِىْ حَلَبَ لِقَضآءِ حَاجَةِ اْلإِنْسَانِ _ وَوَضَعَ أَلْفَ دِيْنَارٍ عَلىٰ رَفٍّ مِنَ السِّقَايَةِ _ وَخَرَجَ وَتَرَكَهَا نَاسِيًا _ وَأَتٰى إِلٰى مَنْزِلِه۪ _ فَأُلْقِيَ عَلَيْهِ النُّعَاسُ فَنَامَ فَرَآى فِىْ مَنَامِه۪ كَأَنَّه۫ فِىْ قَافِلَةٍ قَدْ خَرَجَتْ عَلَيْهَا اْلعَرَبُ _ وَانْتَهَبُوْهَا وَقَتَلُوْا مَنْ فِيْهَا _ وَأَتَاهُ أَحَدُهُمْ فَضَرَبَه۫ بِحَرْبَةٍ فَقَتَلَه۫ فَانْتَبَهَ فَزِعًا _ وَوَجَدَ أَثَرَ الدَّمِ فِىْ عُنُقِه۪ وَأَحَسَّ بِاْلأَلَمِ _ وَذَكَرَ اْلأَلْفَ فَقَامَ مُسْرِعًا إِلَى السِّقَايَةِ _ فَوَجَدَهَا فِىْ مَكَانِهَا سَالِمًا _ وَرَجَعَ إِلٰى بَغْدَادَ فَلَمَّا دَخَلَهَا قَالَ فِىْ نَفْسِه۪ : إِنْ بَدَأْتُ بِالشَّيْخِ حَمَّادٍ فَهُوَ اْلأَسَنُ _ وَ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) فَهُوَ الَّذِىْ صَحَّ كَلَامُه۫ _ فَلَقِيَ الشَّيْخَ حَمَّادًا فِىْ أَثْنآءِ تَرْدِيْدِ الْخَاطِرِ فِىْ سُوْقِ السُّلْطَانِ _ فَقَالَ لَه۫ : يآ أَبَا الْمُظَفَّرْ إِبْدَأْ بِعَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) فَإِنَّه۫ مَحْبُوْبٌ _ وَلَقَدْ سَأَلَ اللهَ فِيْكَ سَبْعَ عَشَرَةَ مَرَّةً حَتّٰى جَعَلَ مَا قُدِّرَ عَلَيْكَ مِنَ اْلقَتْلِ يَقَظَةً مَنَامًا _ وَمْنَ اْلفَقْرِ عِيَانًا نِسْيَانًا _ وَجآءَ إِلَى الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) فَقَالَ لَه۫ إِبْتِدَاءً : قَالَ لَكَ الشَّيْخُ حَمَّادٌ : إِنَّنِىْ سَأَلْتُ اللهَ فِيْكَ سَبْعَ عَشَرَةَ مَرَّةً_ وَعِزَّةِ الْمَعْبُوْدِ _ لَقَدْ سَأَلْتُ اللهَ تَعَالٰى فِيْكَ سَبْعَ عَسَرَةَ وَسَبْعَ عَشَرَةَ مَرَّةً إِلٰى تَمَامِ سَبْعِيْنَ مَرَّةً _ حَتّٰى كَانَ مَا ذَكَرَه۫ _
Dan dari karomahnya lagi, bahwa sesungguhnya Abul Mudhoffar Hasan bin Tamimi Al-Baghdadi adalah seorang pedagang, datang kepada Syaikh Hammad bin Muslim bin Darwah Ad-Dabbas, semoga Allah memberi rahmat keduanya, pada tahun 521 H seraya berkata : Wahai junjunganku, saya telah menyiapkan kafilah yang membawa dagangan seharga 700 dinar ke negeri Syam. Syaikh Hammad berkata : Kalau kamu pergi pada tahun ini kamu akan terbunuh dan daganganmu dirampas, Setelah itu Abul Mudhoffar keluar dari Syaikh Hammad dengan membawa perasaan sedih, di jalan berjumpa dengan Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), yang pada waktu itu beliau masih berusia muda. Abul Mudhoffar menceritakan apa yang dikatakan Syaikh Hammad kepadanya. Maka Kanjeng Syaikh berkata kepadanya : Pergilah, maka kamu akan selamat dan kembali akan membawa keuntungan, urusan itu akulah yang bertanggung jawab. Abul Mudhoffar pergi ke negeri Syam dan ternyata bisa menjual dagangannya dengan harga seribu dinar. Pada satu hari Abul Mudhoffar masuk WC untuk menunaikan hajat di Halaba, dan dia meletakkan uang seribu dinar di gantungan WC, dan ketika keluar ia lupa uangnya, sampai di rumah ia mengantuk dan tertidur. Dalam tidurnya bermimpi dalam kafilah didatangi orang Baduwi yang merampas hartanya dan membunuh semua orang yang ada di kafilah itu. Dan ada pula diantara Baduwi itu mendatanginya dan memukul dengan pedang serta membunuh nya, maka ia terbangun dengan gemetar ketakutan dan menemukan bekas darah di lehernya serta merasa sakit. Dan setelah teringat uangnya seribu dinar tertinggal, maka ia cepat-cepat bangun dan pergi ke WC di Halaba, dan uang tersebut didapatkan masih di tempat semula dengan selamat, kemudian pulang ke Bagdad. Setelah tiba ia berkata dalam hati : Kalau aku berkunjung kepada Syaikh Hammad lebih dahulu, memang beliau lebih tua dan kalau kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), karena beliau benar kata-katanya. Sewaktu ia berfikir demikian berada dipasar Sulthon dan Syaikh Hammad berkata kepadanya : Wahai Abul Mudhoffar, mulailah kamu berkunjung kepada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, karena beliau dicintai Allah dan sesungguhnya beliau berdoa kepada Allah untukmu sebanyak tujuh belas kali, sehingga kepastian matimu yang sebenarnya hanya kamu rasakan dalam mimpi dan kepastian fakir yang sebenarnya berubah hanya karena lupa saja. Kemudian Abul Mudhoffar pergi berkunjung kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), maka beliau mendahului berkata : Syaikh Hammad telah mengatakan kepadamu, bahwa saya berdo'a kepada Allah untukmu tujuh belas kali. Demi kemulyaan Allah yang berhak disembah, sesungguhnya saya berdo'a kepada Allah untukmu tujuh belas kali dan tujuh belas lagi sampai jumlahnya tujuh puluh kali, sehingga terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Syaikh Hammad.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَيْضًا : أَنَّ الشَّيْخَ عَلِيًّانِالْهَيْتِىَّ وَالشَّرِيْفَ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدٍ أَبَا اْلغَنَائِمِ الْحَسَنِىِّ رَحِمَهُمَا اللهُ تَعَالٰى _ دَخَلَا دَارَ الشَّيْخِ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ _ فَوَجَدَا إِنْسَانًا شَابًّا مُلْقًى عَلىٰ قَفَاهُ _ فَقَالَ لِلشَّيْخِ عَلِيِّ الْهَيْتِىِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : يَا سَيِّدِىْ إِشْفَعْ لِىْ عِنْدَ الشَّيْخِ _ فَلَمَّا ذَكَرَه۫ لَه۫ وَهَبَه۫ لَه۫ بِقَوْلِه۪ : قَدْ وَهَبْتُه۫ لَه۫ _ فَخَرَجَا إِلَى الرَّجُلِالْمُلْقٰى وَعَرَفَاهُ بِذٰلِكَ _ فَقَامَ الرَّجُلُ وَخَرَجَ مِنْ كُوَّةٍ فِى الدِّهْلِيْزِ وَطَارَ فِى الْهَوآءِ _ فَرَجَعَا إِلَى الشَّيْخِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَسَأَلاَهُ عَنْ حَالِ الرَّجُلِ _ فَقَالَ : إِنَّه۫ مَرَّ فِى الْهَوآءِ وَقَالَ فِى نَفْسِه۪ : مَا فِىْ بَغْدَادَ رَجُلٌ مِثْلِىْ فَسَلَبْتُه۫ حَالَه۫ _ وَلَوْ لَا الشَّيْخُ عَلِيٌّ مَا رَدَدْتُه۫ لَه۫ _
Dan dari karomahnya lagi, sesungguhnya Syaikh Ali Al-Haity beserta Syaikh Syarif Abdullah bin Muhammad Abal Ghona-im, semoga Allah memberi rahmat keduanya berkunjung kepada Kanjeng Syaikh semoga Allah mensucikan rahasia-rahasianya, maka bertemu seorang pemuda tidur terlentang yang keadaannya sangat lemah. Maka pemuda itu berkata kepada Syaikh Al-Haity ra : Wahai junjunganku, mohonkan syafaa'at kepada Kanjeng Syaikh agar saya dapat sembuh kembali. Maka ketika diaturkan, Kanjeng Syaikh pun memberinya syafa'at dengan mengatakan : Sungguh saya berikan syafa'at kepadanya. Maka keluarlah kedua Syaikh itu menemui pemuda tadi memberitahukan bahwa Kanjeng Syaikh sudah memberi syafa'at kepadanya. Maka berdirilah pemuda tadi dan keluar melalui jendela rumahnya lalu terbang ke udara. Kemudian kedua Syaikh tadi kembali menghadap Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau dan keduanya menanyakan tentang hal ihwal pemuda tadi. Maka Kanjeng Syaikh menjelaskan bahwa pemuda yang terbang tadi sesungguh nya berkata dalam hatinya : Tidak ada di Baghdad ini, seorangpun yang bisa seperti saya, maka itulah saya lenyapkan kehebatannya, kalau bukan karena Syaikh Ali, kehebatannya tidak akan saya kembalikan.
وَمِنْ كَرَمَاتِهِ أَيْضًا : أَنَّ الشَّيْخَ أَبَا الْحَسَنِ الْمَعْرُوْفِ بِابْنِ الطَّنْطَنَةِ الْبَغْدَادِىِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالٰى _ قَالَ يَوْمَ وَفَاةِ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ وَنَوَّرَ ضَرِيْحَه۫ _ كُنْتُ أَشْتَغِلُ بِالْعِلْمِ وَأُكْثِرُ الشَّهَرَ أَتَرَقَّبُ حَاجَةً لَه۫ _ فَخَرَجَ لَيْلَةً مِنْ دَارِه۪ فِىْ صَفَرَ سَنَةَ ثَلَاثٍ وَخَمْسِيْنَ وَخَمْسِمِائَةٍ _ فَنَاوَلْتُه۫ إِبْرِيْقًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ وَقَصَدَ بَابَ الْمَدْرَسَةِ فَأَشَارَ إِلَيْهِ _ فَانْفَتَحَ وَخَرَجَ وَخَرَجْتُ خَلْفَه۫ وَأَنَا أَقُوْلُ فِىْ نَفْسِىْ : إِنَّه۫ لَا يَشْعُرُبِىْ ثُمَّ انْغَلَقَ _ ثُمَّ تَابَ الْمَدِيْنَةِ كَذٰلِكَ ثُمَّ مَشٰى غَيْرَ بَعِيْدٍ _ فَإِذَا نَحْنُ بِبَلْدَةٍ لَا أَعْرِفُهَا _ فَدَخَلَ مَكَانًا كَالرِّبَاطِ _ فَإِذاً فِيْهِ سِتَّةٌ مِنْ رِجَالٍ قُعُوْدٍ _ فَلَمَّا رَأَوُا الشَّيْخَ عَظَّمُوْهُ وَبَادَرُوْهُ بِالسَّلَامِ إِلَيْهِ _ وَاْلتَجَأْتُ إِلٰى سَارِيَةٍ فَسَمِعْتُ أَنِيْنًا مِنْ ذٰلِكَ الْمَكَانِ _ ثُمَّ بَعْدَ يَسِيْرٍ سَكَنَ ذٰلِكَ اْلأَنِيْنُ _ ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ إِلٰى تِلْكَ الْجِهَةِ الَّتِىْ فِيْهَا اْلأَنِيْنُ _ وَخَرَجَ يَحْمِلُ رَجُلًا مِنْ ذٰلِكَ الْجَانِبِ _ وَدَخَلَ شَخْصٌ مَكْشُوْفُ الرَّأْسِ _ طَوِيْلُ الشَّارِبِ _ فَوَقَفَ بَيْنَ يَدَىِ الشَّيْخِ فَأَخَذَ عَلَيْهِ الْعَهْدَ بِالشَّهَادَتَيْنِ _ وَقَصَّ رَأْسَه۫ وَشَارِبَه۫ وَاْلبَسَه۫ طَاقِيَةً وَسَمَّاهُ مُحَمَّدًا _ وَقَالَ لِلسِّتَّةِ : قَدْ أَمَرْتُ أَنْ يَكُوْنَ هٰذَا بَدَلًا عَنِ الْمَيِّتِ _ فَقَالُوْا سَمْعًا وَطَاعَةً _ ثُمَّ خَرَجَ وَتَرَكَهُمْ وَخَرَجْتُ مَعَه۫ _ وَمَشَيْنَا غَيْرِ بِعَيْدٍ _ وَإِذًا نَحْنُ عِنْدَ بَابِ بَغْدَادَ فَانْفَتَحَ كَأَوَّلِ مَرَّةٍ _ ثُمَّ أَتٰى بَابَ الْمَدْرَسَةِ كَذٰلِكَ فَدَخَلَ دَارَه۫ _ ثُمَّ فِى الْغَدِ جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَأُ فَمَنَعَتْنِىْ هَيْبَتُه۫ _ فَقَالَ : يآ بُنَىَّ إِقْرَأْ وَلَا عَلَيْكَ _ فَأَقْسَمْتُ عَلَيْهِ أَنْ يُبَيِّنَ لِىْ مَارَأَيْتُ بِاْلأَمْسِ _ فَقَالَ : أَمَّا اْلبَلَدُ فَنَهَاوَنْدُ _ وَأَمَّا السِّتَّةُ فَهُمُ اْلأَبْدَالُ النُّجَبآءُ _ وَأَمَّا صَاحِبُ اْلأَنِيْنِ فَسَابِعُهُمْ كَانَ مَرِيْضًا _ فَلَمَّا حَضَرَتْهُ اْلوَفَاةُ جِئْتُ أَحْضُرُ وَفَاتُه۫ _ وَأَمَّا الَّذِىْ حَمَلَه۫ عَلىٰ عَاتِـقِه۪ فَأَبُو اْلعَبَّاسِ الْخَضِرُ عَلَيْهِ السَّلَامُ _ أَخَذَه۫ لِيَتَوَلّٰى أَمْرُه۫ _ وَأَمَّا اَّلذِىْ أَخَذْتُ عَلَيْهِ اْلعَهْدَ فَنَصْرَانِىُّ مِنَ اْلقُسْطَنْطِيْنِيَّةِ _ أَمَرْتُ أَنْ يَكُوْنَ عِوَضًا عَنِ الْمُتَوَفّٰى وَهُوَ اْلآنَ مِنْهُمْ _ قَالَ أَبُوالْحَسَنِ _ وَأَخَذَ عَلَيَّ اْلعَهْدَ أَنْ لَا أُحَدِّثَ بِذٰلِكَ لِأَحَدٍ مَا دَامَ حَيًّا _ وَقَالَ إِحْذَرْ مِنْ إِفْشآءِ السِّرِّ فِىْ حَيَاتِىْ _
Dan dari karomahnya lagi, bahwa Syaikh Abal Hasan Al-Ma'ruf bin Thonthonah Al-Baghdadi semoga Allah ta'ala memberi rahmat kepadanya, berkata pada hari wafatnya Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), semoga Allah mensucikan rahasia-rahasianya dan memberi cahaya makamnya : Sewaktu saya belajar di pondok Kanjeng Syaikh, saya tidak pernah tidur malam dikarenakan sibuk memperhatikan keperluan Kanjeng Syaikh. Pernah pada suatu malam bulan Shafar 553 H, beliau kaluar dari rumahnya, sayapun menghaturkan sebuah kendi kepada beliau, tetapi tidak mau menerimanya dan menuju madrasah yang pintunya terkunci, lalu beliau menudingnya, tiba-tiba pintu tersebut membuka sendiri. Kanjeng Syaikh keluar dan saya membelakanginya dengan berkata dalam hati : Sungguh Kanjeng Syaikh tidak tahu kalau sedang saya ikuti dari belakang, kemudian pintu madrasah itu menutup sendiri. Kemudian beliau menuju ke pintu kota Baghdad, demikian juga pintu kota membuka sendiri setelah ditudingnya, tidak begitu beliau berjalan sampai di satu tempat yang belum saya kenal, maka beliau masuk ke suatu tempat yang terdapat sebuah bangunan menyerupai pondok. Tiba-tiba di dalamnya ada enam orang sedang duduk, setelah melihat Kanjeng Syaikh mereka berdiri mengucapkan salam penghormatan kapada beliau dan saya bersembunyi di belakang tiang pondok itu. Kemudian saya mendengar suara rintihan dari tempat tersebut, sesaat kemudian suara rintihan tadi sudah tidak terdengar lagi, kemudian masuk orang laki-laki ke tempat di mana terdengar rintihan tadi dan kemudian keluar lagi dengan membopong seorang laki-laki dari tempat tadi. Ketika itu juga datanglah seorang yang tidak memakai tutup kepala dan berkumis panjang dan berhenti di depan Kanjeng Syaikh yang kemudian diperintah untuk ikrar mengucapkan dua kalimat syahadat lalu dicukur rambut dan kumisnya serta disuruh mengenakan tutup kepala dan diberi nama Muhammad. Dan Kanjeng Syaikh berkata kepada enam orang tadi : Sungguh perintahkan agar Muhammad ini menjadi gantinya orang yang meninggal tadi. Maka enam orang tadi menjawab : Kami dengarkan dan akan kami laksanakan. Setelah itu beliau meninggalkan mereka dan sayapun mengikutinya secara diam-diam, tidak seberapa lama berjalan tiba-tiba sudah sampai kembali dipintu kota Baghdad, maka membukalah pintu itu sebagaimana tadi, lalu sampai pula ke pintu madrasah dan demikian juga, lalu beliau masuk ke rumahnya. Keesokan harinya saya menghadap Kanjeng Syaikh untuk menguji, setelah menghadap saya takut dengan sendirinya kerena kewibawaannya, sampai-sampai saya tidak bisa membaca kitab. Maka beliau berkata : Wahai anakku bacalah dan tidak apa-apa. Kemudian saya mengatakan dan bersumpah agar beliau berkenan untuk menjelaskan kejadian yang saya lihat semalam. Maka beliau menjelaskan : Tempat yang saya kunjungi itu namanya Nahaawandu, dan enam orang itu, mereka adalah wali abdal dan orang yang merintih dalam keadaan sakit itu adalah orang ketujuh dari mereka. Ketika sampai ajalnya, maka saya datang untuk ta'ziyah. Adapun orang yang membawa jenazahnya itu adalah Abul Abas dengan sebutan nabi Khidlir as, ia mengambilnya untuk dirawat yaitu dimandikan, dikafani dan di shalati serta dikuburkan. Dan yang saya ikrarkan mengucapkan dua kalimat syahadat itu adalah Nashroni dari negeri Qusthonthiniyah untuk saya jadikan ganti orang yang meninggal itu.
وَذَكَرَ الشَّيْخُ عَبْدِ اللهِ الْمُوْصِلِىُّ _ أَنَّ اْلإِمَامَ الْمُسْتَـنْجِدَ بِاللهِ أَبَا الْمُظَفَّرِ يُوْسُفَ جآءَ إِلَى الشَّيْخِ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَاسْتَوْصَاهُ _ وَوَضَعَ بَيْنَ يَدَيْهِ مَالًا فِىْ عَشْرَةِ أَكْيَاسٍ يُحْمِلُهَا عَشْرَةٌ مِنَ الْخُدَّامِ _ فَرَدَّهَا الشَّيْخُ فَأَبَا الْخَلِيْفَةُ إِلَّا أَنْ يَقْبَلَهَا وَأَلَحَّ عَلَى الشَّيْخِ _ فَأَخَذَ الشَّيْخُ كِيْسَيْنِ مِنْهَا فِىْ يَدَيْهِ _ وَهُمَا خَيْرُ اْلأَكْيَاسِ وَأَحْسَنُهَا وَعَصَرَهُمَا فَسَالَا دَمَا _ فَقَالَ الشَّيْخُ لِلْخَلِيْفَةِ أَمَّا تَسْتَحِىْ مِنَ اللهِ تَعَالٰى أَنْ تَأْخُذَ دَمَ النَّاسِ وَتُقَابِلَنِىْ بِه۪ _ فَقَالَ الشَّيْخُ : وَعِزَّةِ الْمَعْبُوْدِ _ لَوْلَاحُرْمَةُ اتِّصَالِه۪ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ _ لِتَرَكْتُ الدَّمَ يَجْرِىْ إِلٰى مَنْزِلِه۪ _
Syaikh Abdullah Al-Mushaliy bercerita : Sesungguhnya ada seorang raja yang adil terkenal dengan sedutan Al-Mustanjid billahi yaitu Abul Mudhoffar Yusuf datang menghadap Kanjeng Syaikh, semoga Allah mensucikan rahasia-rahasianya dan memberi kesejahteraan, dan mohon untuk dinasehati dengan membawa sepuluh kantong penuh berisi uang yang dibawa oleh sepuluh pembantunya untuk hadiah Kanjeng Syaikh, tetapi Kanjeng Syaikh menolaknya, maka raja itupun merasa kecewa dan mencemoohnya sambil memaksanya agar Kanjeng Syaikh sudi untuk menerimanya. Maka Kanjeng Syaikh mengambilnya dua kantong tadi, maka mengalirlah darah. Maka Kanjeng Syaikh berkata kepada raja : Apakah raja tidak malu kepada Allah ta'ala dengan memeras darahnya rakyat yang kemudian raja serahkan kepada saya dengan memaksanya? Seketika itu juga sang raja menjadi pingsan. Kanjeng Syaikh berkata : Demi Dzat Yang Maha Agung dan yang berhak disembah, seandainya saya tidak menghormati nasabnya yang bersambung dengan Rasulullah saw, pasti saya biarkan darah itu terus mengalir sampai di rumahnya.
قَالَ عَبْدُ اللهِ الْمَذْكُوْرِ : وَشَهِدْتُ الْخَلِيْفَةَ عِنْدَه۫ يَوْمًا _ فَقَالَ لِلشَّيْخِ : أُرِيْدُ شَيْأً مِنَ اْلكَرَامَاتِ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِىْ _ قَالَ : وَمَا تُرِيْدُ ؟ قَالَ تُفَّاحًا مِنَ اْلغَيْبِ وَلَمْ يَكُنْ أَوَّانُه۫ بِاْلعِرَاقِ _ فَمَدَّ الشَّيْخُ يَدَه۫ فِى الْهَوآءِ _ فَإِذًا فِيْهَا تُفَّاحَتَانِ _ فَنَاوَلَه۫ إِحْدَاهُمَا وَكَسَرَ الشَّيْخُ الَّتِىْ فِىْ يَدَه۪ فَإِذًا هِيَ بَيْضآءُ تَفُوْحُ مِنْهَا رَائِحَةُ الْمِسْكِ _ وَكَسَرَ الْخَلِيْفَةُ اْلأُخْرٰى فَإِذًا فِيْهَا دُوْدَةٌ _ فَقَالَ : مَاهٰذِه۪ وَاَّلتِىْ بِيَدِكَ كَمَا تَرٰى _ أَوْ قَالَ : كَمَا أَرٰى _ قَالَ الشَّيْخُ : يَا أَباَ الْمُظَفَّرِ _ هٰذِه۪ لَمَسَتْهَا يَدُ الظَّالِمِ فَدَوَّدَتْ كَمَا تَرٰى _ وَهٰذِه۪ لَمَسَتْهَا يَدُ الْوِلَايَةِ فَطَابَتْ _ وَقَدْ تَقَدَّمَتْ قِصَّةُ التُّفَّحِ الَّذِىْ جآءَ بِهِ الْخَلِيْفَةُ لِلشَّيْخِ _
Syaikh Abdullah Al-Mushaliy menceritakan lagi : Pada suatu hari saya menyaksikan raja Abul Mudhoffar Yusuf berada di depan Kanjeng Syaikh, maka mengatakan kepada beliau : Saya ingin melihat sesuatu dari kekaromahan untuk menenangkan hati saya. Kanjeng Syaikh bertanya : Apa yang engkau kehendaki? Jawab sang raja : Saya menginginkan buah apel dari alam ghoib. Padahal di Iraq waktu itu tidak ada musim apel. Maka Kanjeng Syaikh menjulurkan tangannya ke udara, tiba-tiba di tangannya ada dua buah apel, maka yang satu diberikan kepada raja dan satunya lagi dipegang. Kemudian Kanjeng Syaikh memecah apel yang di tangannya, maka tiba-tiba apel itu warnanya putih bersih, harum baunya bagaikan kasturi. Dan raja itupuin juga memecah apel yang di tangannya, maka tiba-tiba apel itu penuh dengan ulat. Maka raja itu berkata : Kenapa begini sedangkan apel yang di tangan Syaikh baik sekali. Kanjeng Syaikh berkata : Wahai Abul Mudhoffar, apel ini di tangan orang lalim maka akan mengeluarkan ulat sebagaimana kau lihat, sedang apel ini berada di tangan kekasihnya Allah, maka menjadi harum baunya dan nikmat. Dan cerita apel ini sudah pada kisah di muka yang dibawa oleh raja diaturkan kepada Kanjeng Syaikh.
وَكَرَمَاتُه۫ أَكْثَرُ مِنْ أَنْتُحْصٰى وَأَعْظَمُ من أَنْ تُسْتَقْصٰى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَعَنَّا بِرِضآئِه۪ الرَّفِيْعِ _ وَأَمِدَّنَا بِمَدَدِهِ اْلوَسِيْعِ _
Dan kekaromahan beliau masih lenih banyak dari yang sudah diterangkan dan lebih agung lagi sampai-sampai tidak bisa diterangkan. Semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau dan atas kita berkah keridlohan-Nya dan pertolongan kita atas pertolongan-Nya Yang Maha Luas.
اللهم انْشُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ
وَأَمِدَّنَا بِلْأَسْرَارِ الَّتِىْ أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلَ : وَهُوَمِنْ بَابِ التَّحَدُّثِ بِالنِّعْمَةِ _ لِقَوْلِه۪ تَعَالٰى : وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ _
Adalah Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, telah berkata, bahwa beliau melahirkan rasa syukur atas kenikmatan yang diberikan kepadanya, karena firman Allah ta'ala : Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut- nyebutnya
مَا مَرَّ مُسْلِمٌ عَلىٰ بَابِ مَدْرَسَتِىْ إِلَّا خَفَّفَ اللهُ عَنْهُ اْلعَذَابَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ _ وَأُخْبِرَ أَنَّ شَخْصًا يَصِيْحُ فِىْ قَبْرِه۪ فَمَضٰى إِلَيْهِ _ وَقَالَ إِنَّ هٰذَا زَارَنِىْ مَرَّةً وَلَا بُدَّ أَنْ يَرْحَمَهُ اللهُ تَعَالٰى_ فَلَمْ يَسْمَعْ لَه۫ بَعْدَ ذٰلِكَ صُرَاخٌ _
Tiada seorang muslim yang melewati pintu madarasahku, melainkan Allah akan meringankan siksa yang menimpa padanya dihari kiamat. Dan diberitakan bahwa sesungguhnya ada seorang yang menjerit-jerit dalam kuburnya, maka Kanjeng Syaikh mendatangi kubur itu dan berkata : Sesungguhnya orang ini pernah mengunjungi saya sekali, maka semestinya Allah mengasihinya. Maka sejak itu tidak lagi terdengar suara menjerit-jerit dari dalam kubur tadi.
وَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : عَشَرَ حُسَيْنُ الْحَلَّاجُ عَشْرَةَ فَلَمْ يَكُنْ فِىْ زَمَنِه۪ مَنْ يَأْخُذُ بِيَدِه۪ _ وَلَوْ كُنْتُ فِىْ زَمَنِه۪ لَأَخَذْتُ بِيَدِه۪ _ وَأَنَا لِكُلِّ مَنْ َعَشَر مَرْكُوْبُه۫ مِنْ جَمِيْعِ أَصْحَابِىْ وَمُرِيْدِىْ وَمُحِبِّىْ إِلٰى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ _ آخُذُ بِيَدِه۪ كُلَّمَا عَشَرَ حَيًّا وَمَيِّتًا _ فَإِنَّ فَرَسِىْ مُسْرَجٌ _ وَرُمْحِيْ مَنْصُوْبٌ _ وَسَيْفِيْ مَشْهُوْرٌ _ وَقَوْسِيْ مَوْتُوْرٌ _ لِحِفْظِ مُرِيْدِىْ وَهُوَ غَافِلٌ_
Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, berkata : Syaikh Husain Al-Halaj pernah terpeleset satu kali dalam menjalankan kewaliannya, hanya saja waktu itu tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya, seandainya saya hidup pada zamannya, pasti saya akan menolongnya, karena saya akan menolong orang-orang yang terpeleset dari sahabat-sahabatku, murid-muridku dan orang-orang yang cinta kepadaku sampai hari kiamat, saya gandeng tangannya, baik mereka masih hidup maupun setelah mati. Disebabkan karena kudaku sudah terpasang pelananya dan tombakku sudah tertancapkan dan pedangku sudah terhunus dan anak panahku sudah terpasang busurnya untuk menjaga santriku yang sedang lupa.
وَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَا نَارُ اللهِ الْمُوْقَدَةُ _ أَنَا سَلَّابُ الْأَحْوَالِ _ أَنَا بَحْرٌ بِلَا سَاحِلٍ _ أَنَا الْمَحْفُوْظُ _ أَنَا الْمَلْحُوْظُ _ يآ صُوَّامُ يآ قُوَّامُ _ يآ أَهْلَ الْجِبَالِ دُكَّتْ جِبَالُكُمْ _ يآ أَهْلَ الصَّوَامِعِ هُدِّمَتْ صَوَامِعُكُمْ _ أَقْبِلُوْا إِلٰى أُمُوْرِ اللهِ _ يآ رِجَالُ يآ أَبْطَالُ _ يآ أَطْفَالُ _ هَلُمُّوْا إِلَيَّ وَخُذُوْا عَنِ اْلبَحْرِ الَّذِىْ لَا سَاحِلَ لَه۫ _ يآ عَزِيْزُ أَنْتَ وَاحِدٌ فِى السَّمآءِ _ وَأَناَ وَاحِدٌ فِى اْلأَرْضِ _ يُقَالُ لِيْ بَيْنَ الَّليْلِ وَالنَّهَارِ سَبْعِيْنَ مَرَّةً _ وَأَنَا اخْتَرْتُكَ لِنَفْسِيْ _ وَيُقَالُ لِيْ أَيْضًا سَبْعِيْنَ مَرَّةً _ وَلِتُصْنَعَ عَلىٰ عَيْنِيْ _ وَعِزَّةِ رَبِّيْ إِنَّ السُّعَدآءَ وَاْلأَشْقِيآءَ يُعْرَضُوْنَ عَلَيَّ _ وَيُوْقَفُوْنَ لَدَيَّ _ وَإِنَّ نُوْرَ عَيْنِيْ فِى الَّلوْحِ الْمَحْفُوْظِ مُقِيْمٌ _ أَنَا غَائِصٌ فِىْ بَحْرِ عِلْمِ الْقَدِيْمِ _ أَنَا حُجَّةُ اللهِ عَلَيْكُمْ يَوْمَ اْلعَرْضِ _ أَنَا نَائِبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَارِثُه۫ _ يُقَالُ يآ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) تَكَلَّمْ يُسْمَعْ مِنْكَ _ قَالَ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) وَللهِ مَا شَرِبْتُ حَتّٰى قِيْلَ لِيْ يآ عَبْدِ اْلقَادِرِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (اَلْفَاتِحَةُ) بِحَقِّيْ عَلَيْكَ إِشْرَبْ _ وَمَا أَكَلْتُ حَتّٰى قِيْلَ لِيْ بِحَقِّيْ عَلَيْكَ كُلْ _ وَأَمَنْتُكَ مِنَ الرَّدٰى _ تَجِيْءُ السَّنَةُ تُسَلِّمُ عَلَيَّ وَتُخْبِرُنِيْ بِمَا يَجْرِيْ فِيْهَا _ وَكَذَا الشَّهْرُ _ وَكَذَا اْلأُسْبُوْعُ _ وَكَذَا اْليَوْمَ _ وَقَالض مَرَّةً عَلَى اْلكُرْسِيِّ : إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ تَعَالٰى فَاسْأَلُوْهُ بِيْ _
Dan Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, berkata lagi : Saya ini ibarat apinya Allah yang telah dinyalakan. Saya ini Waliyullah yang akan merobek setiap orang yang tidak punya sopan santun kepadaku dan saya diberi ilmu bagaikan lautan yang tidak bertepi, saya ini dijaga oleh Allah, saya waliyullah yang diperhati kan. Wahai orang-orang yang berpuasa disiang hari, wahai yang ber tahajjud dimalam harinya, wahai orang-orang yang tinggal digunung yang sudah dibinasakan gunung-gunugnya, wahai orang-orang ahli gereja yang sudah dirobohkan gereja-gerejanya, menghadaplah kalian untuk taat melaksanakan perintah-perintah Allah, wahai wali rijal, wahai wali abthol, wahai wali athfal, kemarilah kalian kepadaku, ambillah ilmu dari waliyullah yang bagikan lautan yang tiada bertepi.Wahai Tuhan Yang Maha Agung, Engkaulah satu-satunya yang menguasai mahluk di langit dan bumi, dan saya orang yang menyatukan hatiku hanya musyahadah kepada-MU di bumi. Dikatakan kepadaku antara siang dan malam tujuh puluh kali : Aku (Allah) memilihmu dengan Dzat-Ku. Dan diucapkan lagi kepadaku tujuh puluh kali : Kamu dijadikan atas pemeliharaan-Ku. Demi keagungan Tukanku, bahwa orang-orang yang beruntung dan celaka diperlihatkan kepadaku dan diberhentikan dihadapanku dan sungguh nur mataku ada yang tinggal di lauhil mahfudh, saya adalah waliyullah yang bisa melihat kejadian yang telah lalu, saya waliyullah yang besok hari kiyamat dijadikan hujjatullah untuk kamu sekalian, saya sebagai pengganti dan pewaris Rasulullah saw, dikatakan kepadaku : Wahai Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), bicaralah, maka dari ucapanmu akan didengar/diterima. Kanjeng Syaikh Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), barkataa : Demi Allah saya tidak akan minum sehingga dikatakan kepadaku : Wahai Abdul Qodir, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, (Al-Faatihah), dengan hak-Ku untukmu silahkan minum. Serta tidak makan sehingga diucapkan kepadaku : Dengan hak-Ku untukmu silahkan makan dan Saya telah selamatkan kamu dari segala yang merusak. Masa tahun, bulan, seminggu dan hari, semuanya memberi salam kepadaku serta memberitakan kejadian-kejadian pada waktu-waktu tersebut. Pada suatu ketika beliau berada di atas kursinya dan berkata : Apabila kamu minta kepada Allah, maka mintalah dengan tawasul kepadaku.
وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَسْمَرَ الَّلوْنِ _ مَقْرُوْنَ الْحاجِبَيْنِ _ عَرِيْضَ الِّلحْيَةِ طَوِيْلَهَا _ عَرِيْضَ الصَّدْرِ _ نَحِيْفَ اْلبَدَنِ _ رَبْعَ اْلقَامَةِ _ جَوْهَرِيَّ الصَّوْتِ _ بَهِيَ الصَّوْتِ _ سَرِيْعَ الدَّمْعَةِ _ شَدِيْدَ الْخَشْيَةِ _ كَثِيْرَ الْهَيْبَةِ _ مُجَابَ الدَّعْوَةِ _ كَرِيْمَ اْلأَخْلَاقِ _ طَيِّبَ اْلأَعْرَاقِ _ أَبْعَدَ النَّاسِ عَنِ اْلفُحْشِ وَأَقْرَبَهُمْ إِلَى الْحَقِّ _ شَدِيْدَ اْلبَأْسِ _ إِذَا انْتُهِكَ مَحَارِمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ _ لَا يَغْضَبُ لِنَفْسِه۪ _ وَلَا يَنْصُرُ لِغَيْرِ رَبِّه۪ _ وَلَا يَرُدُّ سآئِلًا وَلَوْ بِأَحَدِ ثَوْبَيْهِ _ وَكَانَ التَّوْفِيْقُ رَائِدَه۫ _ وَالتَّأْيِـيْدُ مُعَارِضَه۫ _ وَاْلعِلْمُ مُهَذِّبَه۫ _ وَاْلقُرْبُ مُؤَيِّدَه۫ _ وَالْمُحَاضَرَةُ كَنْزَه۫ _ وَالْمَعْرِفَةُ حِرْزَه۫ _ وَالْخِطَابُ مَسِيْرَه۫ _ وَالَّلحْظُ سَفِيْرَه۫ _ وَاْلأُنْسُ نَدِيْمَه۫ _ وَاْلبَسْطُ نَسِيْمَه۫ _ وَالصِّدْقُ رَايَتَه۫ _ وَاْلفَتْحُ بِضَاعَتَه۫ _ وَاْلعِلْمُ ضَيْعَتَه۫ _ وَالذِّكْرُ سَمِيْرَه۫ _ وَالْمُكَاشَفَةُ غِذآءَه۫ _ وَالْمُشَاهَدَةُ شِفآءَه۫ _ وآدَابُ الشَّرِيْعَةِ ظَاهِرَه۫ _ وَأَوْصَافَ الْحَقِيْقَةِ سَرآئِرَه۫ _ قَدَمُهُ التَّفْوِيْضُ وَالْمُوَافَقَةُ _ مَعَ التَّبَرِّىْ مِنَ الْحَوْلِ وَاْلقُوَّةِ _ وَطَرِيْقُه۫ تَجْرِيْدُ التَّوْخِيْدِ _ وَتَوْحِيْدُ التَّفْرِيْدِ _ مَعَ الْحُضُوْرِ فِىْ مَوْقِفِ اْلعُبُوْدِيَّةِ _ بَشَرٌ قَائِمٌ فِىْ مَوْقِفِ اْلعَبْدِيَّةِ _ لَابِشَيْءٍ وَلَالِشَيْءٍ _ وَكَانَتْ عُبُوْدِيَّتُه۫ مُسْتَمَدَّةً مِنْ مَحْضِ كَمَالِ الرُّبُوْبِيَّةِ _ فَهُوَ عَبْدٌ سَمَا عَنْ مُصَاحَبَةِ التَّفْرِقَةِ إِلٰى مُرَافَقَةِ الْجَمْعِ مَعَ لُزُوْمِ أَحْكَامِ الشَّرِيْعَةِ _ وَفَضآئِلُه۫ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَثِيْرَةٌ _ وَأَحْوَالُه۫ أَظْهَرُ مِنْ شَمْسِ الظَّهِيْرَةِ _ وَكَانَتْ وَفَاتُه۫ دَامَتْ عَلَيْنَا بَرَكَاتُه۫ فِى اْليَوْمِ الْحَدِىْ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الثَّانِىْ سَنَةَ إِحْدٰى وَسِتِّيْنَ وَخَمْسِمِائَةٍ _ وَعُمْرُه۫ إِحْدٰى وَتِسْعِيْنَ سَنَةً _ وَدُفِنَ بِبَغْدَادَ _ وَقَبْرُه۫ ظَاهِرٌ يُزَارُ _ وَيُقْصَدُ مِنْ سآئِرِ اْلأَقْطَارِ _ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِه۪ أَجْمَعِيْنَ _ اَللهم آمِيْنَ اَللهم آمِيْنَ _
Adalah Kanjeng Syaikh ra warna kulitnya sawu matang, kedua alisnya bertemu, jenggotnya lebat dan panjang, dadanya bidang, badan nya ramping, tingginya sedang, suaranya nyaring, dan merdu, mudah menetes air matanya, sangat takut kepada Allah ta'ala, besar kewibawaan nya, do'anya mustajabah, luhur budi pekertinya, keatas maupun kebawah keturunannya baik, paling jauh-jauhnya manusia dari perbuatan jahat, dan sedekat dekatnya manusia kepada perbuatan yang benar, sangat dimurkanya bila mengetahui larangan Allah diterjang, tidak marah karena hanya menuruti hawa nafsunya, tidak mau menolong karena selain Allah, tidak pernah menolak orang minta-minta walaupun salah satu bajunya yang diminta, pertolongan Allah yang menjadi dasar pokok hidupnya. Semua thoriqnya dikuatkan oleh Allah, ilmunya menjadi pembersih kotoran, pendekatannya kepada Allah menguatkan kewaliannya, ingat kepada Allah dengan hudlur yang menjadi gudang nya, ma'rifatnya kepada Allah menjadi bentengnya, munajatnya kepada Allah menjadi amal perbuatannya, kewaspadaannya sebagai peng-hubung dirinya kepada Allah, mesra kepada Allah menjadi kawan berbincangnya, lapang dada menjadi kecintaannya, kebenaran menjadi lambang hidupnya, terbukanya hati menjadi bekalnya, sifat penyantun menjadi wataknya, dzikir kepada Allah menjadi ucapannya, persaksian nya kepada Allah menjadi obat, peraturan agama menjadi jembatan nya, semua sifat-sifat ilmu hakikat menjadi kepribadiannya, menyerah dan puas akan ketentuan Allah, dengan menyadari tidak ada daya dan kekuatan kecuali pertolongan dari Allah, thoriqohnya menurut tauhid, meyakinkan ke Esaan Allah, dzikir dengan hati yang hudlur pada waktu bertandang ibadah kepada Allah, beliau adalah seorang yang sangat menyadari akan kejadiannya sebagai hamba Allah, dengan secara rutin beribadah kepada Allah, bukan untuk sesuatu dan tidak karena sesuatu, tetapi ibadahnya ikhlas karena sebagai hamba yang setia kepada sifat-sifat kesempurnaan Allah dan beliau adalah hamba Allah yang agung, yang selalu menyatu jiwanya dengan Allah waktu berdzikir dan disertai menepati terhadap hukum-hukum Allah. Keistimewaan-keistimewaan Kanjeng Syaikh, semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, masih banyak lagi, perilaku utamanya namapak jelas, bahkan lebih terang dari matahari diwaktu duhur. Beliau wafat pada hari jum'at tanggal sebelas, Rabi'ul akhir 571 H. Umurnya sembilan puluh satu tahun. Makamnya dikampung Bebul Aroj, Baghdad dan banyak dikunjungi orang dari berbagai manca negara. Semoga Allah mecurahkan keridlohan kepada beliau, dan memberikan kemanfa'atan kepada kita semua sebab beliau, ya Allah kabulkan, ya Allah kabulkan.
اللهم انْشُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ
وَأَمِدَّنَا بِلْأَسْرَارِ الَّتِىْ أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ
Ya Allah, Hamparkanlah bau harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh, dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kanjeng Syaikh.
وَحَيْثُ انْتَهٰى مآ أَرَدْنَا وَتَمَّ مَا اهْتَمَمْنَا بِه۪ وَقَصَدْنَاهُ فَلْنَرْفَعْ إِلَى اللهِ تَعَالٰى أَكُفَّ اْلإِبْتِهَالِ _ وَنَتَوَسَّلَ بِه۪ وَبِنَتآئِجِه۪ أَرْبَابِ اْلأَذْوَاقِ وَاْلأَحْوَالِ _ فَنَقُوْلُ :
Dan setelah sampai apa yang menjadi keinginan kami dan telah sempurna apa yang menjadi tujuan kami, dengan sopan dan rendah hati, kita angkat tangan kita kehadapan Allah ta'ala dengan berwasilah kepada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani serta keturunannya yang memiliki pribadi mulia dan perilaku terhormat, maka kita berdoa :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ _ اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنْفَاسِ هٰذَا اْلعَارِفِ اْلأَكْبَرِ _ وَالسِّرِّ اْلأَطْهَارِ _ اَلْوَارِثِ الْمُحَمَّدِيّ _ صَاحِبِ اْلإِدْلَالِ عَلَى اْلبِسَاطِ اْلعِنْدِيْ _ وَبِالسَّالِكِيْنَ عَلىٰ مِنْهَاجِهِ اْلأَنْوَارِ _ وَالْمُغْتَرِفِيْنَ مِنْ مَنْهَلِ مَعَارِفِهِ اْلأَعْذَبِ اْلأَزْخَرِ _ أَنْ تُمِدَّنَا بِطِيْبِ أَنْفَاسِهِمْ _ وَتُدْنِيَ لَنَا مِنْ ثِمَارِ غِرَاسِهِمْ _ يآ أَيَّتُهَا اْلأَرْوَاحُ الْمُقَدَّسَةُ _ يآ خَتْمُ _ يآ قُطْبُ _ يآ إِمَامَانُ_ يآ أَوْتَادُ _ يآ أَبْدَالُ _ يآ رُقَبآءُ _ يآ نُجَبآءُ _ يآ نُقَبآءُ _ يآ أَهْلَ اْلغِيْرَةِ _ يآ أَهْلَ اْلأَخْلَاقِ _ يآ أَهْلَ السَلَامَةِ _ يآ أَهْلَ اْلعِلْمِ _ يآ أَهْلَ اْلبَسْطِ_ يآ أَهْلَ الْجِنَانِ وَاْلعَطْفِ _ يآ أَهْلَ الضِّيْفَانِ _ يآ أَيُّهَا الشَّخْصُ الْجَامِعُ _ يآ أَهْلَ اْلأَنْفَاسِ _ يآ أَهْلَ اْلغَيْبِ مِنْكُمْ وَالشَّهَادَةِ _ يآ أَهْلَ اْلقُوَّةِ وِاْلعَزْمِ _ يآ أَهْلَ الْهَيْبَةِ وِالْجَلَالِ _ يآ أَهْلَ اْلفَتْحِ _ يآ أَهْلَ مَعَارِجِ اْلعُلىٰ _ يآ أَهْلَ النَّفْسِ _ يآ أَهْلَ اْلإِمْدَادِ _ يآ أَهْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ _ يآ قُطْبَ الْقَاهِرِ_ يآ قُطْبَ الرَّقآئِقِ _ يآ قُطْبَ سَقِيْطِ الرَّفْرَفِ ابْنِ سَاقِطِ اْلعَرْشِ _ يآ أَهْلَ اْلغِنٰى بِاللهِ _ يآ قُطْبَ الْخَشْيَةِ _ يآ أَهْلَ عَيْنِ التَّحْكِيْمِ وَالزَّوآئِدِ _ يآ أَهْلَ اِلبُدَلآءِ _ يآ أَهْلَ الْجِهَاتِ السِّتِّ _ يآ مُلَامَتِيَّةُ _ يآ فُقَرآءُ _ يآ صُوْفِيَّةُ _ يآ عُبَّادُ _ يآ زُهَّادُ _ يآ رِجَالَ الْمَاءِ _ يآ أَفْرَادُ _ يآ أُمَنآءُ _ يآ قُرّآءُ _ يآ أَحْبَابُ _ يآ أَجِلَّاءُ _ يآ مُحَدِّثُوْنَ _ يآ سُمَرآءُ _ يآ وَرَثَةَ الظَّالِمِ لِنَفْسِه۪ مِنْكُمْ _ وَالْمُقْتَصِدِ وَالسَّابِقِ بِالْخَيْرَاتِ _ أَيُّهَا اْلأَرْوَاحُ الطَّاهِرَةُ مِنْ رِجَالِ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ _ كُوْنُوْا عَوْنًا لَنَا فِىْ نَجَاحِ الطَّلَبَاتِ _ وَتَيْسِيْرِ الْمُرَادَاتِ _ وَإِنْهَاضِ اْلعَزَمَاتِ _ وَتَأْمِيْنِ الرَّوْعَاتِ _ وَسَتْرِ اْلعَوْرَاتِ _ وَقَضآءِ الدُّيُوْنِ _ وَتَحْقِيْقِ الظُّنُوْنِ _ وَإِزَالَةِ الْحُجُبِ اْلغَيَاهِبِ _ وَحُسْنِ الْخَوَاتِمِ وَاْلعَوَاقِبِ _ وَكَشْفِ اْلكُرُوْبِ _ وَغُفْرَانِ الذُّنُوْبِ _
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang, Ya Allah, sungguh kami mohon kepada-Mu dengan perantara nafas-nafas orang-orang yang ma'rifat dan agung yang mengetahui rahasia-rahasia suci, sebagai pewaris Nabi Muhammad saw, yang mempunyai kedudukan tinggi ada di hamparan di sisi Allah, dengan perantara orang-orang yang mengikuti jejak Kanjeng Syaikh yang lebih terang dan dengan perantara orang yang menimba air minum ma'rifat Kanjeng Syaikh yang lebih manis dan lebih agung airnya, untuk memberikan pertolongan-Mu kepada kami dengan perantaraan keharuman nafas orang-orang yang mengikutu jejak kanjeng Syaikh, dan dekatkanlah kami dengan buah-buahnya orang yang mengikuti jejak Kanjeng Syaikh. Wahai arwah yang disucikan, wahai wali-wali pemungkas, wahai wali kutub, wahai wali yang menjadui dua imam, wahai wali paku jagat, wahai wali abdal, wahai wali yang waspada akan firman-firman Allah, wahai wali yang dermawan, wahai wali yang mengetahui batinnya manusia, wahai wali pembela agama Allah, wahai wali yang mempunyai budi pekerti yang luhur, wahai wali penyelamat, wahai wali yang ber ilmu, wahai wali yang lapang dada, wahai wali yang ahli menjaga jiwanya dan pengasih, wahai wali yang ahli menghormat tamu, wahai wali yang ahli mengumpulkan ilmu syari'at, thoriqot, hakikat dan ma'rifat. Wahai wali yang ahli menjaga nafasnya dengan dzkir, wahai wali yag tidak kelihatan diantara kami dan yang kelihatan, wahai wali yang ahli meningkatkan ketaatan kepada Allah, wahai wali yang berwibawa dan memiliki keagungan, wahai wali yang yang terluka hatinya, wahai wali yang terus naik derajat luhurnya, wahai wali yang ahli memerangi nafsunya, wahai wali penolong, wahai waliyang ahli menerima ilham yang suaranya bagaikan bel, wahai wali yang menjadi paku jagat yang mengalahkan, wahai wali kutub yang hatinya lunak, wahai wali yang menerima firman dari rof-rof, putra wali yang menerima firman dari Arsy, wahai wali yang merasa cukup, wahai wali kutub penakut kepada Allah, wahai wali yang kuat keyakinannya denagn ilmu hikmah dan ma'rifatnya, wahai wali yang menjadi penggantinya Rasul, wahai wali yang menetap pada enam arah, wahai wali tang tidak menempakkan kebaikannya dan tidak memendam kejahatannya, wahai para wali yang mengharapkan rahmat Allah, wahai para wali yang bersih jiwanya, wahai para wali yang ahli ibadah, wahai parawali yang menjauhi dunia, wahai para wali yang berjalan di atas air, wahai para wali yang menyendiri, wahai para wali kepercayaan Allah, wahai para wali yang selalu membaca Al-Qur'an, wahai para wali yang menjadi kekasih Allah, wahai para wali yang tinggi pangkatnya, wahai para wali yang ahli hadits, wahai para wali yang ahli bangun malam bermunajat kepada Allah, wahai para wali yang mewarisi para wali yang selalu merasa dholim kepada dirinya serta menuju dan berlomba kepada kebaikan, wahai roh-roh yang suci dari golongan wali yang dapat melihat rahasia dan yang nyata. Semoga engkau semua para wali membantu kami untuk mendapat kan yang kami minta, memudahkan yang kami kehendaki, menyemangatkan tujuan kami, menyelamatkan dari perkara yang kami takutkan, menutup cacat-cacat kami, membayar semua hutang kami, menguatkan baik sangka kami, menghilangkan tabir-tabir yang menggelapkan, kebaikan pada akhirnya, melenyapkan segala kesedihan, dan pengampunan dosa-dosa kami.
عِبادَ اللهِ عِبَادَ اللهِ @ أَغِيْثُنَا لِأَجْلِ اللهِ
وَكُوْنُوْاعَوْنَنَا لِلهِ @ عَسٰى نَحْظٰى بِفَضْلِ اللهِ
Wahai hamba-hamba Allah, wahai hamba-hamba Allah @ Tolonglah kami karena Allah
Jadilah kalian penolong kami karena Allah @ Semoga tercapai hajat karena anugerah Allah
وَيَاأَقْطَابُ وَيَا أَنْجَابُ @ وَيَاسَادَاتُ وَيَا أَحْبَابُ
وَأَنْتُمْ يَا أُوْلِى اْلأَ لْبَابِ @ تَعَالَوْا وَانْصُرُوْا لِلهِ
Wahai Para wali kutub, wahai para wali yang dermawan @ wahai para sayyid dan habaib
Engkaulah yang memiliki akal sempurna @ kemarilah dan tolonglah karena Allah
سَأَلْنَاكُمْ سَأَلْنَاكُمْ @ وَلِلزُّلْفٰى رَجَوْنَكُمْ
وَفِيْ أَمْـرٍقَصَدْ نَاكُمْ @ فَشُدُّوْا عَزْمَكُمْ لِلهِ
Dengan perantaraan engkau kami memohon (2x) @ dengan mengharapkan do'amu kami dekat dengan Allah
Dengan maksud perantaraan Engkau, untuk tercapai urusan kami @ karenanya kokohkanlah tujuan kami karena Allah
.
فَيَارَبِّيْ بِسَادَاتِىْ @ تَحَقَّقْ لِيْ إِشَارَتِىْ
عَسٰى تَأْتِىْ بِشَارَتِىْ @ وَيَصْفُوْ وَقْـتُنَا لِلهِ
Wahai Tuhan kami, dengan perantaraan yang menjadi wali-wali @ kokohkanlah petunjuk-Mu kepada kami.
Semoga lekas datang kebahagiaan kami @ semoga waktu kami bersih untuk beribadah karena Allah
بِكَشْفِ الْحُجْبِ عَنْ عَيْنِىْ @ وَرَفْعِ اْلبَيْنِ مِنْ بَيْنِىْ
وَطَمْسِ اْلكَيْفِ وَاْلأَيْنِ @ بِنُوْرِالْوَجْهِ يَا اَللهُ
Dengan terbukanya tabir penutup mata kami @ dan hilangkan penghalang antara kami dan Allah
Dan terhapusnya keraguan, bagaimana dan dimana Allah @ dengan cahaya Dzat Engkau Ya Allah.
صَلَاةُ اللهِ مَوْلَنَا @ عَلىٰ مَنْ بِالْهُدٰى جَانَا
وَمَنْ بِاْلحَقِّ أَوْلَانَا @ شَفِيْعِ اْلخَلْقِ عِنْدَ اللهِ
WahaiTuhan kami, semoga kesejahteraan Allah @ dilimpahkan kepada orang yang datang dengan membawa petunjuk kepada kami.
Yaitu nabi Muhammad, yang memberikan islam sebagai agama kami @ dan memberi syafaat kepada para makhluk disisi Allah
اَللهم وَكَمَا أَحْضَرْتَبَا خَتْمَ كِتَابِكَ _ الَّذِىْ أَعْرَبْتَ فِيْهِ عَنْ شَرآئِعِ أَحْكَامِكَ _ وَوَحْيِكَ الَّذِىْ أَنْزَلْتَه۫ مُفَرِّقًا بَيْنَ حَلَالِكَ وَحَرَامِكَ _ وَنَدَبْتَنَا لِلتَّعَرُّضِ لِثَوَابِهِ الْجَسِيْمِ _ وَحَذَّرَتَنَا عَلىٰ لِسَانِ وَعِيْدَه۪ شَدِيْدَ عَذَابِكَ اِلأَلِيْمَ _ فَاجْعَلْنَا مِمَّنْ تَلِيْنُ قُلُوْبُهُمْ عِنْدَ سَمَاعِ آيَاتِه۪ _ وَيَدِيْنُ لَكَ بِإِمْتِثَالِ أَوَامِرِه۪ وَمَنْهِيَّاتِه۪ _ فَاجْعَلْهُ نُوْرًا نَسْعٰى بِه۪ إِلٰى عَرَصَاتِ اْلقِيَامَةِ _ وَسُلَّمًا نَعْرُجُ بِه۪ إِلٰى دَارِ الْمُقَامَةِ _
Ya Allah, sebagaimana Engkau datangkan kepada kami kitab-Mu yang menjelaskan tatanan hukum agama-Mu, Engkau turunkan wahyu-Mu yang untuk membedakan antara yang halal dan yang haram dan Engkau bangkitkan untuk menghadang pahala membaca kitab-Mu yang agung. Engkau telah menakutkan kami akan siksa-Mu yang amat pedih atas ancaman firman-Mu, semoga Engkau menjadikan kami dari golongan orang-orang yang lunak hati ketika mendengar ayat-ayat-Mu, tunduk kepada-Mu dengan mengikuti perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan kitab-Mu, maka jadikanlah kitab-Mu ini sebagai pelita perjalanan dengan nur sampai pada halaman-halaman hari kiyamat dan menjadi tangga untuk naik ke kampung kelanggengan.
اَللهم وَسَهِّلْ بِه۪ عَلَيْنَا كَرْبَ السِّيَاقِ إِذَا دَنَا مِنَّا الرَّحِيْلُ _ وَبَلَغَتِ الرُّوْحُ مِنَّا التَّرَاقِيْ _ وَتَجَلّٰىمَلَكُ الْمَوْتِ لِقَبْضِهَا مِنْ حُجُبِ اْلغُيُوْبِ _ وَقِيْلَ مَنْ رَاقٍ _ وَاْلتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقُ _ إِلٰى رَبِّكَ يَوْمَئِذِ نِ الْمَسَاقِ _ وَصَارَتِ اْلأَعْمَالُ قَلآئِدَ فِى اْلأَعْنَاقِ _
Ya Allah, dengan kitab-Mu ini, mudahkanlah kami dari kepedihan rasa mati ketika sudah dekat kepada kami saat pemberangkatan ke kampung baka' dan ketika roh kami sudah sampai di tenggorokan, dan malakul maut yang hendak mencabut nyawa sudah nampak dari tutup kesamaran, serta diucapkan : Siapakah yang dapat mengobati sakitnya mati, dan telah menyatu betis yang satu dengan lainnya, pada hari itu tempat sampai digiring kepada Tuhanmu, kemudian semua catatan amal dikalung kan di leher-leher mereka.
اَللهم لَا تَغُلَّ يَدًا إَلَى اْلأَعْنَاقِ أَكُفًّا تَضَرَّعَتْ إِلَيْكَ _ وَاعْتَمَدَتْ فِىْ صَلَوَاتِهَا عَلَيْكَ _ رَاكِعَةً وَسَاجِدَةً بَيْنَ يَدَيْكَ _ وَلَا تُقَيِّدْ بِأَنْكَالِ الْجَحِيْمِ أَقْدَامًا سَعَتْ إِلَيْكَ _ وَبَرَزَتْ مِنْ مَنَازِلِهَا إِلَى الْمَسَاجِدِ طَامِعَةً فِيْمَا لَدَيْكَ _ وَلَاتُصِمَّ أَسْمَاعًا تَلَذَّذَتْ بِحَلَاوَةْ تِلَاوَةِ كِتَابِكَ اْلكَرِيْمِ _ وَلَاتَطْمِسْ بِالْعَمٰى أَعْيُنًا بَكَتْ فِى ظُلَمِ الَّليَالِىْ خَوْفًا مِنْ عَذَابِكَ اْلأَلِيْمِ _
Ya Allah, janganlah Engkau mengikat tangan ke leher yaitu tapak-tapak tangan yang menadah kepada-Mu dengan penuh sopan dan menjadi kan berpegangan waktu mengerjakan shalat untuk-Mu dan ketika ruku' dan sujud kehadirat-Mu. Dan janganlah Engkau ikat dengan rantai neraka jahim kaki-kaki yang suka berjalan kepada-Mu dan keluar dari rumah-rumah menuju ke masjid-masjid karena sangat mengharapkan pahala yang ada pada-Mu, dan janganlah Engkau jadikan tuli pendengaran yang dapat merasa kan lezatnya dengan hiasan bacaan kitab-Mu yang mulya dan jangan Engkau menghapus dengan kebutaan mata-mata yang menangis dalam kegelapan malam karena takut dari siksa-Mu yang amat sangat.
اللهم صَلِّى وَسَلِّمْ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ شَفِيْعِ أَرْبَابِ الذُّنُوْبِ_ وَعَلىٰ آلِه۪ وَأَصْحَابِه۪ أَطِبّآءِ اْلقُلُوْبِ _ وَعَلىٰ أُمَّتِهِ الَّذِيْنَ كَشَفْتَ لَهُمْ كُلَّ مَحْجُوْبٍ _ وَأَنَلْتَهُمْ كُلَّ مَحْبُوْبٍ _ مَاهَبَّتِ النَّفَحَاتُ السَّحَرِيَّةُ_ وَتَعَطَّرَتِ الْمَجَالِسُ بِعَرْفِ أَخْبَارِ اْلأَخْيَارِ الزَّكِيَّةِ الْمِسْكِيَّةِ _ آمِيْنَ اَللهم آمِيْنَ _
Ya Allah semoga Engkau tetapkan rahmat dan keselamatan-Mu untuk junjungan kami Nabi Muhammad yang memberikan syafa'atnya kepada orang-orang yang mempunyai dosa-dosa, dan juga untuk keluarganya serta para sahabatnya yang menjadi pengobat hati dan juga untuk umatnya yang telah Engkau bukakan bagi mereka semua penutup hati dan telah Engkau perkenankan semua yang mereka suakai selagi masih berhembus angin kasturi di waktu sahur dan masih menyebar bau harum dalam majlis yang dibacakan manaqib/riwayat orang-orang terpilih lagi suci hatinya bagaikan misik. kabulkanlah ya Allah kabulkanlah.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ _ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ _ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ _
Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai sifat menang dari segala perkara yang disifatkan oleh orang-orang kafir, dan semoga keselamatan ditetapkan kepada semua utusan Allah. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.
Langganan:
Komentar (Atom)
